Pertemuan sosialisasi terkait pembangunan Bandara Kediri. (Foto: Fendi/ngopibareng)

Pembangunan Bandara Kediri Masih Terganjal Masalah Tanah

Jawa Timur 24 January 2020 20:50 WIB

Pembangunan Bandara Kediri saat ini masih menyisakan masalah. Apalagi kalau bukan soal tanah. Saat ini, pemrakarsa pembangunan Bandara Kediri masih kesulitan untuk membebaskan lahan yang dibutuhkan. Luasnya memang kecil. Hanya sekitar satu persen dari luas lahan yang dibutuhkan bandara ini. Berdasarkan catatan, tanah yang belum berhasil dibebaskan itu terletak di tiga desa yaitu Bulu Sari, Grogol serta Desa Kecamatan Tarokan, Kabupaten Kediri.

Untuk menyelesaikan masalah pembebasan tanah tersebut, pemerintah pusat yang diwakili oleh pemerintah daerah mengadakan pertemuan dengan warga yang masih alot melepas tanahnya. Dalam pertemuan itu beberapa pejabat pemerintah tampak hadir. Misalnya, Seketaris Daerah Pemerintah Kabupaten Kediri, Dede Sujana, Kepala BPN Kabupaten Kediri, Ketua Pengadilan, Kapolres Kediri Kota serta Mayor Infantri Bagja Sirait staf Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi RI.

Pertemuan ini dipimpin oleh Bagja Sirait perwakilan dari Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi. Dalam paparannya, Bagja menyebut jika ground breaking pembangunan bandara ini rencananya dilaksanakan pada 16 April 2020 nanti. Keputusan ini diambil setelah pemerintah pusat menggelar rapat di Jakarta beberapa waktu lalu. Dalam rapat tersebut juga dihadiri oleh Menteri Agraria dan Tata Ruang, Dinas Perhubungan serta intansi lainya.

"Pemerintah sangat menaruh perhatian kepada warga yang tidak mampu. Tetapi Pemerintah tidak akan suka dengan makelar, yang mencari kesempatan dalam kesempitan untuk mencari keuntungan dalam pembebasan lahan. Pemerintah akan menindak tegas," kata Bagja.

Arik salah satu warga Desa Kecamatan Grogol Kabupaten Kediri yang ikut hadir dalam pertemuan tersebut, mengungkapkan alasan kenapa masih enggan melepas tanahnya. Dia menganggap, harga yang ditawarkan oleh pemrakarsa pembangunan bandara masih di bawah harga pasar.

"Harga yang ditawarkan per satu ru Rp10,5 juta. Padahal dulu saja sekitar 2017 ,harga satu ru sudah mencapai Rp15 juta Intinya harga belum cocok," kata dia.

Ru adalah satuan yang biasa digunakan orang Jawa dalam mengukur luas tanah. Satu ru ukurannya sekitar 3,75meter x 3,75meter = 14, 06 meter persegi atau dibulatkan menjadi 14 meter persegi.

Saat ini, memang belum ada aktivitas yang berarti di lahan yang akan dibangun bandara. Ground breaking pembangunan masih akan dilakukan 16 April 2020 nanti. Pemrakarsa pembangunan bandara saat ini hanya sebatas membuat jalan akses untuk masuknya alat berat.

Pembangunan bandara udara Kediri masuk dalam Proyek Strategi Nasional. Meski masuk dalam Proyek Strategis Nasional namun pengadaan lahannya dilaksanakan PT Surya Dhoho Investama sejak 2017 lalu sampai dengan sekarang. Rencananya, jika bandara ini sudah beroperasi tak hanya melayani penerbangan domestik saja, namun juga internasional. Termasuk untuk kepentingan penerbangan haji dan umroh.

Penulis : Fendhy Plesmana

Editor : Moch. Amir

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

08 Jul 2020 14:35 WIB

Menkeu Umumkan Moratorium Lulusan STAN Tahun Ini

Nasional

Moratorium lulusan STAN bersamaan dengan peniadaan lowongan CPNS.

08 Jul 2020 14:21 WIB

Kenang Ibu Ani, SBY Ciptakan Lagu Jawa, Ini Videonya

Hiburan

Judulnya 'Gunung Limo', agak mirip lagu Didik Kempot.

08 Jul 2020 14:20 WIB

Golkar Ajukan Toni dan Gus Hans Jadi Wawali Machfud Arifin

Pilkada

Mereka direpresentasikan mewakili kaum milenial Surabaya

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...