Berkhidmat Atas Dasar Kesukarelaan, Ini Panggilan Muhammadiyah

21 Feb 2019 00:45 Khazanah

Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah mengingatkan anggota, pimpinan dan siapa pun yang berkhidmat di Muhammadiyah untuk meneraca seberapa jauh kontribusi dalam menjalankan program dan kegiatan yang diamanatkan kepadanya.

Hal ini perlu diserukan, mengingat dihadapakan pada tantangan yang akan dihadapi Muhammadiyah semakin kompleks. Sehingga, menggarap amal usaha, program dan kegiatan unggulan merupakan mandat yang harus dengan serius dituntaskan.

“Karenanya, merupakan saat yang tepat pada kesempatan tanwir ini kita meneraca amanat yang singgah di pundak masing-masing untuk dengan serius dituntaskan," kata Haedar, dalam keterangan diterima ngopibareng.id, Rabu 20 Februari 2019.

"Muhammadiyah sebagai tempat berkhidmat atas dasar kesukarelaan yang tidak ada paksaan. Akan tetapi, sebagai pimpinan ataupun kader tetap harus memiliki komitmen dalam setiap menjalankan amanat yang diembannya."

Ajakan tersebut sebelumnya disampaikan Haedar dalam sambutan iftitah sidang pertama Tanwir Muhammadiyah 2019, belum lama ini, di Kampus Universitas Muhammadiyah Bengkulu.

Muhammadiyah sebagai tempat berkhidmat atas dasar kesukarelaan yang tidak ada paksaan. Akan tetapi, sebagai pimpinan ataupun kader tetap harus memiliki komitmen dalam setiap menjalankan amanat yang diembannya.

Merujuk pada putusan Muktamar 2015, terhitung secara makro terdapat sebanyak 6 program umum dan 21 program perbidang yang mesti dilaksanakan secara tuntas.

Tingginya frekuensi program yang harus dituntaskan di sisa kurang lebih satu setengah tahun pada periode ini. Maka, diperlukan melakukan akselerasi sebagai wujud keseriusan pertanggungjawaban pada organisasi.

Bukan hanya soal tantangan zaman, ajakan ini menurut Haedar merupakan perintah suci yang terdapat dalam Al-Quran.
“Silakan kita merujuk pada surat Al Isra' ayat 13-14, disana selain perintah untuk meneraca amal perbuatan kita,” tambah Haedar.

Maka, Muhammadiyah ingin menjadikan Islam teraktualisai dalam wujud Beragama yang Mencerahkan. Langkah pencerahan dimulai dari usaha mengelorakan kembali gerakan pencerahan di internal persyarikatan, kemudian untuk kebersamaan menyebarluaskan dan mengaktualisasikannya keluar di lingkungan umat Islam, bangsa, dan kemanusiaan universal. (adi)

Reporter/Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini