Bersyukur kepada Allah, Begini Cara yang Diajarkan Rasulullah

01 Feb 2019 03:56 Islam Sehari-hari

"Dalam banyak kesempatan, par ustad berceramah sering mengingatkan agar umat Islam pandai bersyukur. Ustad, tolong dijelaskan soal bersyukur yang sesuai cara Kanjeng Nabi Muhammad Saw!"

Masalah singkat seperti ini, diajukan Wahyu Aminan, warga Kalijudan Surabaya, pada redaksi ngopibareng.id. Persoalan serupa pun kerap dialami banyak orang.

Untuk menanggapi masalah tersebut, redaksi menurunkan penjelasan Ustad A Muchlishon Rochmat berikut ini:

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim: 7).

Rasulullah adalah contoh paripurna seorang hamba yang bersyukur kepada Allah. Beliau selalu mensyukuri apapun yang diberikan Allah kepadanya. Tidak pernah sekali pun Rasulullah mengeluhkan pemberian Allah. Apapun situasi dan kondisi yang menimpa dirinya.

"Kendati Rasulullah sudah dijamin Allah masuk surga, namun ibadahnya begitu hebat. Bahkan dikisahkan kalau saking tekun dan khusuknya menunaikan shalat malam, kedua telapak kaki Rasulullah sampai pecah-pecah. Rasulullah sangat tekun berpuasa, dizkir, dan juga sangat dermawan. Pun berbuat baik kepada sesama."

Rasulullah mengekspresikan rasa syukurnya atas semua nikmat Allah bukan hanya lewat lisan saja, namun juga melalui perbuatan atau tindakan nyata. Di antaranya adalah dengan tekun beribadah kepada Allah. Kendati Rasulullah sudah dijamin Allah masuk surga, namun ibadahnya begitu hebat. Bahkan dikisahkan kalau saking tekun dan khusuknya menunaikan shalat malam, kedua telapak kaki Rasulullah sampai pecah-pecah. Rasulullah sangat tekun berpuasa, dizkir, dan juga sangat dermawan. Pun berbuat baik kepada sesama.

Posisi istimewa sebagai seorang nabi dan utusan Allah tidak membuat Rasulullah ‘berleha-leha’ dan ‘kemaruk.’ Meski sudah dijaga dari Allah dari melaksanakan perbuatan dosa (maksum), Rasulullah dengan menangis juga meminta ampunan kepada Allah.

Tentu saja hal itu membuat para sahabat penasaran, bahkan istrinya sendiri Sayyidah Aisyah. Bagaimana mungkin seorang kekasih Allah, seorang yang dijamin masuk surga, dan seorang yang maksum, melakukan ibadah sampai segitunya. Bukankah dia tidak memiliki dosa atau kesalahan, mengapa dia meminta ampunan kepada Allah.

“Mengapa engkau melakukan itu semua Rasulullah? Padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” tanya Sayyidah Aisyah.

Merujuk buku Samudra Keteladanan Muhammad (Nurul H Maarif, 2017), ketekunan dan kekhusukan Rasulullah dalam beribadah, munajatnya, dan berbuat baik kepada sesama merupakan sarana untuk bersyukur kepada Allah. Bukan sebagai sarana untuk pertaubatan atas segala dosanya atau pun sebagai sarana untuk mengharap surga.

“Apakah aku tidak senang menjadi hamba yang banyak bersyukur” kata Rasulullah menjawab pertanyaan Sayyidah Aisyah di atas.

Begitulah cara Rasulullah bersyukur. Beliau bersyukur atas semua nikmat yang diberikan Allah bukan hanya sekedar lisan -mengucapkan hamdalah- namun juga tindakan –yaitu dengan mengerjakan ibadah dengan tekun dan khusuk.(nuo)

Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini