Beragama dengan Rileks ala Gus Dur

29 Jun 2019 10:10 Arif Afandi

Alissa Wahid baru saja menerima kembali Medali Ramon Magsasay milik KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang hilang. Konon, penghargaan terhadap kiprah Gus Dur di bidang Hak Azasi Manusia dan kemanusiaan itu raib dicuri orang.

Karena itu, ketika medali Nobel Asia itu ditemukan pengusaha Surabaya dari toko rombeng dan dikembalikan ke keluarga, Allisa tampak tak kuasa menahan haru. Putri pertama Gus Dur itu terlihat meneteskan air mata saat menerimanya kembali dalam acara Gusdurian di Surabaya.

Kalau saja Gus Dur masih hidup, ia pasti tak peduli dengan medali yang hilang itu. Presiden RI Keempat ini dikenal cuek soal kepemilikan. Cucu pendiri NU KH Hasyim Asy'ari ini tak pernah memikirkan diri sendiri, apalagi yang menyangkut kebendaan. Ia tak serta merta membangun pondoknya meski menjadi orang pertama di ormas Islam terbesar di negeri ini.

Tapi kebesaran Gus Dur tak hanya itu. Ia adalah seorang cendikian muslim yang berpengaruh di dunia. Ia tokoh LSM yang disegabo di zaman negeri ini masih otoriter. Ia pemimpin Muslim yang dihormati tidak hanya oleh kaum Muslim. Ummat agama lain pun sangat mencintainya sampai sekarang.

Cara dia beragama yang mencerahkan, komitmennya kepada kemanusiaan dan keadilan, membuat semua itu layak diperolehnya. Gus Dur menjadi sosok yang selalu dirindukan. Apalagi saat agama menjadi alat sekelompok penganutnya untuk mengecilkan dan membenci penganut agama lain seperti yang menggejala saat ini.

Ini secuil kisah Gus Dur bagaimana menyikapi kelompok gandrung agama dengan menyalah-nyalahkan dan membenci umat lainnya. Cerita ini terjadi di awal tahun 1990-an atau menjelang masa akhir pemerintahan Orde Baru yang dipimpin Soeharto selama 32 tahun.

Pada masa itu, di Jogjakarta saya sering mengundang Gus Dur untuk Forum Group Discussion (FGD). Membahas masalah keagamaan, politik bangsa, dan berbagai hal aktual. Dalam kegiatan tersebut, saya selalu melibatkan pihak-pihak yng berseberangan secara pemikiran dengan Gus Dur seperti M Amien Rais dan para pengikutnya.

Suatu ketika, diskusi berlangsung panas. Salah seorang peserta sempat menyerang Gus Dur secara personal. Mereka menganggap Gus Dur telah berkhianat terhadap perjuangan umat Islam di Indonesia. Ini karena sikapnya yang selalu kritis terhadap ICMI (Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia), sebuah kelompok muslim yang lebih dekat dengan Soeharto.

Merasa tidak enak dengan Gus Dur, saat mengantarkannya ke bandara, saya meminta maaf. Sambil menyelami apakah Gus Dur marah diperlakukan seperti itu oleh pembicara lainnya. "Gus, kok bisa ya seorang cendekiawan bersikap demikian ke njenengan. Masak seorang Gus Dur dianggap pengkhianat perjuangan Islam," kata saya.

Gus Dur menanggapi itu dengan kalem. "Nggak apa-apa Mas. Mereka itu kan santri anyaran. Lagi bersemangat karena merasa menjadi pejuang Islam. Kalau kita kan sejak kecil, bahkan masih di kandungan sudah muslim dan menjadi santri. Nggak usah dirisaukan," katanya sambil tertawa.

Gus Dur memang tak pernah risau dengan berbagai serangan yang dilontarkan penentangnya. Ia tetap lurus dengan paham keagamaan yang dianutnya. Paham keagamaan yang menyatu dengan kehidupan bangsa Indonesia yang beragam. Paham keagamaan yang inklusif, bukan ekslusif.

Paham seperti ini yang sekarang banyak disalahkan kelompon Islam ekslusif di Indonesia. Kelompok yang memperjuangkan Islam dengan cara keras, menthentheng, dan tidak ramah. Pasti, kalau masih hidup sekarang, Gus Dur pasti akan dikafir-kafirkan dan dimurtadkan. Seperti yang diterima kelompok Islam yang memperkenalkan Islam Nusantara.

Ada pelajaran yang bisa dipetik dari tanggapan Gus Dur yang cuek dan santai itu. Yakni cara dia beragama yang rileks dan santai. Beragama yang tidak mempersulit kedudukan Muslim sebagai umat manusia yang harus bergaul dengan umat beragama lainnya. Ummat yang berada di dalam negara bangsa yang beragam suku dan bangsa.

Gus Dur juga sering menetralisir suasana ketegangan dengan humornya. Ia kaya dengan gurauan, joke, dan cerita yang membuat banyak orang tertawa saat mendengarnya. Cara ini yang membuat ketegangan akibat pertentangan antar kelompok dan golongan menjadi lebih lumer dan ringan.

Gus Dur memang belum ada duanya. Cueknya, humornya, keteguhannya dalam melawan ekslusivisme beragama, dan menempatkan persatuan dan kesatuan bangsa di atas segalanya. Gitu saja kok Repot! (Arif Afandi)

Penulis : Arif Afandi
Editor : Azhari


Bagikan artikel ini