Bakar Diri di Luar Gedung PBB, Lelaki Kurdi Protes Serangan Turki

26 Oct 2019 10:30 Internasional

Wezir, seorang pengungsi Kurdi Suriah yang tinggal di Jerman. Ia protes dengan membakar diri di depan markas besar Komisaris Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR). 

Ia menderita luka bakar pada 80 persen tubuhnya. Aksi protes Ali Wezir, 31 tahun, melakukan aksi tersebut Rabu 23 Oktober 2019.

"Aksi bakar diri itu untuk menarik perhatian global pada serangan Turki terhadap Pasukan Demokratik Suriah (SDF) yang didukung Amerika di Suriah timur laut," demikian seorang dari keluarga Kurdi di kota Hasakah, Suriah timur laut, merasa sedih.

“Saya berbicara dengannya dua hari sebelum tindakannya itu, dan dia terus mengatakan dia ingin kembali [ke Suriah],” kata saudara perempuannya, Mehbuba, dikutip VOA, Sabtu 26 Oktober 2019.

Silvain Guillaume-Gentil, juru bicara kepolisian Jenewa, mengatakan kepada para wartawan bahwa Wezir diterbangkan ke rumah sakit di Lausanne begitu kobaran api pada tubuhnya berhasil dipadamkan.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Amerika Mark Esper mengatakan ofensif Turki terhadap pasukan Kurdi di bagian timur laut Suriah “tidak abadi”. Kini, Turki “menuju ke arah yang salah” setelah menyepakati perjanjian dengan Rusia untuk melakukan patroli bersama di “zona aman” di kawasan itu.

“Turki menempatkan kami dalam situasi yang sangat buruk,” ujar Esper hari Kamis, 24 Oktober sebelum mengikuti pertemuan NATO di Brussels, Belgia.

Pasukan Turki memasuki bagian utara Suriah dua minggu lalu setelah Presiden Amerika Donald Trump menarik mundur pasukan Amerika dari wilayah itu. Amerika kemudian membantu memediasi gencatan senjata.

Trump pada Rabu 23 Oktober, mengatakan Turki telah meyakinkannya bahwa gencatan senjata itu akan permanen. Ditambahkannya, hal itu akan memungkinkannya mencabut sanksi baru terhadap Turki. Trump menegaskan bahwa tanggungjawab mencapai perdamaian di kawasan itu seharusnya diserahkan pada pihak lain dan bukan semata-mata pada Amerika saja.

“Kita telah memberikan layanan luar biasa. Hasil ini merupakan kerja keras Amerika, bukan pihak lain,” ujar Trump.

“Sekarang kita keluar.. Biarkan pihak lain yang memperebutkan pasir yang sudah sejak lama berlumuran darah itu.”

Presiden bicara tentang upaya Amerika mengakhiri pertikaian antara Turki dan Pasukan Demokratik Suriah SDF yang sebagian besar merupakan warga Kurdi, yang telah menjadi mitra utama Amerika ketika melawan ISIS.

Trump mengatakan, ladang-ladang minyak di Suriah semula dikuasai ISIS hingga Amerika merebutnya dengan bantuan Kurdi.” “Kami tidak akan pernah membiarkan ISIS menguasai kembali ladang-ladang minyak itu," tuturnya, dalam cuitan hari Kamis 24 Oktober.

Setelah melangsungkan pertemuan dengan Ketua Kepala Staf Gabungan, senator faksi Republik Lindsey Graham mengatakan kepada wartawan bahwa Pentagon sedang mempersiapkan rencana untuk mencegah ISIS dan Iran menguasai ladang-ladang minyak di Suriah itu.

Penulis : Riadi


Bagikan artikel ini