Identifikasi Misteri 3 Perahu Baja Terkuak, Ini Hasilnya

10 Oct 2019 22:50 Jawa Timur

Tim Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Timur melakukan identifikasi terkait penemuan tiga perahu baja oleh seorang warga di sungai Bengawan Solo di wilayah desa Mertani, Kecamatan Karanggeneng, Lamongan.

Menurut Arkeolog BPCB Jatim, Wicaksono Dwi Nugroho, dalam proses identifikasi awal tersebut, Tim BPCB Jatim melakukan tahap pengukuran, serta melihat bagian-bagian perahu secara detail.

"Kita berhasil mengidentifikasi tiga kapal yang terbuat dari bahan baja. Secara keseluruhan berbentuk menyerupai segitiga atau buritan berbentuk lurus atau rata, sedangkan bagian depan meruncing. Ukurannya, kalau belakang itu 1,5 meter, ketinggiannya sekitar 75 cm," katanya, Kamis, 10 Oktober 2019.

Dalam proses identifikasi itu, Tim BPCB Jatim juga menemukan adanya beberapa lubang di badan perahu, saat melakukan pengecekan lebih dalam terkait bangkai tiga perahu baja tersebut.

"Mungkin lubang itu bekas terkena senjata, diameter lubangnya ada yang 20 cm dan ada yang 15 cm di bagian buritan, dan ada juga yang di bagian dasar dari kapal," katanya.

BPCB Jatim memastikan, bahwa perahu tersebut perlu diangkat ke permukaan, karena mengandung unsur nilai-nilai kesejarahan yang tinggi.

Wicaksono menambahkan, dari analisa awal yang telah dilakukan, diketahui tiga perahu baja tersebut semacam sekoci. 

Karena, berdasarkan ciri-ciri lain yang ditemukan ada indikasi bahwa tiga perahu tersebut merupakan alat angkut yang digunakan pada masa kolonial saat pertempuran sebelum kemerdekaan.

"Kelihatannya ini kapal penumpang, bukan untuk barang. Karena di bagian sisi dalam dinding kapal, kita menemukan pipa yang diduga itu sebagai pegangan. Mungkin untuk mobilisasi tentara saat pertempuran pada zaman kolonial," katanya.

Seperti diketahui sebelumnya, seorang warga Desa Mertani, Kecamatan Karanggeneng, Lamongan secara tidak sengaja menemukan tiga perahu baja sekaligus, yang ternyata merupakan sisa pertempuran peninggalan zaman kolonial Belanda.

Penulis : Nasih Farihuddin
Editor : Witanto


Bagikan artikel ini