Banyak ABK Melaut Tanpa ‘Life Jacket’

06 Dec 2018 17:24 Jawa Timur

Masih banyak anak buah kapal (ABK) dan perahu di Probolinggo yang tidak mengenakan jaket pelampung (life jacket) saat melaut. Padahal jaket pelampung itu menjadi salah satu syarat keselamatan berlayar bagi kapal dan perahu antar pulau dan nelayan.

Kementerian Perhubungan (Kemenhub) pun lewat Direktorat Kesatuan Penjagaan Laut dan Pantai (KPLP),  kampanyekan keselamatan berlayar, membagikan 250 unit jaket pelampung di Pelabuhan Pantai Probolinggo, Kamis, 6 Desember 2018.

Direktorat KPLP  yang berada di bawah naungan Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Hubla) Kemenhub menilai, masih banyak pengusaha perkapalan, nakhoda, ABK, hingga nelayan yang mengabaikan keselamatan pelayaran.

Kasubdit Sarana dan Prasarana Direktorat KPLP Ditjen Hubla, F. Zulistian mengatakan, mobilitas manusia dan barang melalui Pelabuhan Probolinggo sangat tinggi. Kapal dan perahu dari pelabuhan di Kelurahan Mayangan, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo itu bertolak ke Pulau Giliketapang, Kabupaten Probolinggo dan Madura.

Belum lagi kapal-kapal nelayan berukuran besar (di atas 20 gross tonage/GT) bertolak dari Probolinggo ke seluruh perairan laut nusantara. Terakhir, ada perahu-perahu nelayan tradisional yang juga juga harus memperhatikan faktor keselamatan pelayaran.

“Bantuan life jacket ini sebagai bentuk tanggung jawab terhadap keselamatan pelayaran. Selain itu untuk meningkatkan kewaspadaan pemilik kapal dan masyarakat umum terhadap pentingnya keselamatan pelayaran,” ujar Zulistian.

Dikatakan keselamatan pelayaran harus menjadi perhatian dan tanggung jawab bersama, baik regulator, operator penyedia jasa serta pengguna jasa. “Khusus Pelabuhan Mayangan Kota Probolinggomemang mobilitasnya tinggi sehingga cocok untuk objek kampanye Keselamatan Pelayaran Tahun 2018,” ujarnya.

Keberadaan Pulau Giliketapang yang berjarak sekitar 3 mil laut dari Kota Probolinggo juga menjadi perhatian Dirjen KPLP. Soalnya, pulau nelayan itu sejak sekitar setahun terakhir telah menjadi objek wisata bahari seperti snorkeling dan diving (menyelam).

“Banyaknya wisatawan dengan tujuan Pulau Giliketapang harus disertai keselamatan pelayaran yakni, mereka harus mengenakan life jacket,” ujar Zulistian. Demikian juga kapal cepat penyeberangan Probolinggo-Pamekasan juga dituntut memperhatikan keselamatan pelayaran.

Salah seorang ABK, Jatmiko, 33 tahun, mengaku gembira saat menerima life jacket. “Saya tidak terbiasa melaut dengan mengenakan jaket pelampung, tetapi demi kelamatan akan saya pakai,” ujarnya.

Bagi masyarakat Probolinggo, masih terbayang kasus karamnya kapal nelayan, KM Cahaya Bahari Jaya asal Mayangan yang tenggelam di perairan Pamekasan, Madura, sekitar sebulan lalu.

Sebanyak enam ABK (termasuk nakhoda) ditemukan tewas, sementara dua ABK masih hilang bersama bangkai kapal nelayan jenis jonggrang itu. (isa)

Reporter/Penulis : Moch. Amir


Bagikan artikel ini