Bayu Skak Curhat Film Yo Wis Ben Pernah Diremehkan Produser

11 Sep 2019 23:50 Film

Komedian sekaligus film maker, Bayu Eko Moektito atau dikenal sebagai Bayu Skak, berbagi kisahnya dalam bisnis industri kreatif seperti di film dan YouTube.

Bayu mengisahkan suka-dukanya ketika membuat film "Yo Wis Ben". Kala itu, ia pernah ditolak karena filmnya menggunakan bahasa Jawa.

"Film Yo Wis Ben itu saya pernah beberapa kali ditolak oleh production house. Bahkan sama produser saya waktu itu disuruh ganti pakai bahasa Indonesia," ungkapnya.

Bayu melanjutkan, pihak produser bahkan menganggap remeh film besutannya tersebut karena menggunakan bahasa Jawa.

"Akhirnya film Yo Wis Ben, bisa tembus sampai 5 ratus ribu penonton lebih. Lihat itu produsernya senyam-senyum," ujarnya pada acara Seminar Creatonomics Business Creativity Competition (CBCC) 2019, di Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Brawijaya (UB), pada Rabu 11 September 2019.

Dalam acara bertema 'Globalizing Local Wisdom for Sustainability', pria dengan julukan Skak (Sekumpulan Arek Kesel) itu, berpesan untuk jangan pernah minder dengan kearifan lokal masing-masing daerah untuk dibawa ke kancah industri kreatif.

"Terkadang seseorang ketika membawa budaya atau bahasa yang melekat seringkali malu. Entah dianggap ndeso atau nggak keren," pesan alumnus SMKN 4 Malang tersebut.

Bahkan menurut Bayu, keputusan untuk menggunakan bahasa Jawa dalam film Yo Wis Ben saat itu merupakan sebuah pertaruhan.

"Waktu itu produser suruh saya ganti pakai bahasa Indonesia. Tapi saya ingin berdiri sendiri. Akhirnya, ada perjanjian, kalau sampai 5 ratus ribu penonton. Maka saya dapat bayaran," ujarnya.

Berkaca dari pengalaman yang ia dapatkan, Bayu berpesan agar generasi muda jangan sampai malu dengan jati diri mereka.

Ketua Pelaksana CBCC, Muhammad Abdi Dzul Ikhram, mengungkapkan, pihak panitia menghadirkan Bayu Skak karena mampu mengangkat konten lokal dalam karyanya.

"Kami mengangkat tema lokalitas ini karena saat ini generasi muda kita hampir melupakan kearifan lokal. Kita tumbuhkan kecintaan budayanya lagi disini," tutupnya.

Penulis : Lalu Theo Ariawan Hidayat Kabul
Editor : Yasmin Fitrida


Bagikan artikel ini