BPJN XVII Manokwari Garap Bertahap Alih Trase Gunung Pasir

23 Nov 2018 14:31 Timur Indonesia

Sudah digarap sejak 1998, ruas Arfu-Kebar yang masuk Trans Papua Segmen I di Gunung Pasir, baru tembus beberapa tahun lalu. Namun khusus di Gunung Pasir, mulai 2016 ada pembuatan jalan alih trase sepanjang 10 kilometer.

Perbaikan alinyemen oleh Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) XVII Manokwari ini, dilakukan karena jalur lama grade atau tingkat kelandaiannya masih di atas 20 persen. Jauh dari standar jalan nasional yang maksimal 12 persen.

“Kenapa perlu dibangun lagi jalan untuk alih trase Gunung Pasir? Sebab beberapa titik rawan di jalan exciting yang tidak sanggup untuk ditangani. Selain itu perlu pendanaan yang cukup besar ditambah jika dengan pemeliharaan rutin jalan. Maka dengan koordinasi panjang oleh pihak-pihak terkait, diusulkan pemanfaatan jalan untuk dialih trase. Tentunya dengan biaya yang lebih efisien dan efektif,” terang Nanti H Lumban Tobing ST, PPK.1.04 Satuan Kerja PJN Wilayah 1 Manokwari selaku pejabat yang berwenang atas kelancaran proyek di ruas jalan ini, ketika meninjau pengerjaan, Jumat 23 November.

Namun tidak berarti pengerjaan jalan alih trase ini berjalan mulus. Rimba belantara yang belum terjamah sudah menjadi kendala tersendiri. Karena itu, Nanti mengaku memang untuk tata pelaksanaan dan pengerjaan alih trase masih ada beberapa kendala.

“Tetapi hambatan itu bisa ditepis dengan semangat untuk melayani masyarakat agar terwujudnya keadilan sosial, kami kerjakan hingga tuntas dan dapat fungsional,” sambungnya.

“Jalan alih trase ini sesuai peta udara yang dibuat, memang lebih panjang 4 kilometer dari jalan lama. Namun gradenya lebih kecil. Sehingga ketika fungsional, masyarakat pengguna jalan tidak lagi khawatir dengan tanjakan atau turunan ekstrim,” terangnya.

Bahkan dua tahun sejak dimulai pada 2016, pembuatan alih trase sudah tembus di existing jalan lama. Ini lebih cepat dari target yang awalnya diperkirakan baru masuk tahun ketiga bisa tersambung.

Pengguna jalan yang akan ke Kebar atau kampung-kampung transmigran ke arah Manokwari, seperti mendapat anugerah dengan tembusnya jalan alihtrase Gunung Pasir.

“Sebenarnya sudah kita larang karena masih dalam penanganan. Tetapi masih ada saja masyarakat yang lewat alihtrase dari pada jalan lama. Mungkin karena karena gradenya tidak begitu besar,” beber Nanti.

Larangan itu terkait dengan proses pengaspalan yang masih berjalan. Dikhawatirkan, selain rawan longsor beban kendaraan masyarakat akan merusak lapisan aspal sebelum benar-benar lengket dengan ruas jalan. Pengaspalan terbagi dalam beberapa paket.

Tahun ini, targetnya sepanjang 4 KM. Hingga pekan ketiga November 2018, jalan yang sudah diaspal masing-masing 400 meter dari sisi Distrik Arfu dan 1,6 Km sisi Distrik Kebar yang mengarah ke Sorong.

Selain hambatan alam sesuai namanya yang banyak mengandung pasir, juga keterbatasan peralatan, anggaran dan non teknis. “Ketika sudah terbuka, baru diketahui banyak mata air yang bermunculan ketika musim hujan. Ini harus segera diatasi sebab bisa merusak jalan baru. Selain itu, untuk mempercepat pembangunan alih trase juga harus ditunjang anggaran besar agar hasilnya bisa maksimal untuk kepentingan masyarakat Papua,” terang Nanti menjelaskan hambatan-hambatan yang lazim dalam pembuatan proyek jalan baru di Papua.

Secara geografis, Gunung Pasir memang sulit menyimpan cadangan air melimpah kendati dipenuhi pohon-pohon besar. Kemungkinan, kelebihan air selama musim penghujan mengalir ke sungai Kali Kasi yang mengalir cukup deras di bawahnya.

Hal ini diperkuat dengan selalu berubahnya aliran air ketika memasuki musim penghujan di kawasan hulu yang masyarakat setempat menyebutnya dengan istilah kali berpindah.(gem)

Penulis : Moch. Amir


Bagikan artikel ini