KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Situbondo. (Foto: Istimewa)

Bersyukur atas Negeri yang Damai, Ini Penjelasan Kiai Azaim

Khazanah 23 November 2019 20:29 WIB

KHR Ahmad Azaim Ibrahimy, Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Situbondo menyampaikan pesan-pesan penting agar kita selalu bersyukur kepada Allah Ta'ala.

“Al Kautsar, Limpahan Nikmat dan Dimensi Kesyukuran”, itulah tema penting dikupas Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo, Situbondo, KHR Ahmad Azaim Ibrahimy. Berikut bagian akhir tausiyahnya:

Nabi Muhammad, Rasulullah SAW menghadapi semua cobaan dan rintangan dengan sabar dan lapang dada. Semua itu beliau lakukan hanya semata-mata ingin menyelamatkan umat manusia dari perpecahan, dari jurang kesesatan dan pedihnya siksa api neraka. Firman Allah:

"Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk". (QS. Ali Imran: 103)

Keterangan-keterangan di atas menunjukkan bahwa wujud syukur nabi dalam bentuk sosial yakni menolong yang lemah tak ada yang bisa membantah. Semangat nabi terus berdakwah menanamkan akidah untuk menyelamatkan umat manusia walau sering difitnah adalah wujud syukur kepada Allah atas segala karunia yang diberikan. Sementara janji Allah siapa yang bersyukur maka akan ditambah.

Dalam ayat lain digambarkan bahwa syukur sebagai tolok ukur, apakah kita akan menjadi hamba yang penyukur ataukah kufur. Firman Allah:

Maka tatkala Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, iapun berkata: “Ini Termasuk kurnia Tuhanku untuk mencoba aku Apakah aku bersyukur atau mengingkari (akan nikmat-Nya). dan Barangsiapa yang bersyukur Maka Sesungguhnya Dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan Barangsiapa yang ingkar, Maka Sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya lagi Maha Mulia. (QS. Al-Naml:40)

Salah satu karunia terbesar bagi bangsa Indonesia adalah adanya pondok pesantren yang didirikan ulama sebagai pewaris para nabi.  Pesantren sebagai lembaga pendidikan tertua di Indonesia telah menorehkan sejarah yang luar biasa bagi Indonesia baik dalam kemajuan pendidikan, sosial dan kemasyarakatan. Salah satu di antaranya adalah Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo yang telah berusia lebih dari satu abad.

“Dan terhadap nikmat Tuhanmu, Maka hendaklah kamu ceritakanlah” (Qs. Al-Dhuha: 11). Sungguh amat banyak anugerah yang diberikan Allah kepada pondok Pesantren yang didirikan oleh KHR. Syamsul Arifin ini. salah satunya berkesempatan menjadi bagian dari sejarah perjuangan kemerdekaan.

Sejak masa penjajahan, para Kiai dan santri di pesantren ini juga ikut memanggul senjata. Tidak hanya itu, setelah Indonesia merdeka, tepatnya ketika terjadi pro-kontra soal Pancasila, Kiai As’ad Syamsul Arifin sebagai Pengasuh melalui Munas Alim Ulama tahun 1983 dan Muktamar Nu ke-27 tahun 1984 bersama sejumlah ulama berhasil merumuskan hubungan antara agama dan Pancasila.

Muktamar ke-27 ini merupakan Muktamar paling bersejarah karena telah melahirkan keputusan yang tidak hanya melamatkan NU tetapi juga keutuhan NKRI dengan diterimanya Asas Tunggal Pancasila.

Maka sangatlah wajar, pada tahun 2016 KHR. As’ad Syamsul Arifin dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Ini semua sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasanya dalam merebut, mempertahankan dan mengisi kemerdekaan.

Tidak hanya itu, pada tahun 2017 Pesantren Sukorejo mendapat anugerah tingkat nasional sebagai pesantren takhassus inspiratif bidang fikih.

Belum lagi anugerah Rekor Muri Penulisan Kaligrafi terbesar Asas Tuggal Pancasila oleh Museum Rekor Indonesia dan dunia. Kebahagian keluarga besar Pondok pesantren semakin lengkap dengan sederet prestasi yang berhasil diraih para santri di berbagi ajang kompetisi, seperti Lomba Karya Tulis Ilmiah Nasinoal, MTQ dan lomba baca Kitab Kuning. Falhamdulillah ‘ala kulli hal

Karunia-karunia besar ini sudah seharusnya disyukuri dengan lisan dan tindakan. Syukur sebagaimana spirit dalam surat al-Kautsar adalah dengan meningkatkan spiritual dan tindakan nyata berupa pengabdian kepada umat dan masyarakat.

Dan penting juga bagaimana mempertahankan prestasi dan nilai lama yang baik serta meraih prestasi dan nilai baru yang lebih baik.

Semoga seluruh elemen dan keluarga besar Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo diberikan pertolongan serta Akhlaqul karimah dengan segala demensi pemaknaannya dalam berkhidmah mencetak generasi penerus perjuangan Rasulullah Saw. Amin!

*) Sumber: KHR Ahmad Azaim Ibrahimy saat memberikan sambutan pada Peringatan Maulid Nabi Muhammad 1440 H.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

23 Sep 2020 13:35 WIB

KPU Situbondo Tetapkan Dua Pasang Peserta Pilkada 2020

Pilkada

Tahapan penetapan akan dilanjutkan pengundian nomor, besok.

03 Aug 2020 06:06 WIB

Haedar: Bersyukur dan Ikhlas Mudah Diucapkan, Tapi...

Khazanah

Keberuntungan mereka yang mampu menyucikan jiwanya

30 Apr 2020 14:04 WIB

Bersyukur Kita Tidak Dibimbing Negara Kolonial

As’ad Said Ali

Renungan di tengah pandemi COVID-19

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...