Datangi Medaeng, Simpati Rizal Ramli untuk Ahmad Dhani

30 Mar 2019 13:19 Politik

Rizal Ramli, mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Republik Indonesia, mengunjungi Ahmad Dhani di Rutan Klas I Surabaya, Medaeng, Sidoarjo. Rizal tiba di Medaeng pukul 10.14, Sabtu 30 Maret 2019.

Dalam kunjungan itu Rizal mengatakan prihatin atas kasus pelanggaran UU ITE yang menimpa musikus Dewa 19. Rizal juga bercerita, bahwa dirinya pernah mengalami nasib serupa. Bukan UU ITE yang disangkakan tetapi UU peninggalan Belanda, haatzai artikelen

Saat Orde Baru yang lampau, Pemerintahan Soeharto kala itu menggunakan haatzai artikelen untuk menangkap dirinya dan sejumlah aktivis mahasiswa yang kritis terhadap rezim. 

"Zaman Soeharto itu, saya berumur 22 tahun. Saya diadili ditangkap karena menulis Buku Putih Perjuangan. Saya dipenjara 1,5 tahun, dengan haatzai artikelen itu," kata Rizal. 

Dulu, haatzai artikelen digunakan kolonial untuk memberangus orang-orang yang dianggap melakukan penghinaan terhadap kepentingan Belanda. Atau kelompok-kelompok masyarakat yang membentuk oposisi terhadap pemerintah Hindia Belanda ketika itu.

Rizal pun lantas membandingkan haatzai artikelen dengan UU ITE yang berlaku pada saat ini. Menurutnya UU ITE justru lebih menyeramkan ketimbang UU warisan penjajah Belanda. 

"Hari ini ada UU ITE yang lebih dahsyat, lebih menyeramkan dan draconian. Dipakai untuk menangkap siapa pun. Yang salah ngomong, salah tulis di sosmed langsung bisa ditangkap. Ini jauh lebih menegangkan dari kolonial zaman Belanda," kata dia. 

Rizal menyebut, Dhani adalah salah satu korban dari kekejaman UU ITE. Menurutnya, politisi Partai Gerindra yang sekaligus seniman itu dihukum saat tengah mencoba memperjuangkan hak berdemokrasinya. 

"Apapun dia (Dhani) seniman, apapun dia mencoba memperjuangkan demokrasi," kata Rizal yang juga ekonom tersebut. 

Usai selama belasan menit bertemu dengan Dhani di dalam rutan, Rizal mengaku menyampaikan simpatinya dan beberapa hal lain. Di antaranya adalah soal rencana revisi UU ITE, yang bakal direalisasikan jika pasangan calon presiden dan wakil nomor urut 02, Prabowo Subianto-Sandiaga Salahuddin Uno terpilih nanti. 

"Saya hari ini berkunjung ke Dhani mengatakan simpati, Dhani kamu yang sabar, ini gak lama, sebentar lagi ini akan berubah. Kenapa? saya tanya kepada kedua capres, kepada Prabowo dan Sandi, apakah kalau nanti Prabowo bulan April menang, mau merevisi UU ITE yang menyeramkan ini? Prabowo bilang iya, Sandi bilang iya," kata dia. 

Namun, hal yang berbada terjadi ketika ia bertanya hal yang sama kepada kubu capres cawapres nomor urut 01 Joko Widodo-KH Ma'ruf Amin. Rizal mengaku tak mendapat tanggapan. 

"Saya ajukan pertanyaan yang sama kepada Jokowi dan anak buahnya, sampai hari ini tidak ada jawaban, saya duga mereka seneng banget pakai UU ITE, kalau nanti kepilih lagi pasti akan pada ditangkepin nih oposisi-oposisi semua," ujarnya.

Ia pun mengaku kaget dengan sikap Jokowi dan jajarannya, yang acuh terhadap rencana merevisi UU ITE. Ia pun beranggapan bahwa pemerintahan kini sudah berjalan ke arah neo otoriter. 

"Jadi pilihan kita jelas, siapa yang mau melanjutkan demokrasi dengan mengubah UU ITE dan siapa yang tetep mau mempertahankan UU ITE kalau ada yang terus mempertahankan, pada dasarnya ini adalah rezim neo otoriter," pungkasnya. (frd) 

Reporter/Penulis : Farid Rahman
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini