Belajar Rasanya Kalah dari Prabowo

12 Apr 2019 05:04 Ajar Edi

Apa yang akan terjadi tanggal di 17 April 2019 malam? Setelah hasil hitung cepat pilpres mulai bertebaran di televisi. Apa yang akan dirasakan Pak Joko Widodo (Jokowi) dan Pak Prabowo?

Jika yang menghampiri adalah kemenangan, ya jangan tanya. Pasti sangat menyenangkan. Bisa jadi, keramaian berlangsung tujuh hari tujuh malam. Mirip kendurian pernikahan.

Namun bagaimana jika kekalahan yang membekap?

Ayo, kita mulai dari Pak Prabowo. Kalau dia kalah lagi, seharusnya ini tidak masalah. Mungkin lho ya. Wong dia sudah merasakan kekalahan bertubi-tubi menuju kursi Presiden RI. Atau barangkali, dia sudah imun.

Pertama, mantan Danjen Kopassus ini kalah di konvensi Partai Golkar di 2004. Hasil konvensi menugaskan Jenderal (Purn.) Wiranto berpasangan dengan KH Salahuddin Wahid. Ibu Megawati berpasangan dengan KH Hasyim Musyadi. Saat itu, dua pasangan ulama itu ditumbangkan oleh Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Pak Jusuf Kalla (JK).

Lantas, di Pilpres 2009, Pak Prabowo membayangkan akan maju berpasangan dengan Pak Soetrisno Bachir (SB). Pengusaha dari Pekalongan yang saat itu Ketua Umum PAN. Kredo pasangan militer dan pengusaha, mirip SBY-JK.

Keduanya sudah runtang-runtung. SB pun bergerak lincah. “Hidup adalah Perbuatan,” slogan kampanye SB, saat itu bertebaran di mana-mana.

Baliho terpampang di pinggir jalan, di dekat Makam Sunan Giri di Gresik, hingga ngiklan di bioskop. Namun, sejarah sepertinya tak memihak. Pasangan ini layu sebelum tumbuh.

Akhirnya Pak Prabowo menerima pinangan Ibu Megawati di Pilpres 2009. Sedangkan Pak JK mengajak Pak Wiranto. Pertempuran terjadi lagi. Namun, Pak SBY dan Prof. Boediono jadi jawaranya.

Di Pilpres 2014, pendiri Partai Gerinda ini maju lagi. Kali ini mengandeng Pak Hatta Rajasa, mantan Ketua Umum PAN dan Menko Perekonomian. Apa lacur, pasangan ini kalah lagi. Takluk oleh pasangan kuda hitam, Gubernur Joko Widodo dan Pak JK.

Bisa jadi, peristiwa ini yang paling menyakitkan. “Sakitnya tuh di sini,” kalau mau mengutip penyanyi dangdut Cita Citata. Semua mahfum, Pak Prabowo yang mengorbitkan Pak Jokowi ke pentas politik nasional.

Dari seluruh perjalanan ini, tergambarkan kalau Pak Prabowo adalah pribadi penuh semangat. Tidak ada kata menyerah di kamusnya. Bisa dikatakan, dialah yang paling berpengalaman bertarung di pilpres. Walau selalu kalah. Entah kalau sekarang, sejarah berkata lain.

Wajar kalau kini semangatnya makin deras. Dalam setiap kampanye, ribuan masa mengelu-elukannya. Terakhir, kampanye akbar di Gelora Bung Karno pada Sabtu, 6 April lalu. Kampanye itu telah memompa kepercayaannya di level tertinggi. Tapi, kalau dia kalah lagi, tentu ini makin menyakitkan.

Sekarang giliran Presiden Jokowi. Dia tidak pernah kalah di setiap pertarungan politik. Dari Walikota Solo dua periode, lantas bertarung di Gubernur DKI Jakarta. Semuanya lancar jaya, seperti jalur jalan tol pantai utara Jawa yang dibangunnya. Yang walau kini, banyak sepi peminat. Karena mahal tarifnya tentu saja.

Di media sosialnya, Pak Jokowi menulis, “Saya tidak datang dari lingkungan elit, apalagi elit politik. Saya datang dari kampung.” Pak Jokowi sepertinya masih ingin menjual kesan dia orang kampung yang lebih paham masalah warga kebanyakan.

Oh ya, Pak Jokowi juga ingin menegaskan, posisinya sekarang karena berkah dari Allah SWT. Bukan karena peran seseorang. Ini juga menegaskan level keislamannya yang selama ini banyak dipertanyakan. 

“Hanya karena kehendak Allah SWT jualah saya dapat menjadi Wali Kota, kemudian menjadi Gubernur, dan sekarang menjadi Presiden. Logika politik bisa saja tak masuk, tapi siapa bisa menentang kehendak Allah SWT,” tulisnya.

Kalimat penutup Pak Jokowi di media sosialnya, juga bisa diartikan, Pak Prabowo bisa jadi Presiden RI kalau Allah SWT berkehendak. Walau sekarang, logika politiknya menyatakan tidak mungkin. Karena hasil sigi dari beberapa lembaga survey menampilkan rating Pak Prabowo masih di bawah Pak Jokowi.

Bisa jadi, kalau Pak Jokowi kalah, dia akan lebih cepat legowo. Ya, karena dia datang bukan dari siapa-siapa. Tapi apa pun itu, kekalahan memang menyisakan luka. Entah, secepat apa kering dan sembuhnya.

Di masa tenang, semoga ada kesempatan Pak Jokowi dan Pak Prabowo bertemu. Empat mata. Ngobrol dari hati ke hati. Minum teh Bersama di beranda Istana.

Bertukar cerita-cerita lucu selama kampanye. Pak Jokowi bisa berbagi cerita, apakah benar di Istana banyak hantunya. Atau bercerita nikmatnya tinggal di paviliun di belakang Istana Bogor. Atau bagaimana cara dia marah ke menteri saat mereka tidak mengerjakan perintahnya.

Di saat itu, Pak Jokowi juga bisa belajar dari Pak Prabowo rasanya kalah seperti apa. Bagaimana mengelolanya. Juga upaya menumbuhan semangat agar bisa bertarung lagi.

Yang paling penting, keduanya harus meyakinkan para pendukungnya. Kalau Pak Jokowi yang menang, ya Pak Prabowo bisa meyakinkan Pak Amien Rais untuk membatalkan rencana people power. Lebih baik masa pendukungnya diarahkan membantu Gubernur Anies Baswedan menangani banjir.

Kalau Pak Prabowo yang menang, ya Pak Jokowi menenangkan para pendukungnya. Agar semua menerima. Sebab, setelah pilpres semuanya selesai.

Semua menghormati hasilnya. Walau semua sudah berusaha sebesar kemampuan masing-masing, tapi pemenang adalah kehendak Allah SWT. Jadi, mari selow saja. Beraktifitas seperti biasa, membangun Indonesia bersama-sama.

*) Ajar Edi adalah kolomnis ngopibareng.id

Reporter/Penulis : Arif Afandi


Bagikan artikel ini