Ali Fauzi bersama penulis, Bahari, di Tenggulun, Lamongan. (foto: ngopibareng/bahari)

Cerita Tentang Ali Fauzi, Eks Napi Teroris (Habis)Bersentuhan dengan Profesor, Terpapar Islam Rahmat Lil Alamin

07 Mar 2018 13:09

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Belum lulus dari Aliyah sederajat SMA dari Ponpes Roudhotul Ilmiah, di Kertososno, Nganjuk pada 1991, datang surat dari kakaknya Ali Gufron alias Mukhlas yang sudah lebih dulu kabur ke Malaysia.

Isi surat, Ali Fauzi, ragil dari 13 bersaudara itu diminta segera berangkat ke Malaysia begitu lulus Aliyah. Maka begitu lulus, Ali Fauzi segera ke Malaysia menemui kakaknya Ali Gufron.

Ternyata Ali Fauzi diajak Ali Gufron merintis pembangunan Ponpes di Johor Bahru. Namanya Lukmanul Hakim.  Fauzi didaulat sebagai pengajar ponpes rintisan tersebut .

Saat itu, kata Ali Fauzi, areal Ponpes Lukmanul Hakim masih berupa padang rumput lalu disulap menjadi sekolah. Ternyata Lukmanul Hakim bukan ponpes sembarangan.  Penghuni Lukmanul Hakim banyak alumni perang Afghanistan dan orang-orang yang diburu pemerintah Soeharto. Diantaranya, Abdullah Sungkar, Ustadz  Abu Bakar Ba’asyir pemilik Ponpes Al Mukmin, Ngruki, Sukohardjo yang kesohor itu. Penghuninya ada juga dari Medan, Jakarta dan kota lainnya di Indonesia.

Di Lukmanul Hakim, Ali Fauzi kenal dekat Abdulah Sungkar dan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir karena sama sama sebagai pengajar. Di Ponpes diajarkan mengaji, beragam kajian diantaranya,  sejarah tafsir dan hadish, beragam pembinaan agama. ‘’Selama tiga tahun saya mengajar di Ponpes Lukmanul Hakim,’’ aku Ali.

Ali juga dibaiat oleh Abdulah Sungkar sebagai Amir Negara Islam Indonesia (NII). Sedangkan Abu Bakar Ba’asyir sebagai wakil Amir NII.

Tapi tahun 1994 terjadi perpecahan dalam NII. Ustad Abdulah Sungkar-Ustad Abu Bakar Ba’asyir sudah tidak segaris lagi dengan Anjengan Masduki sebagai Komandemen Wilayah (KW) IX NII.

Disini lah awal munculah Jamaah Islamiah (JI). Ali  Fauzi lalu dibaiat lagi oleh Ustad Abdulah Sungkar-Ustad Abu Bakar Ba’asyir. Orang yang membaiat sama, yang  berbeda adalah benderanya.   Kalau dulu NII sekarang JI.

Di Lukamnul Hakim juga ada Doktor Azhari, Noordin M Top.  Ali juga akrab dengan mereka karena sama sama menjadi staf pengajar Ponpes Lukmanul Hakim. Juga ada Hambali sebagai tajnin semacam komandan militer JI wilayah Malaysia, dan Sabah. Setelah situasi gawat Hambali bersembunyi di Thailand Selatan. Lalu tertangkap dan kini dipenjara di Guantanamo, Amerika.

Setelah jadi pengajar tiga tahun, Ali dikirim ke Kamp militer Abu Bakar, Mindanao, Philipina tahun 1994 mengikuti pelatihan militer. Yakni, di sekolah militer Moro  Islamic Liberaation Front (MILF).

Ada ribuan mujahid dari berbagai negara. Ada dari negara-negara Arab di  Timur Tengah, Malaysia, Indonesia, Singapura dan negara Islam lainnya. Tapi, mujahid Indonesia, Malaysia dan Singapura paling banyak.

Di kamp diajari taktik berperang, belajar pemetaan,  menembak dengan M 16,  AK 47 sampai peluncur roket. Paling penting field engginering alias pembuatan bom skala besar. Beratnya 100 kilogram lebih bahkan bisa lebih satu ton.

Saat pelatihan bahasa pengantar yang dipakai bahasa setempat yakni, Makindanao. Setelah belajar berbagai ketrampilan militer di Kamp Abu Bakar, Ali dipercaya membuka kamp  baru. Namanya Hudaibiyah. Lokasinya masih di hutan belantara Pulau Mindanao.

Dari kamp Abu Bakar terus naik gunung melewati kamp Vietnam. Jalan terus naik gunung baru ada kamp Hudaibiyah. Ali bertugas menjadi perintis pembangunan Kamp Hudaibiyah sekaligus ditunjuk sebagai instruktur.

Ada ribuan mujahid. Terbanyak dari Indonesia. Ada dari Philiphina, Malaysia, Singapura dan negara lainnya. Bahkan Ali dipercaya melatih milisi Indonesia dan Philipina. ‘’Saya jadi instrukturnya,’’ kenang Ali.

Tiga tahun mengikuti pelatihan militer dan jadi instruktur di Philipina, tahun 1997 Ali balik lagi ke Malaysia. Kepada kakaknya Mukhlas, Ali minta ijin tidak mau mengajar lagi di Ponpes Lukamnul Hakim. Setelah dapat pelatihan militer hatinya sudah tidak pas lagi sebagai pengajar. Ali ingin ke Kuala Lumpur mencari kerja. Maklum Ali sudah umur 28 tahun waktunya menikah. Kalau tetap mengajar di Lukmanul Hakim gajinya kecil.

Di  Kuala Lumpur (KL) ada kakak perempuan Ali.  Tidak lama di KL, Ali memutuskan  pergi negara bagian Selangor. Tinggal di kawasan komplek perumahan.Namanya Banting. Di sana ketemu  Imam Samudra,  Hambali, dan ikhwan lainnya.

Ali bekerja sebagai pengantar surat atau semacam kurir. Satu surat yang dikirim dan hari itu harus sampai ke alamat tujuan dihargai satu ringgit. Untuk menambah pundi pundi ringgit, Ali juga nyambi kerja di perusahaan lain. Ali enggan jadi kontraktor alias kuli bangunan yang banyak diisi para TKI.

Saat itu situasi masih aman. Hambali pun masih bisa hidup tenang di Malaysia. Di Banting juga ada orang Lamongan lainya Yusuf,  mantan instruktur militer alumni Kandhahar, Afghanistan seangkatan Muklas.

Saat kerusuhan di Jakarta tahun 1998 pasca Soeharto jatuh, Ali pulang ke Indonesia. Jakarta kacau diserta pembakaran. Dalam hati Ali membantin bisa ikut main sambil menyelam minum. Maksudnya ikut bikin rusuh. Tapi, niat itu tidak terlaksana karena keburu pulang ke Lamongan. Itu dimanfaatkan Ali menikahi gadis pujaan hatinya yang juga seorang pengajar Pondok Al Islam milik keluarganya.

Karena anggota JI, Ali melapor ke pimpinan JI Surabaya. Ali pun dimasukan ke struktur tat’nij atau militer. Ali ditunjuk menjadi instrukstur perakitan bom bagi anggota JI wilayah Jatim. Ali kerap melakukan pelatihan militer sejumlah mujahid di kawasan pegunungan di Jatim.

‘Pucuk ulam pun tiba. Meledak kerusuhan Ambon awal 1999. Orang yang pernah saya latih di gunung gunung di Jatim bergabung dan dikirim ke Ambon. Saya juga berangkat ke Ambon,” katanya.

Tapi, Ali beda pendapat dengan pimpinan JI. JI menilai konflik Ambon tidak perlu menurunkan kekuatan sepenuhnya. Tapi, pendapat Ali berbeda. Justru kekuatan penuh harus diturunkan ke Ambon karena itu wilayah medan jihad.

Sebab, banyak orang Islam diserang. Dan, itu  harus dilawan. Sebagai kepala kamp pelatihan militer JI Jatim, darah muda Ali berkobar. Ia ingin pasukan yang dilatihnya bertempur habis habisan di Ambon. Semangat jihad berapi api khas anak muda begitu membara dalam dada Ali Fauzi.

Itu karena Ali meyakini konflik Ambon   adalah medan jihad. Karena yang bertempur orang Islam dengan gabungan kelompok Kristen dan separatis RMS. Polisi yang saat itu baru pisah dari TNI tidak mampu mengatasi  gejolak yang ada. Sementara TNI menilai konflik urusan dan menjadi tanggungjawab polisi.

Akhirnya Ali memutuskan pilih bergabung Kompak (Komite Penanggulangan Krisis). Kompak  pun oleh Ali fungsinya diubah menjadi Komando Pasukan Khusus.

 Sejak 1999 sampai 2002,  Ali berada di Ambon. Dari Ambon Ali ke Poso karena pecah kerusuhan di Sulawesi Tengah. Antara kelompok Islam dan Kristen. Saat datang ke Poso tahun 2001 suasananya begitu mencekam. Sebagaian pasukan yang dilatih dan di bawah pengawasan Ali dipindah dari Ambon ke Poso. Bendera yang dipakai Ali tetap Kompak.

Salah satu anak buah Ali Fauzi yang dibawah serta ke Poso dari Ambon adalah Saiful alias Abid , arek Lamongan  yang masuk Poso kali pertama. Ali masih ingat saat pasukannya  menyeberang Jembatan Poso ke arah jalan Mongisidi  dengan cara merayap ditembaki kelompok Kristen. Tapi, jalan terus akhirnya sampai di ujung jembatan.

Untuk meningkatkan semangat tempur warga muslim lokal, Ali mengumpulkan anak anak muda setempat. Jumlahnya saat itu ada 70 orang. Mereka dibawah ke gunung untuk dilatih menembak,  pemetaan, merakit senjata, membuat bom, teknik penyusupan dan kemampuan tempur militer lainnya.

Setelah dilatih 10 hari, anak anak muda disebar, diminta pulang ke kampung  halamannya masing masing. Mereka diminta wajib mempertahankan kampung halamannya jika diserang kelompok Kristen. Mereka tidak boleh lari dan  harus bahu membahu bersama warga muslim lainnya dalam mempertahankan kampung halamannya. ‘’Semua itu tanggungjawab kamu. Kamu sudah bisa menembak,’’ kata Ali Fauzi kepada 70 pemuda muslim yang baru dilatihnya.

Kalau tidak dibangkitkan semangatnya mereka bisa habis. Masalah mental dalam perang sangat menentukan. Karena itu Ali merasa perlu membangkitkan semangat perang alias mental mereka. Skill atau kemampuan berperang juga turut diasah. 

Ke 70 pemuda tadi begitu antusias mengikuti pelatihan karena banyak saudara mereka, ayah, ibu adik atau teman banyak yang terbunuh. ‘’Ini bagian jihad. Musuh harus dilawan, wilayah harus dipertahankan, masyarakat muslim harus dilindungi,’’ ujar Ali penuh semangat.

Ternyata itu sangat efektif. Para pemuda tadi sudah tidak keder dan takut mempertahankan  desanya dari serangan musuh. Mereka juga menularkan ilmu yang didapat dari pelatihan militer ke masyarakat lainnya. Kini, mereka percaya diri dan sudah berani berkebun.

Dari Poso, Ali Fauzan masuk Ambon lagi. Awal tahun 2002 Ambon mulai kondusif. Pasukan Kompak yang berjuang di Ambon dialihkan menjadi juru dakwah. Mengajari warga muslim menggaji, salat dan belajar agama lainnya.

Setiap tiga bulan, Ali Fauzi pulang ke Lamongan dari Ambon atau Poso. Setelah beberapa hari di Jawa balik lagi ke Ambon atau Poso dengan membawa senjata dan bahan bom masih mentah. Bisa ratusan kilogram jumlahnya. Sampai 500 kg photasium clorat. Sesampainya di Ambon atau Poso bahan mentah bahan baru diracik menjadi bom.

Saat pulang ke Lamongan tahun 2002 di rumahnya Desa Tenggulun, Solokuro dibentuk tim khoos atau khusus . Ada Dontor Azhari, Noordin M Top dan ikhwan lainnya. Dalam hati Ali bertanya tanya. Ada apa ini?. Setelah berada di Lamongan satu minggu, Ali Fauzi balik ke Ambon. Ali tidak diikutkan tim khusus yang dikomandani kakaknya Ali Gufron karena tugasnya berbeda. Ali punya tugas melatih dan berjuang di medan konflik. Ali juga tidak setuju jika peladakan bom di lakukan di liar medan jihad. ‘’Makanya, saya tidak dimasukan tim khoss tadi,’ ungkapnya.

Ali Fauzi sendiri mengenal Doktor Azhari dan Noordin M Top saat di Ponpes Lukmanul Hakim, Johor Bahru sejak 1991. Ali mengaku cukup akrab dengan Azhari maupun Noerdin M Top karena sama sama menjadi staf pengajar di Ponpes Lukmanul Hakim.

Saat pulang ke Lamongan dari Ambon naik kapal. Sesampainya di Makassar, Ali mendengar Bom Bali meledak 12 Oktober 2002. Feeling Ali langsung menyimpulkan itu karya orang orang yang kumpul di rumahnya Tenggulun, Solokuro.

Alasan Ali simple saja, tidak ada yang punya kemampuan  membuat bom sebesar itu dengan berat hampir 1 ton kecuali saudara saudaranya. Yakni, Muklas, Ali Imron, DR Azhari dll. 

Saat tiba di Tanjung Perak, Ali Fauzi dijemput Ali Imron yang mengendarai Toyota Crown. Ali Imron pun ngguya ngguyu (ketawa ketawa) saat bertemu di pelabuhan. ‘’Raimu.. (matamu),’’ ujar Ali Fauzi seraya tertawa. Ali Imron yang dikatain bukannya marah malah ikut tertawa..ha..ha..ha . Itu guyonan khas arek Jatim. ‘’Kami berdua selisih umurnya tidak jauh. Jadi, bisa guyonan apa saja termasuk dengan Amrozi. Kami-kami ini  meski saudara tapi seperti teman saja,’’ tambahnya.

Maksud Ali Fauzi guyonan Raimu…yang dimaksud disini bahwa ledakan bom Bali karya Ali Imron dkk. Ali Fauzi yakin itu karena satu perguruan. ‘’Jadi, sudah kami saling tahu,’’ aku Ali Fauzi.

Saat istirahat makan di warung dalam perjalanan pulang ke Lamongan, Ali Fauzi membuka jok belakang mobil yang di bawah Ali Imron. Alangkah kagetnya Ali Fauzi, ternyata ada puluhan aneka senjata. Ada AK 47, ada M -16 dan senjata lainnya. Senjata senjata tadi habis diperbaiki Ali Imron yang jagonya merawat, mereparasi dan memperbaiki senjata. ‘’Ali Imron memang paling jago men-service senjata,’’ tukas Ali Fauzi.

Ali Fauzi dkk tak bisa lama lama di desa mereka Tenggulun, Solokuro. Itu karena polisi menerbitkan sketsa pelaku bom Bali. Apalagi, setelah Amrozi dicokok polisi. Semula polisi juga tidak tahu kalau Amrozi adalah pelaku bom Bali.

Polisi hanya tahu Amrozi terkait kir mobil yang ditemukan di lokasi bom Bali pertama di Legian. Polisi saat itu juga tidak terlalu percaya Amrozi dkk yang dari desa pedalaman Lamongan bisa merakit bom sebesar dan meledak di Legian.

Setelah Amrozi dibawa ke Bali akhirnya polisi tahu kalau Amrozi bagian pelaku bom Bali. Lalu bocor lah nama nama pelaku lainya. Muklas, Ali Imron, Imam Samudra dll.

Begitu Amrozi tertangkap, Ali Imron dan Ali Fauzi langsung kabur dari Tenggulun. Mereka berpencar. Muklas pilih ke Klaten, Ali Imron ngumpet ke pertambakan Samarinda, Kaltim. Sedangkan Ali Fauzi pilih balik ke Mindanao lewat negara bagian Sabah, Malaysia.

Itu karena Ali Fauzi meski tidak termasuk pelaku bom Bali. Tapi, namanya ikut tersebar sebagai orang yang diburu bersama 250 orang yang punya kemampuan merakit bom alumni kamp MILF Mindanao dan alumnus pelatihan militer Kandhahar,  Afghanistan. ‘’Saya termasuk yang dicari polisi,’’ aku Ali Fauzi.

Sesampainya di kamp Hudaibiyah, Mindanao, sekitar awal tahun 2003 Ali Fauzi bertemu lagi Umar Patek dan Abdul Matin atau Dul Matin peracik bom Bali bersaam Dotor Azhari. Dul Matin beberapa tahun kemudian ditembak mati polisi di Pamulang, Tangerang.

Selain jadi instruktur di kamp Hudaibiyah, Ali Fauzi ditugasi mencari kamp baru. Dari kamp lama  Hudaibiyah terus masuk hutan lagi. Kamp baru dinamakan kamp Pawas atau danau. Kamp ini dikhususkan melatih mujahid dalam membuat bom berskala ledak sangat besar. Diatas 100 kilogram hingga ton tonan.

Selama tiga tahun Ali Fauzi menjadi pelatih bagi mujahid asal Philiphina, Malaysia maupun Singapura. Orang orang Indonesia dikenal punya ketrampilan lebih dibandingkan mujahid dari Malaysia, Singapura maupun Philipina sendiri. Khususnya dalam merakit bom.  ‘‘Makanya, banyak yang dijadikan instruktur pelatih,’’ papar Ali Fauzi.

Sekitar tahun 2005, Ali Fauzi bersama lima mujahid lainya berencana mencari lokasi kamp baru. Tiga dari Indonesia, satu MILF dan dua dari Abbu Syayap. Mereka turun ke kota dan jalan tanpa senjata itu lah mereka ditangkap tentara Philiphina.

Mereka dipersalahkan  masuk wilayah darurat militer dan pemberlakuan jam malam. Apalagi, mereka tertangkap di daerah gerilyawan. ‘’Kami berenam dipenjara tanpa proses peradilan. Kami dituduh melanggar jam malam, berkeliaran di daerah rawan dan dicap sebagai gerilyawan,’’ aku Ali.

Dalam penjara selain makan tidak teratur, Ali juga babak belur dihajar tentara Philipina. Ali dianggap gerilyawan dan diminta menunjukkan lokasi persembunyian gerilyawan dan dipaksa menyebut pimpinan pemberontak. Ali menolak, bersikukuh tidak mau menyebut informasi secuil pun. Tak ayal Ali digebuki tiap hari bahkan pernah disterika segala.

Tentara Philiphina meyakini bahwa Ali Fauzi dkk adalah gerilyawan meski saat ditangkap tidak membawa senjata. Petugas makin yakin kalau Ali Fauzi gerilyawan karena dipundak ada bekas hitam (kapalan), bekas selendang   senjata yang sering dipanggulnya.

Badan Ali remuk redam, sampai tumpah  darah. Di saat saat krisis turun pemerintah Indonesia. Lewat Komandan Satgas Bom atau kini berubah Komandan Densus 88 yang saat itu dijabat Irjen Pol Surya Dharma Salim. Anggotanya saat itu antara lain, Tito Karnavian yang kini menjabat Kapolri.

Ali Fauzi pun diekstradisi, dipindahkan ke Jakarta. Semula Ali Fauzi menyangka  polisi akan menyiksa lagi. Ternyata Ali salah duga. Ternyata Ali diperlakukan sangat baik oleh Surya Dharma dkk.

Lukanya diobati,  dirawat di RS yang mewah. ‘’RS-nya  baik sekali. Dalam kamar hanya saya sendiri. Saya bayangkan kalau bayar berapa ya..,’’ kenang Ali Fauzi.

 

Ali Fauzi bersama ibunya, Tariyem. (foto: ngopibareng/bahari)

Setelah sembuh Ali kerap diajak jalan jalan Surya Dharma sambil dinasehati. ‘’ Kamu  kok tega teganya sama ibumu. Bersama empat saudaramu (Ali Imron, Ali Gufron atau Muklas dan Amrozi) melakukan pengeboman. Kasihan ibumu sekarang,’’ kata Surya Dharma.

‘’Ya namanya perjalanan hidup Pak,’’ kata Ali yang juga merasa berdosa atas jatuhnya korban bom oleh saudara saudaranya.

Ali Fauzi tak hanya diperlakukan sangat baik oleh Surya Dharma Salim, tapi juga dibantu masalah keuangan. Kadang Surya kerap menyelipkan uang Rp 2,5 juta ke dompetnya. ‘’Ternyata saya salah sangka sama polisi. Mereka sudah memperlakukan saya sangat baik. Hati saya tersentuh dan tersadar. Ternyata ada juga polisi yang baik. Bukan karena saya dikasih uang lo. Tapi, perlakuan mereka terhadap saya sungguh amat baik dan menyentuh,’’ aku Ali Fauzi.

Kalau pemberian uang, Ali Fauzi mengaku pernah memegang uang dalam jumlah besar saat diberi kepercayaan merekrut personal mujahid yang akan diterjunkan di medan konflik Poso dan Ambon. ‘‘Uang saya saat itu buanyak.. sampai bundelan,’’ aku Ali Fauzi. Saking baiknya, kadang Surya Dharma mengajak Ali Fauzi tidur di rumahnya.

 Apa sampeyan tidak ada niat untuk kabur? ‘’Bagaimana mau kabur. Wong beliau sangat baik. Kalau kabur nanti malah susah. Mau kemana?’’ aku Ali

Untuk membuktikan Ali Fauzi dan 20 anggota Jemaah Indonesia (JI) yang juga diekstradiri dari Philipina tidak terlibat bom Bali, maka Ali dan 20 anggota  JI di cros chek oleh para saksi, pelaku bom Bali dalam beberapa kali persidangan. Baik di Surabaya. Bali maupun Jakarta. Ternyata para saksi dan pelaku bom Bali satu pun tidak ada yang menyebut Ali dan 20 anggota JI tadi terlibat bom Bali.

Akhirnya, Ali Fauzi dan 20 anggota JI pada tahun 2008 dinyatakan tidak terlibat kasus pengeboman Bali 12 Oktober 2002. Polisi pun mengeluarkan  surat pembebasan yang menyatakan Ali dan 20 anggota JI bersih dari kasus bom Bali.

 Setelah itu Ali balik ke Tenggulun, Lamongan untuk mengajar di Yayasan Pendidkan Al Islam yang didirikan almarhum bapaknya Nurhasyim. Yayasan Al Islam dikelola dua kakak tertuanya Ustad Chozin dan Ustad Ja’far Shodiq.

Bersama keluarga besar Tenggulun, Ali Fauzi hampir setiap bulan bezuk ke LP Nusakambangan menjenguk saudaranya Amrozi dan Ali Gufron alias Mukhlas. Dalam setiap bezuk Amrozi selalu minta Ali Fauzi menularkan ilmu, membuat bom kepada mereka yang hendak melakukan jihad.

Bahkan Amrozi titip surat ke Ali ke beberapa orang. Intinya, Amrozi minta Ali mengajari membuat bom. ‘’Tapi, saya pilih tidak melakukan. Saya tidak menanggapi dan melanjutkan permintaan Amrozi. Saya pilih hidup damai,’’ aku Ali Fauzi.

Bahkan Ali Fauzi punya tekad kuat terus maju. Maka, salah satu pilihannya  harus melanjutkan sekolah. Kebetulan setelah lulus Aliyah sederajat SMA di Roudhotul Ilmiah di Kertosono, Ngajuk, Jatim, Ali Fauzi saat di Malaysia sempat melanjutkan sekolah di Mahad Ali setera dengan Diploma 3.

Transkrip  nilai diambil untuk melanjutkan kuliah di Perguruan Tinggi Al-Aqidah di Jakarta Timur. Setahun kemudian Ali menyandang gelar sarjana tarbiyah atau dakwah.

Selain mengajar di Yayasan Al Islam milik keluarganya, Ali yang saat sudah punya dua anak mulai belajar bisnis apa saja. Yang penting halal.

Suatu ketika saat Ali Fauzi diundang seminar sebagai pembicara di Jakarta bertemu dengan Prof Atok Mudor. Pegawai di lingkungan Kemenag yang ditempatkan di Puslitbang.

 Prof Atok Mudor menyarankan Ali Fauzi agar menyambung kuliahnya ke S2.  Ali Fauzi merendah. Niat melanjutkankuliah ada tapi terbentur biaya. ‘’Jangankan untuk kuliah Prof, untuk makan sehari hari saja kadang tidak ada. Bahkan masih minta Ibu. Terima kasih atas perhatiannya Prof,’’ aku Ali Fauzi merendah.

Tapi, kalau ada niat kuliah lagi Prof Mudor bersedia membantu Ali Fauzi. Yang mengejutkan begitu Ali Fauzi tiba di Tenggulun, Lamongan. Esok harinya Prof Mudor  juga datang ke Lamongan. Betapa terkejutnya Ali Fauzi. ‘’Saya nagih janjimu katanya mau kuliah,’’ kata   Prof Mudor.

‘’Kalau ingin kuliah saya uruskan. Kamu bisa daftar on line S2 supaya dapat beasiswa,’’ pinta Mudor.  ‘’Kalau dibantu begini saya berani kuliah Pak,’’ jawab Ali Fauzi semangat.

Kalau nanti belum dapat beasiswa, Prof Mudor bersedia bayari dulu kuliah Ali Fauzi. Singkat cerita Ali Fauzi akhirnya terdaftar sebagai mahasiswa S2 di Universitas Muhamadyah Surabaya (UMS).

Karena belum dapat bea siswa, Ali Fauzi diberi Rp 22 juta oleh Prof Mudor. Bayar kuliah, mengurus administrasi dan biaya bolak-balik Tenggulun-Surabaya habis Rp 19 juta. Sisanya untuk bekal kuliah karena tidak setiap hari Ali Fauzi bisa pulang ke Tenggulun-Surabaya.

Tidak efektif karena jaraknya cukup jauh. Berat di transport. Dari Lamongan kota ke Desa Tenggulun, Solokuro cukup jauh sekitar 50 kilometer. Solokuro lebih dekat ke Paciran di utara Pulau Jawa dekat Tuban.

Selain  jarang ada angkutan umum ke Solokuro apalagi ke Tenggulun. Kalau naik bus harus turun di Paciran di pantai utara Jawa. Atau di Kecamatan Pucuk. Baru nyambung ojek ke Tenggulun yang lumayan mahal karena jaraknya masih jauh.

Karena itu Ali Fauzi lebih suka ‘’menginap’’ di rumah teman teman Surabaya. Ada yang polisi,  ada teman wartawan. Selain hemat biaya, juga tidak terlalu capai. Apalagi, kalau jadwal kuliah padat. Proses perkulihan S2 dijalani Ali Fauzi dengan super prihatin.

Karena tidak jarang untuk ongkos transpotasi Lamongan- Surabaya maupun makan sehari hari selama kuliah juga pas pasan. Apalagi untuk bayar kuliah. Sering telat. ‘’Benar benar masa perjuangan,’’ kenang Ali Fauzi.

Beruntung Ali Fauzi kerap mendapat bantuan teman-teman. Suatu ketika Ali Fauzi salat di Masjid Mapowiltbes Surabaya. Usai salat Ali dijawil seorang polisi. ‘‘Ali Fauzi ya,’’ kata polisi tadi. ‘’Ya, Pak! Benar,’’ aku Ali. Polisi tadi adalah Arbaradir Jumhur yang mengajak ke ruang kerjanya.

Melihat Ali Fauzi kesulitan keuangan, Jumhur pun kerap menyisipkan Rp 1 juta ke dompet Ali Fauzi. Ali Fauzi sendiri dikenalkan ke Jumhur oleh wartawan JP Kardono Setyorahmadi yang saat itu meliput eksekusi saudaranya Amrozi dan Mukhlas alias Ali Gufron.

Sejak bertemu di Powiltabes itu, Ali Fauzi kalau kuliah ke Surabaya kerap menemui Jumhur. Bahkan kalau kemalaman kerap diajak menginap di rumah Jumhur di kawasan Waru, Sidoarjo.

Setiap  pulang Ali selalu disangoni. Bahkan saat belum bisa bayar kuliah, Pak Jumhur lewat utusanya datang ke kampus UMY untuk bayari kuliah Ali Fauzi. ‘’Kesimpulan saya tidak semua polisi jahat. Ada juga polisi yang berhati malaikat. Itu makin menguatkan tekad saya untuk menyadarkan teman teman yang beranggapan polisi itu musuh dan harus diperangi tidak lah tepat,’’ aku Ali Fauzi.

Ali juga tidak tahu mengapa Jumhur begitu baik pada dirinya. Saat gogling di internet Ali Fauzi baru tahu kalau Jumhur itu kalau tidak salah jabatanya saat itu Kanitreskim. Seorang polisi jago tembak terhadap penjahat. ‘’Tapi, tidak tahu beliau begitu baik kepada saya,’’ aku Ali.

Selama mengambil S2, Ali Fauzi  juga terpapar Islam yang Rahmatan Lil Alamin. Beda pendapat boleh, marah boleh tapi hanya sebatas dalam diskusi. Itu Ali Fauzi pelajari dari dosen dan para profesor yang menjadi pengajarnya di UMS. ‘’Saya bisa lebih mngendalikan diri dan belajar menahan amarah jika ada beda pendapat atau pendangan. Kalau dulu, saya langsung marah jika beda pendapat,’’ aku Ali Fauzi.

Ali banyak mengucapkan terima kasih pada dosen dan profesor pengajarnya di UMY. Antara lain, Prof Syafik Muchni,  Saiful Anam, Prof Syamsul Arifin,  Pak Zainudin Maliki dan lainnya.

Dari mereka Ali Fauzi banyak belajar. Dalam diskusi sangat penting mengendalikan amarah meski beda pendapat ‘’Saya belajar sama profesor dan dosen lainnya. Bagaimana  etika diskusi, mencari solusi meski diskusi berjalan  panas berjam jam tapi tetap teroendali, tidak marah. Bisa mengendalikan emosi, menghargai  pendapat orang lain. Itu saya belajar banyak dari mereka,’’ aku Ali.

Sebagai orang yang sering diundang dalam berbagai diskusi, seminar khususnya terkait masalah terorisme dan kekerasan terkait aganma, Ali Fauzi mengaku banyak manfaatnya setelah mengambil S2. ‘’Bisa lebih bijak, lebih pede saat ngomong dan tidak memaksakan kehendak kepada lawan bicara,’’ aku bapak tujuh anak itu.  Ali Fauzi akhirnya lulus S2 tahun 2011 dengan menyandang margister pendidikan Islam.

Kini, Ali Fauzi selain kerap diundang mengisi seminar terkait terorisme. Ali juga jadi langganan sumber berita baik koran maupun TV. Terutama saat ada ledakan bom. Ali juga pernah mendapat bea siswa keliling negara Jepang dari Google. Yang mengusulkan seorang asing. ‘’Saya keliling beberapa kota di Jepang. Luar biasa Jepang. Terutama disiplin dan etos kerjanya patut ditiru,’’ ungkap Ali. (bahari/habis)