Banyak Seniman Gak Percaya Giryadi Telah Tiada

08 Jul 2019 16:35 Seni dan Budaya

Cerpen  Giryadi yang berjudul Hantu Pohon Gayam kemarin dimuat di harian Kompas edisi Minggu 7 Juli. Tapi sayang, Rakhmat  Giryadi, nama lengkap cerpenisnya tidak dapat membaca kembali karyanya itu. Cerita pendek berlatar pengalaman pribadi dan batinnya terhadap pohon gayam yang tumbuh di halaman rumahnya.

Hari Minggu kemarin kondisi kesehatan Giryadi amat kritis,  sehingga harus masuk ICU RSUD Sidoarjo setelah beberapa hari menjalani rawat inap. Dan Senin pagi 8 Juli, Giryadi menghembuskan nafas terakhirnya di ICU. Siang hari,  jenazahnya dimakamkan di TPU Semambung yang letaknya tak jauh dari rumahnya di kawasan sekitar Bandara Juanda.

Lahir di Blitar 10 April 1969, Giryadi adalah anak keempat dari lima bersaudara. Kakak sulungnya adalah kurator, penulis senirupa serta Ketua Jurusan Seni Rupa UNESA, Dr. Djuli Djatiprambudi. 

“Penyakit adik saya ini terlambat diketahui, karena dia takut dokter dan takut obat.  Sejak kecil memang begitu. Untuk minum sebutir obat saja baru bisa masuk kalau sudah menghabiskan lima biji pisang. Dia pendam penyakitnya ini cukup lama, sehingga tau-tau sudah parah,” kata Djuli Djatiprambudi di rumah duka.

Giryadi juga aktif di medsos, terutama Facebook. Banyak temannya yang terkejut, ketika tanggal 24 Mei 2019, dia memposting foto RS Delta Husada, disertai keterangan; Alhamdulillah, akhirnya boleh pulang. Trimakasih doa kawan kawan juga yg telah menjenguk sy di RS. Trimakasih atas dukungan semangatnya.

Sejak itu barulah teman-temannya tahu bahwa Giryadi sedang sakit. Maka teman-temannya mulai datang menjenguk ke rumahnya, serta tidak sedikit pula yang menulis doa dan harapan melalui Facebook. Dalam sepekan belakangan, ada puluhan temannya yang memposting informasi terakhir kondisi kesehatan Giryadi melalui  Facebook.

Giryadi adalah seorang yang multi talenta. Dia adalah wartawan, pernah bekerja di beberapa media antara lain Suara Indonesia, Jatim Mandiri, Surabaya Pagi dan Surabaya Post versi baru.

Tetapi dia juga seniman. Dia adalah sutradara dan aktor teater handal. Dia juga cerpenis, penyair, penulis buku, penerbit, serta pelukis sesuai dengan latar belakang keilmuannya sebagai alumni Jurusan Seni Rupa UNESA.

Saat kondisinya makin melemah karena kanker yang menggerogoti hatinya, Giryadi tetap berusaha untuk berkarya. Seperti yang diceritakannya sendiri   pada dinding akunnya di Facebook tanggal 31 Mei lalu.

Pindahan. Saya memindah komputer ke kamar sebelah. Meja yg biasa sy pakai untuk meletakan komputer sy pakai untuk nggambar. Sy berharap dengan menggambar, tenaga sy kembali pulih. Gambar yg entheng enthengan saja. Ndak perlu ndakik ndakik. Yg penting melatih aliran darah semakin lancar.

Sementara komputer desk yg biasa sy buat kerja sy letakkan di kamar sebelah, biar sy tdak terlalu kepikiran dengan kerja ini itu, sampai larut malam. Sementara, semua kerjaan yg masih tersisa, sy kerjakan pelan pelan, usai subuh (kalau tdk ketiduran) sampai jam 07.00.
Cerpen dll bagaimana. Sy edit di laptop. Timernya kalau, baterai laptop habis. Tapi, pernah sy coba, hanya beberapa paragraf sudah kacau balau, dan badan terasa lelah.
Ya wis lah... Alon alon pokok kelakon, sambil nambani awak biar lebih bugar lagi... Aamiin.

Dari kanan ke kiri Giryadi Bagus Putu Parto Aming Aminuddin Widodo Basuki dan Tengsoe Tjahjono FotoIstimewa
Dari kanan ke kiri; Giryadi, Bagus Putu Parto, Aming Aminuddin, Widodo Basuki dan Tengsoe Tjahjono. (Foto:Istimewa)

Sebagai seniman, Giryadi dikenal ringan tangan. Diminta bantuannya untuk apapun pasti akan dia lakukan. Apalagi dimintai bantuan untuk kegiatan kesenian. Diajak acara pembacaan puisi atau  membaca cerpen, pameran lukisan, main drama, jadi sutradara, atau sekadar diminta bantuan untuk membacakan cerpen atau puisi temannya, dia tak pernah menolak. Itulah sifat Giryadi yang memang suka membantu orang. Salah satu sifat lainnya, dia tidak  banyak bicara.

Salah seorang temannya adalah Bagus Putu Parto, seniman yang juga pengusaha asal Blitar. Bagus dan keluarganya akrab dengan Giryadi, bukan hanya saling berkunjung tetapi juga sering terlibat bersama dalam kegiatan kesenian. Bagus juga melihat Giryadi multi talenta.

“Saya biasa memanggilnya Cak Gir. Di mata saya yang luar biasa, dia adalah motivator yang bersembunyi di belakang layar. Saat kawan-kawannya mulai letih berkesenian, dia mempunyai cara untuk menggairahkan. Dengan cara mempublikasikan, membukukan, atau mengundangnya  menjadi nara sumber. Itu menunjuk jiwa besar, di tengah egosentris yang ada dalam diri seniman. Ia berani berada di depan, sekaligus iklas bila ditaruh di belakang. Luar biasa bila tampil di depan layar,  tetapi sekaligus seorang motivator hebat di belakang layar. Kita lehilangan seniman yang rendah hati dan multi  talenta seperti Cak Gir,” kata Bagus Putu Parto.

Giryadi adalah seniman yang terus berkarya. Para seniman seperti tidak percaya Giryadi telah tiada. Memang, sejak hari ini masyarakat pecinta seni di Jawa Timur tidak dapat lagi melihat karya-karya  terbarunya. Tetapi kita yakin, Giryadi telah menginspirasi banyak orang terutama sesama seniman untuk terus berkarya. (nis)

Penulis : M. Anis


Bagikan artikel ini