Pesta Seks di Prigen, Pelaku Tawarkan Melalui Twitter

18 Jul 2019 18:55 Kriminalitas

AK, pria 44 tahun, asal Sambikerep, Surabaya, yang ditetapkan sebagai tersangka penyedia jasa pesta seks, ternyata adalah seorang mantan guru salah satu sekolah swasta di Surabaya.

"Di KTP-nya tertulis guru, tapi pengakuannya mantan guru salah satu sekolah di Surabaya. Bulan Mei kemarin baru resign," ujar Aldy, saat ditemui di Mapolda Jatim, Kamis, 18 Juli 2019. 

Kepada penyidik AK mengaku bisnis pesta seks yang ditawarkan ini bermula ia dan pasangannya menawarkan melalui akun media sosial Twitter. Dari situ ada beberapa orang yang tertarik. Mereka kemudian bertransaksi dan janjian bertemu di salah satu villa di Prigen, Pasuruan, Jawa Timur

Bagi yang tertarik, AK menarik tarif Rp500 ribu hingga Rp 700 ribu per orang. Uang yang terkumpul digunakannya untuk menyewa satu perempuan untuk bergabung dalam pesta itu. Tarif perempuannya di bawah Rp500 ribu, sisanya dikantongi AK sebagai keuntungan.

"Di akun Twitter, saya dan pasangan melakukan dm (direct message). Biasanya para tamu request diadakan sebuah event atau party. Maka saya mencoba mengontak teman-teman, baik itu pasutri maupun single untuk bergabung," kata AK.

Pengakuan AK, pesta seks itu juga sebagai bagian dari fantasinya bisa berhubungan dengan pasangan yang merupakan bukan istri sahnya. Ia mengaku merasa senang bisa menyenangkan orang lain.

"Kami datang setengah 10 malam kemudian dilakukan kegiatan karaoke mabuk kemudian dimulai dari joget. Teman saya perempuan melepas baju tapi kita tidak ganti pasangan," kata Agus.

Agus juga menyebut dalam pesta seks itu ada juga pelanggan yang berasal dari kelompok swinger atau tukar pasangan. Ada pula peserta yang tak memiliki pasangan.

"Di kelompok kami ada yang namanya swinger tukar pasangan atau ada juga yang single. Jadi kelompok swinger bertukar pasangan ada yang hard swing atau soft swing," ujarnya.

Dari keterangan pelaku yang lain, dalam seminggu bisa melakukan pesta sebanyak tiga kali. Namun, dalam pengakuannya, AK baru sebanyak empat kali menggelar pesta seks.

“Mereka bisa melakukan pesta seminggu tiga kali. Tapi berdasarkan keterangan tersangka baru empat kali menggelar pesta seks,” kata dia.

Penulis : Farid Rahman
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini