BMKG: Rencana Hujan Buatan Masih Disurvei

04 Aug 2019 11:06 Timur Indonesia

Kepala Stasiun Meteorologi El Tari, Agung Sudiono Abadi mengatakan rencana hujan buatan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih harus dilakukan survei terlebih dahulu.

Survei ini untuk memastikan, daerah mana saja yang perlu dilakukan hujan buatan, dan memenuhi kriteria atau tidak, kata Agung Budiono Abadi kepada Antara di Kupang, Minggu, terkait rencana hujan buatan.

"Rencana hujan buatan itu masih mau proses survei, daerah mana saja yang perlu hujan buatan, dan memenuhi kriteria atau tidak," kata Agung.

Menurut dia, ada sejumlah kriteria yang harus dipenuhi, antara lain kondisi awan dan cuaca, arah kecepatan angin dan suhu udara di wilayah itu mendukung.

Dia menambahkan, hujan buatan atau dikenal dengan sebutan modifikasi cuaca dengan cara menembak awan yang tebal.

"Kami pernah melakukan hujan buatan di Makasar. Jadi ada awan rendah, awan menengah dan awan tinggi. Kalau tidak ada awan, apa yang mau ditembak," katanya menjelaskan.

Operasi Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk menciptakan hujan buatan di beberapa provinsi akan dimulai. Operasi di kawasan yang mengalami kekeringan tersebut dijadwalkan berlangsung sampai akhir September.

"Tapi, tetap ada kemungkinan bisa sampai November," kata Plh. Kapusdatin dan Humas BNPB Agus Wibowo di Jakarta, (22/7).

Operasi tersebut melibatkan beberapa instansi. TNI akan menyediakan pesawat untuk melakukan persemaian awan dan mengangkut logistik serta personel.

Dan Badan Pengkajian dan Penerapata Teknologi (BPPT) menyediakan peralatan dan bahan baku semai. Sementara BMKG bakal menjadi radar untuk mendeteksi awan potensial dan target sasaran TMC. Adapun BNPB akan menjadi koordinator dalam operasi ini. 

Sebelumnya, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Timur (NTT) berencana membangun jebakan-jebakan air sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Liliba sebagai upaya mengatasi kekurangan air bersih di Kota Kupang.

Demikian dikatakan Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Josef A Nae Soi ketika dihubungi wartawan di Kupang, NTT, Sabtu, terkait upaya pemprov membantu mengatasi krisis air bersih yang dialami masyarakat Kota Kupang.

Menurut Nae Soi, persoalan kekurangan air bersih di Kota Kupang sebagai dampak dari keterbatasan sumber air baku di ibu kota provinsi NTT itu.

"Sumber air bersih di Kota Kupang sangat terbatas sehingga belum maksimal dalam memenuhi kebutuhan air bersih untuk konsumsi masyarakat," ujar Nae Soi.

Menurut dia, Pemprov NTT telah mengusulkan kepada pemerintah pusat untuk membantu pembangunan jebakan air pada kawasan DAS Liliba.

"Usulan itu sudah disetujui pemerintah pusat sehingga kawasan DAS LIliba akan banyak jebakan air yang dibangun pada tahun 2020," kata Nae Soi.

Menurut mantan anggota DPR RI dari Partai Golongan Karya itu apabila air yang mengalir pada DAS Liliba dapat dioptimalkan pemanfaatannya, maka akan mampu memenuhi kebutuhan air bersih di ibu kota provinsi berbasis kepulauan itu.

"Masih ada sumber air bersih dari Tilong yang mampu mensuplai kebutuhan air bersih di Kota Kupang sehingga kekurangan air bersih yang dialami masyarakat Kota Kupang tidak terlalu mengkhawatirkan," ujar Nae Soi.

Ia mengatakan kekurangan air bersih yang lazim terjadi pada musim kemarau panjang disebabkan debit air pada sumber air di Kota Kupang mengalami penurunan.

Penulis : Antara
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini