Gula Kelapa BlitarBersiasat Ngakali Pasar Agar Order Tak Jatuh Sekarat

01 Oct 2018 17:31 Feature

Blitar. Ada dua wilayah disana. Kabupaten dan Kota. Dulunya hanya ada kabupaten. Lalu, di pertengahan tahun 80-an wilayahnya mekar, dan sejak itu Blitar memiliki dua wilayah. Stop dong! Cukup ini saja pengetahuannya. Karena kita memang tidak sedang membahas geografi. Kita mah malah mau bicara gula.  

_____________

Gulanya juga bukan gula tebu. Bukan pula gula pasir. Tetapi gula kelapa. Gula eksotis, yang amat cocok untuk membuat kolak. Juga panganan tradisonal lainnya.

Namanya Sanankulon. Itu nama desa. Sekaligus nama kecamatan. Wilayahnya masuk Kabupaten Blitar. Di Provinsi Jawa Timur, selama ini Sanankulon dikenal sebagai sentra industri gula kelapa. Bertahun-tahun, nyaris seperti turun-temurun, sebagian penduduk di kecamatan ini memproduksi gula kelapa secara tradisional.

Sanankulon dan sekitarnya menjadi sentra gula kelapa karena ditunjang dengan banyaknya pohon kelapa hongga sekarang. Sentra gula kelapa di Kecamatan Sanankulon ini berada di Desa Sumberejo. Jumlahnya mencapai 264 unit usaha, sedang yang berada di Dusun Jeding sedikitnya 13 unit usaha.

Industri gula kelapa tradisional umumnya dijual dalam bentuk cetakan tempurung kelapa. Per biji seberat 1kg dan 1,5 kg. Tetapi sejak tahun 2001 Slamet Riyanto, salah seorang perajin gula kelapa di Desa Sumberejo, melakukan diversifikasi bentuk cetakan. Yaitu, ukuran kecil-kecil dengan bentuk pipih, silinder, dan tempurung.

Masyarakat setempat menamainya ceper, bumbung, dan ceplik. Dengan ukuran kecil, 1kg gula kelapa akan berisi 37 butir/keping. “Bentuknya kecil-kecil, unik, dan diminati pasar,” kata Masrukin Murtadlo, putra Slamet Riyanto.

Slamet Riyanto biasa menjual dalam kantong-kantong plastik bobot 10 dan 15 kg. Harga per kg-nya Rp 7.800. Sedangkan harga gula kelapa ukuran tempurung kelapa harganya Rp 7.300/kg. ”Kalau orang mau membeli yang ukuran kecil-kecil setiap kg-nya dikenai tambahan Rp 500,” kata Masrukin.

Gula kelapa ukuran kecil tersebut sejatinya gula kelapa ukuran tempurung yang didaur ulang. Slamet Riyanto membeli dari petani dalam ukuran tempurung kelapa berat 1 kg. Setiap dua hari sekali Slamet mengambil di Desa Karangbendo, Kecamatan Ponggok, Kabupaten Blitar. Gula kelapa dari petani kemudian dimasak lagi, dicampur gula pasir sedikit, lalu dicetak ulang dalam ukuran kecil-kecil.

Prosesnya, gula kelapa dari petani direbus di wajan besar. Terus diaduk hingga 30 menit. Setelah itu dituangkan di cetakan sesuai bentuknya. Tidak sampai 15 menit gula dalam cetakan sudah mengeras dan tinggal dipak di plastik.

Menurut Masrukin, diversifikasi bentuk ini merupakan salah satu upaya untuk menyiasati pasar. Disebabkan semakin mahalnya harga gula kelapa, salah satu penyebanya karena persaingan dengan gula merah yang bahan bakunya dari tebu, pasar menilai harga gula kelapa terlalu mahal. ”Akhirnya, sejak tahun 2001 kami memproduksi gula kelapa dalam versi lain, yaitu ukuran kecil-kecil,” ujarnya.

Terlebih gulo abangyang bahan bakunya dari tebu, yang selisih harganya lebih murah dibanding dengan yang bahan bakunya dari kelapa. Per kg selisih harganya bisa mencapai Rp 1000. Secara fisik sama, yaitu dalam ukuran batok kelapa dan ada juga ukuran kecil-kecil. ”Konsumen tidak melihat kualitasnya, yang penting sama dan harganya lebih murah, meski secara rasa lebih enak gula kelapa,” kata Masrukin.

Berproses secara tradisional dengan peralatan tradisional dan dijual dengan gaya tradisional pula fotoidingopibarengid
Berproses secara tradisional, dengan peralatan tradisional, dan dijual dengan gaya tradisional pula. foto:idi/ngopibareng.id

Gula kelapa dalam ukuran kecil-kecil harganya Rp 7.800/kg. Masrukin membeli di tingkat petani Rp 7.100/kg. Setiap satu kg-nya Masrukin menambahkan Rp 500 sebagai biaya beli kayu pembakaran, ongkos tenaga kerja dan plastik kemasan.

“Pokoknya tidak rugi,” tandas pria yang juga mengajar bahasa Indonesia di SMKN I Kademangan dan Unisba Blitar ini.

Gula kelapa ukuran kecil-kecil ini ternyata diminati pasar. Pertimbangannya praktis. Dulu, sebelum diproduksi ukuran kecil-kecil, bila ada konsumen yang hanya membeli ¼, pedagang terlebih dahulu harus membelah. Sekarang tidak. Pedagang bisa menjual butiran. Kemasan kecil-kecil ini juga banyak yang dijual di swalayan.

Permintaan pasar atas gula kelapa terus meningkat. Dalam satu hari, maksimal Masrukin bisa memproduksi antara 3 s.d 4 ton, atau rata-rata 2 s.d 3 ton. Sementara kebutuhan pasar bisa lebih dari itu. Pasar hampir merata di Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah. ”Di Tuban saja, kalau musim kemarau, dalam sehari permintaan bisa mencapai 3 ton, sedangkan Pati (Jawa Tengah) bisa 5 ton per sekali kirim,” kata Masrukin. Supaya tidak terjadi kekosongan pasar, maka Masrukin harus pintar-pintar membagi pengiriman.

“Pengiriman di satu daerah dilakukan 2 hari sekali. Misalnya hari ini untuk Babat, besok untuk Lamongan, lusa untuk Tuban, begitu seterusnya sehingga pasar tidak sampai kosong,” ujarnya. Gula kelapa dapat bertahan hingga satu tahun tidak mencair.

Musim pembelian ramai ketika Ramadan. ”Mulai dari menjelang Ramadan sampai kur-kuran (di atas tanggal 20 sampai 30) permintaan gula kelapa cukup tinggi,” katanya. Bila permintaan tinggi, tidak jarang Slamet Riyanto harus meminta tolong tetangga-tetangganya untuk memasak. ”Kami membayar jasa cetak, mereka modal tenaga dan kayu bakar,” ujarnya.

Diakui, saat ini penjualan gula kelapa sedang drop. Harga Rp 7800/kg saja menurut Masrukin agak berat. Karena itu, Slamet Riyanto juga memproduksi gula merah dari tebu. Gula tebu tersebut juga dicetak kecil-kecil. Per kg Slamet Riyanto menjual Rp 6200 untuk kualitas super.

Slamet Riyanto membeli bahan baku gula tebu dari industri gula tebu rakyat di Tulungagung. Bahan baku ini dibeli dalam bentuk tempurung kelapa. Sama halnya dengan proses daur ulang gula kelapa, gula tebu ini juga direbus kemudian dicetak dalam ukuran kecil-kecil lalu dijual dalam kantong 10 kg dan 15 kg.

Pembelian gula tebu belakangan juga mengalami kesulitan lantaran permintaan tinggi sementara ketersediaan bahan baku terbatas. Dipercaya, gula merah dari tebu  di Tulungagung dan Kediri kualitasnya lebih bagus daripada tempat lain. Itu sebabnya industri gula merah dari Jawa Tengah dan Jakarta menyerbu Tulungagung dan Kediri. Di tingkat pabrikan ini harga standar Rp 5000/kg, tetapi karena barang terbatas ada yang berani membeli Rp 5100 sampai Rp 5200/kg.

”Bukan pemandangan aneh kalau ada yang sekali ngambil sampai 2 hingga 3 truk. Pokoknya, hampir 80% gula tebu yang diolah kembali ngambilnya dari Tulungagung dan Kediri,” ujarnya. Masalah lain bila sudah musim giling tebu, hampir sebagian besar tebu tersedot ke pabrik gula.

Meski pasar lokal agak seret, tetapi permintaan gula kelapa tetap tinggi, terutama dari daerah di luar Tulungagung, Blitar dan Kediri. (idi)

Reporter/Penulis : Widi Kamidi
Editor : Haris Dwi


Bagikan artikel ini