Jenazah Martha Djumani di Rumah Duka Adi Jasa Surabaya. (Foto: ngopibareng.id)
Kisah Pilu Korban Bom

Batal Menikah karena Calon Jadi Korban

Nasional 15 May 2018 14:42 WIB

Air matanya masih tampak sembab kemerahan. Tatapan wajah, Estefanus Masae (50) sering menatap kosong ke langit-langit menahan air matanya yang akan tumpah. Estafanus sedang berduka. Dia kehilangan calon istri yang sangat ia cintai, Martha Djumani. Martha adalah salah satu korban pengeboman tiga gereja di Surabaya. Martha menjadi adalah salah satu korban meninggal di Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS), Sawahan.

Martha, di komunitas gereja GPPS malah dikenal dengan nama Bing Bing. Justru nama Martha Djumani tak banyak orang yang mengenal. Nama Bing Bing adalah nama Cina punya Martha. Dia mempunyai nama Cina karena ayahnya adalah keturunan Cina, sedangkan ibunya Jawa Kediri.

Sehari-hari Bing Bing memang bekerja sebagai staf di gereja GPPS. Sudah puluhan tahun dia bekerja. Karena dia juga adalah alumni sekolah kitab di gereja ini. Selain bekerja sebagai staf, Bing Bing juga mengajar sekolah kitab untuk anak-anak setiap hari Rabu.  Dia juga punya tugas sebagai penerima tamu saat kebaktian di hari Minggu.

Perkenalan antara Estefanus dengan Bing sebenarnya sudah lama. Karena mereka sama-sama bekerja di gereja yang sama. Estefanus mulai bekerja di gereja ini sejak tahun 2000. Dan saat dia masuk, Bing Bing sudah bekerja di sini.

Bing-Bing adalah perempuan single, sedang Estafenus adalah duda yang ditinggal mati istrinya beberapa tahun yang lalu. Mereka mulai serius untuk menjalin hubungan sejak Februari kemarin. Sejak sepakat menjalin hubungan yang serius, sederet rencana sudah mereka siapkan. Tujuan satu, hidup bersama dalam ikatan perkawinan. Bahkan mereka juga sudah melangsungkan pertunangan.

“Sabtu 13 Mei lalu, kita sebenarnya sudah bertunangan,” kata Estefanus sambil berkaca-kaca.

Pertunangan itu dilakukan di sebuah rumah makan di Jalan Nginden Sabtu petang. Sepasang cincin kawin sudah tersematkan di jari manis mereka. Acara berlangsung meriah. Semua tampak undangan berbahagia dengan pertunangan itu.

Sekitar pukul 22.00 acara pertunangan pun usai. Estefanus mengantarkan Bing Bing ke rumah keluarganya di Jalan Kepatihan Surabaya. Di rumah ini, Bing Bing menyempatkan mandi, membersihkan diri dari riasan make up. Tak lama,Estefanus kemudian mengantarkan Bing Bing ke mess di gereja GPPS.

Dalam perjalanan tersebut, Bing Bing berkata “ Mas cincinnya aku lepas saat mandi tadi. Takut jatuh,” kata Estefanus menirukan ucapan Bing Bing kala itu.

Mendengar ucapan itu, Estefanus cuma berkata, “Loh kok dilepas?” ujar dia. Estefanus pun tak terlalu ngotot meminta Bing Bing untuk memakai cincin kembali.

Estefanus Masae batal menikah karena calon istrinya jadi korban Padahal sehari sebelumnya mereka sudah bertunangan Foto ngopibarengidEstefanus Masae batal menikah karena calon istrinya jadi korban. Padahal sehari sebelumnya, mereka sudah bertunangan. (Foto; ngopibareng.id

Percakapan dalam mobil itu adalah percakapan yang terakhir bersama dengan Bing Bing. Minggu pagi, Estefanus sudah disibukkan dengan kebaktian di rumah warga di sekitar Pakal Benowo. Saat fokus kebaktian itu, Estefanus didatangi oleh petugas Polsek Benowo.

“Polisi itu bilang, Pak kalau bisa dipercepat kebaktiannya, mohon dipercepat,” kata Estefanus menirukan ucapan polisi itu. Estefanus bingung. Ada apa gerangan. Baru setelah kebaktian usai, Estefanus diberitahui bahwa terjadi bom bunuh diri di GPPS. Bing Bing menjadi salah satu korbannya.

Usai kebaktian, Estafanus baru menyadari bahwa ada belasan missed call yang mencoba menghubunginya. Selama kebaktian, dia memang sengaja memasang telepon genggamnya dalam posisi silent.

Mendapati kabar tersebut, Estefanus kemudian bergegas ke beberapa rumah sakit. Rumah sakit pertama yang ia tuju adalah RKZ. Tapi ia tak menemukan calon istrinya di sana. Estefanus kemudian bergeser ke Williamboth. Di rumah sakit ini pun dia tak menemukan istrinya.

“Baru saat akan menuju RS Bhayangkara, saya mendapat kabar kalau Bing Bing dirawat di RSUD Dr. Soetomo Surabaya,” kata dia.

Setelah mendapat kabar itu, dia pun bergegas ke RSUD Dr. Soetomo. Di sana Bing Bing sudah mendapatkan perawatan di lantai III Instalasi Rawat Darurat. Hampir semalam Estefanus berjaga. Upaya terbaik juga sudah dilakukan tim dokter. Namun sayang, nyawa Bing Bing tak tertolong. Senin 14  Mei sekitar pukul 01.00, Bing Bing menghembuskan nafas terakhir.

“Sudah takdir Tuhan. Padahal 11 Juni nanti kita sudah berencana untuk ke NTT bertemu dengan keluarga besar saya. Tahun ini juga kita sebenarnya berencana untuk melangsungkan pernikahan,” kata Estefanus. 

Penulis : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

04 Jun 2018 12:43 WIB

Metamorfosis Stigma Teroris, dari Baju Gamis ke Rambut Klimis

Feature

Sosok teroris selama ini hampir selalu digambarkan dengan sosok yang tertutup dan asosial dengan dengan tetangga. Benarkah?

03 Jun 2018 12:23 WIB

Metaformosis Stigma Teroris, dari Baju Gamis ke Rambut Klimis

Feature

Sosok teroris selama ini hampir selalu digambarkan dengan sosok yang tertutup dan asosial dengan dengan tetangga. Benarkah?

19 May 2018 10:35 WIB

Legislator Usulkan Sekolah di Surabaya Terapkan "Home Visit"

Surabaya

Program dianggap "home visit" ini lebih efektif dalam rangka mendekatkan guru sebagai orang tua di sekolah dengan orang tua yang ada di rumah

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...