Bertahan dengan Idiom Wayang, Apa Kata Milenial?

31 Jan 2019 08:00 Feature

Di zaman Pemerintahan Soeharto, wayang seperti magis. Seperti wajib dikoleksi. Apalagi kalau dia pejabat Orde Baru.

Wayang jadi hal bukan main. Sebagai sekadar perangkat souvenir, keperluan artistik penghias rumah, hingga aksi budaya. Juga atas nama apapun. Begitulah wayang. Kala itu. 

Kini milenial. Seperti apa milenial menatapnya? Ah terlalu jauh. Terlalu panjang membahasnya. Bisa tidak asik. Bisa mengganggu acara aktivitas seharian. Cerita lain saja. Tetapi tetap ada wayangnya. Atau cerita Isyanto saja. Yang masih hidup dengan wayang. Sampai kini.

Masih ahli masih bisa untuk hidup FotoWidiKamidingopibarengmid
Masih ahli, masih bisa untuk hidup. (Foto:WidiKamidi/ngopibarengmid)

Isyanto, 59 tahun, pernah berjaya menjadi perajin wayang di era Orde Baru. Sayang krisis moneter menerjang seiring kejatuhan Soeharto sehingga dia harus mengulang kembali menjadi perajin wayang dari bawah.

Rumah di Jalan Rumpuk 64 B, Desa Kertosari, Kecamatan Babatan, Kabupaten Ponorogo itu sesak dengan perangkat untuk membuat berbagai souvenir. Kaleng cat, minyak cat, aneka kuas, potongan-potongan kertas bergambar desain wayang, gapit-gapit wayang, aneka caping, pot-pot bunga, bahan-bahan pigura, tali temali, peralatan packaging, dll, campur aduk jadi satu.

Di muka pintu, di bagian dalam, masih disisakan sedikit ruang untuk sekadar menaruh seperangkat mebeler. Mungkin memang dimaksudkan agar para tetamu yang datang dan memesan hasil kerajinan Isyanto dapat melihat langsung kerja kreatif yang dilakukan. Atau memang disediakan untuk keperluan wawancara seperti yang dilakukan ngopibareng.id.

Isyanto bercerita, dia baru saja pulang dari Surabaya. Pulang dari arena pameran di Grand City Surabaya. Malahan belum sempat ganti kostum.

Di arena pameran, katanya, barangnya habis terjual di hari-hari pertama. Standnya sudah banyak ruang kosong. Mau mengambil lagi ke Ponorogo, stoknya juga habis. Sebab sebelum diundang pameran di Surabaya, hasil kerajinannya sudah kesedot di ajang di Jakarta.

Meninggalkan arena pameran, sementara perhelatan belum selesai, juga tidak etis. Tentu akan mengecewakan pihak pengundang. Isyanto tidak mau begitu sebagai bentuk penghargaan. Maka praktis Isyanto hanya memajang karya-karya berukuran besar yang harganya relatif mahal. Biasanya berupa lukisan wayang Limaran bergambar Punakawan atau Pandawa Lima.

Pameran, bagi Isyanto, adalah ajang untuk promosi hasil karyanya. Ajang mengenal pembeli. Sarana face to face untuk mengerti seperti apa kebutuhan pelanggan. Seperti apa keinginan pembeli agar produksi kerajinan memang bermanfaat bagi pembeli itu sendiri. Jika pembeli puas tentu sebagai kreator Isyanto akan jauh lebih dari sekadar puas.

Tanpa ruang-ruang pamer itu, Isyanto tentu tidak mampu bangkit dan berkarya seperti sekarang. “Dulu saya perajin wayang. Domisili di Surabaya. Karya saya yang berbeda dengan yang lain membuat wayang-wayang ciptaan saya laris karena pesanan. Tidak hanya satu dua biji, tapi pesanan wayang satu kothak. Wayang komplit, untuk pertunjukan.

Pemesannya selain para pejabat, instansi, juga para dalang. Wayang-wayang raksasa punya dalang Ki Enthus (alm) itu saya yang bikin. Juga wayang-wayang bagus dengan gapit gading milik Dalang Pak Naryo, yang dulu Sekda dan Wagub, itu juga saya bikin,” kenang Isyanto.

Diversifikasi wayang menjadi ajang souvenir FotoWidiKamidingopibarengid
Diversifikasi wayang, menjadi ajang souvenir. (Foto:WidiKamidi/ngopibareng.id)

Di saat pesanan menumpuk, berkothak-kothak wayang, datanglah krismon. Bahan baku berubah harga gila-gilaan. Harga kulit yang semula hanya 50 ribu naik jadi 600 ribu. Gapit yang awalnya 150 ribu berubah jadi 400 ribu hingga 1,5 juta rupiah untuk yang bahan gading. Itu pun adalah barang impor.

“Maka kolaps lah saya. Pemesan tentu tidak mau tahu. Pemesan akhirnya tidak terlayani, sementara modal habis. Saya pun lari ke Natuna dengan meninggalkan utang.”

Bekerja serabutan di Natuna, membuat taman hingga panel-panel iklan, membuat Isyanto tidak puas. Maka ia kembali ke tanah kelahirannya di Ponorogo. Sempat menjalani bisnis PJTKI namun akhirnya kembali juga ke asal keahliannya yaitu menjadi perajin wayang.

Kini pesanan wayang tidak sehebat dulu. Maka selain masih menerima pesanan wayang untuk para dalang, ia menciptakan wayang untuk kebutuhan souvenir.

Harganya disesuaikan dengan kemampuan dan tren pasar. Maka terciptalah wayang-wayang kecil nan cantik lengkap dengan gapitnya. Bentuknya lebih bagus ketimbang yang beredar di pasaran di Jogjakarta. Maka wayang-wayang mini itu pun laris manis bak kacang goreng.

Helm pun bisa bergambar wayang FotoWidiKamidingopibarengid
Helm pun bisa bergambar wayang. (Foto:WidiKamidi/ngopibareng.id)

Wayang pun di tangannya juga berubah bentuk menjadi aneka gantungan kunci yang berkarakter. Namun fokus wayang yang digelutinya hingga kini adalah lukis wayang Limaran.

Kepalang basah terjun ke dunia souvenir, Isyanto pun menjadikan apa saja jadi media kreasi. Mulai bathok, helm, caping, pot, bikin batik, hingga pohon pun dilukis.

Siapa yang minta bisa langsung ambil. Untuk caping misalnya, harga caping paling mahal hanya 20 ribu namun dengan sentuhan kreasinya menjadi 500 ribu rupiah. Helm bisa menjadi 300 ribu. Sementara untuk lukis wayang Limaran harganya di kisaran 17-33 juta rupiah. Anda tertarik mengoleksi? (widikamidi)

Penulis : Widi Kamidi


Bagikan artikel ini