Barista Hari Senin

11 Dec 2017 07:56 Barista

Ini hari Senin. Selamat hari Senin. Hari yang memungkinkan full aktivitas. Aktivitas apa saja termasuk ngopi sekalipun.

Di dunia ngopi di Kota Surabaya, pernah menyimpan fenomena Barista Hari Senin. Anak muda, pegiat kopi, yang selalu makai kaos custom unik bertuliskan "Besok Hari Senin".

Kaos itu dipakai pada hari Minggu. Kemudian dia keliling kota Surabaya. Menyisir banyak ruas jalan. Mengunjungi beberapa kedai kopi. Mengunjungi satu-dua mal, berikut menjajal suguhan kopi di coffeeshop-nya.

Dengan aktivitas itu, dia yakin, atau minimal merasa yakin, kaos itu dilirik sekian orang. Dibaca ber-sekian orang. Boleh jadi saat orang membaca, si pembacanya senyum-senyum sendiri.

Bisa hanya senyum simpul. Senyum kecut. Senyum sedih. Senyum tergesa-gesa. Hingga senyum euforia. Semua gaya senyuman itu tergantung bukan pada centhelan, melainkan tergantung pada suasana dan aktivitas apa yang bakal terjadi di Hari Senin.

Yang senyum simpul boleh jadi proposal proyeknya mendapat angin segar pada metting hari Senin, atau proposal disertasinya akan diiyakan oleh sang promotor jika ia sedang menempuh studi S3. Yang senyum kecut, barangkali ada tagihan cicilan yang kudu dibayarkan. Yang senyum tergesa-gesa barangkali masih ada PR mengerjakan rekap target yang belum kelar tapi ngebet jalan-jalan.

Sementara, yang senyum euforia boleh jadi baru saja terima WA ada bonus gede yang bakal tertrasfer di rekeningnya tanpa potongan apapun. Dan seterunya, dan seterusnya. Jadi senyum itu tergantung hari Senin bukan?

Sudah menyusur jalan, sudah mampir di kedai-kedai kopi, sudah ngemall, sudah ngafeshop, esoknya dia memakai kaos beda, juga custom, bertuliskan "Barista Hari Senin". Lalu, bertandang ke kedai-kedai kopi lagi, bertandang ke komunitas kopi lagi, dan boleh jadi juga ke coffeeshop lagi.

Tetapi kali itu dia tidak ngopi. Tidak juga memesan kopi. Melainkan ikut membuatkan kopi buat siapa saja yang memesan menu kopi. Mana bisa? Bisa, asal pemilik tempat memberinya izin untuk ikut "mengacak-acak" bar seduh kopinya. Bisa, asal pemilik tempat memberinya ruang untuk sebuah apresiasi terkait kopi. 

Saat ini sedang hits apa yang dinamakan sosial barista. Nah Barista Hari Senin ini sedang melakoni salah satu fase akvitas sosial barista itu. Dia tidak sekadar membuatkan kopi, tidak sekadar menyeduh kopi, melainkan akan berbagi sudut pandang dengan segala sesuatu yang terkait dengan energi kopi. Bisa saja dari petani kopinya, olah pascapanennya, biji green bean-nya, proses sangrai, karakter kopi, citarasa kopi, hingga sampai yang njlimet dengan teknik seduh kopi.

Biasanya, Senin yang full aktivitas itu, membuat dunia kopi sering ditinggalkan. Orang lupa ngopi. Kakehan pekerjaan, kebanyakan aktivitas, sampai di rumah lalu blek tidur dan tahu-tahu sudah hari Selasa.

Adanya fenomena barista hari Senin yang hanya menyeduh kopi di hari Senin ini cukup indah bagi dunia kopi di Surabaya. Hari Senin menjadi tetap berwarna dengan kopi. Warung, kedai, coffeeshop yang menyajikan kopi-kopi serius tetap berdenyut tanpa halangan.

Sayangnya, satu semester terakhir ini, denyut asik aktivitas barista hari Senin itu seperti hilang tanpa jejak. Memang dunia kopi tidak pantang surut. Kopi masih terus diseduh dan makin menemukan bentuk segmentasinya. Namun aktivitas positif  yang menghilang ini perlu dicari kenapanya. Ngopibareng.id pun lantas mencarinya. 

Jawabnya? Ternyata si barista hari Senin memang terkendala sesuatu. Aktivitasnya memang harus mandeg untuk sementara waktu. Muhammad Noor Fahruzzaman alias Ruzza alias Mastahutek alias Mas Besok Hari Senin rupanya diterima menjadi mahasiswa studi master di Iowa State University, Amerika Serikat. Sesuatu yang keren, sesuatu yang layak dibagi ilmunya bila kelak sudah balik ke Indonesia. Membagi ilmunya seperti saat membagi tetek bengek yang menyelubungi ilmu kopi. Tetek bengek lho ya bukan gerakan tangan Marsha bengek yang lagi hits di instagram itu.

Beragam aktivitas Mas Besok Hari Senin;