Banyak Pedagang Batik Gak Jujur, Kain Sablon Dikatakan Batik

23 Nov 2018 15:13 Ekonomi dan Bisnis

Kepala Subdirektorat Jenderal Warisan Budaya Tak Benda Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Lien Dwiari Ratnawati mengimbau penjual batik untuk jujur tentang dagangannya kepada pembeli.

"Banyak penjual yang tidak jujur. Dia mengatakan yang dijual adalah kain batik asli, padahal dibuatnya melalui proses printing atau sablon. Sedangkan kain batik asli dibuat dengan proses pembantikan tradisional, sehingga harganya memang mahal," katanya di Jakarta, Jumat.

Ia menambahkan batik merupakan salah satu warisan budaya Indonesia yang sudah diakui UNESCO, yaitu proses pewarnaan kain menggunaan malam dan pencelupan dengan motif yang memiliki nilai-nilai tertentu.

Namun, seiring dengan perkembangan teknologi industri, kain bermotif batik juga dibuat secara "printing" oleh industri tekstil tanpa menggunakan proses-proses yang diakui UNESCO.

"Di satu sisi, kami senang karena masyarakat menyambut baik batik dan euforia hari batik yang diadakan setiap tahun. Di sisi lain, kami merasa sedih karena yang lebih banyak dibeli batik printing," jelasnya.

Karena itu, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Direktorat Jenderal Kebudayaan terus berupaya menyosialisasikan tentang batik melalui berbagai pameran.

Selain menampilkan kain-kain batik berbagai motif, pameran tersebut juga kerap kali menunjukkan proses pembuatan batik menggunakan canting, termasuk memberi kesempatan kepada pengunjung untuk belajar mencanting.

Salah satu pameran yang sedang dilakukan Direktorat Jenderal Kebudayaan adalah pameran batik khas Puro Pakualaman Yogyakarta di Cemara 6 Gallery Museum, Jakarta yang berlangsung hingga Jumat.

Sementara itu, pemerhati budaya Yogyakarta Mari Condronegoro mengatakan serbuan batik "printing" produksi industri tekstil tidak bisa dihindari. Namun, hal itu mengancam proses pembuatan batik yang diakui UNESCO.

"Tidak hanya mengancam para pengrajin batik, tetapi juga pengrajin canting dan pembuat malam yang kebanyakan adalah usaha kecil," lanjutnya. (an/ma/ar)

Penulis : M. Anis


Bagikan artikel ini