Bagikan beras saat pilkada, warga Ciganjur dipenjara tiga tahun. (ilustrasi/unsplash.com)
Bagikan beras saat pilkada, warga Ciganjur dipenjara tiga tahun. (ilustrasi/unsplash.com)

Bagikan Beras saat Pilkada, Warga Jabar Dipenjara Tiga Tahun

Ngopibareng.id Pilkada 30 November 2020 23:10 WIB

Seorang warga berinisial SS divonis penjara selama tiga tahun oleh Pengadilan Negeri Cianjur, Jawa Barat, pada Senin, 30 November 2020. SS terbukti bersalah melakukan pelanggaran pemilu dengan membagikan sembako disertai stiker berisi ajakan memillih salah satu pasangan dalam Pilkada Cianjur 2020.

"Terdakwa juga dikenakan denda Rp200 juta atau subsider penjara karena terbukti melakukan pelanggaran pemilu dengan cara membagikan sembako yang di dalamnya terdapat alat peraga kampanye salah satu pasangan calon, sehingga terjadi pidana pemilu," kata hakim ketua, Glorius Anggundoro.

Mereka memberikan waktu selama tiga hari bagi SS dan kuasa hukumnya, melakukan banding atau menerima putusan itu karena pengadilan menilai sesuai dengan tindak pidana pemilu yang dilakukan SS.

Penasehat hukum SS, Nadia Wike Rahmawati, mengatakan, akan mengajukan banding ke Pengadilan Tinggi Bandung atas vonis tersebut, dalam waktu dekat pihaknya akan mengajukan surat banding dengan alasan kliennya tidak bersalah karena tidak ada unsur ajakan atau kampanye saat memberikan bantuan sembako.

"Kami menghormati vonis yang sudah dijatuhkan hakim, namun kami akan menempuh upaya banding agar klien kami dibebaskan dari tuduhan karena tidak ada unsur kampanye atas apa yang sudah dilakukan semata untuk membantu warga," katanya.

Sementara kuasa hukum AM terdakwa dengan kasus lain pidana pemilu, Sugianto, menyatakan menerima putusan majelis hakim yang dipimpin Anggundoro, terhadap klienya yang harus membayar denda Rp4 juta atau kurungan penjara dua bulan karena dinilai melakukan pelanggaran dengan mengunggah video kepala desa yang menyebut nama seorang calon peserta pilkada.

Dalam video yang direkam AM sejumlah kepala desa menyebut nama seorang calon dan memojokan nama calon lainnya, sehingga video yang tujuannya sekedar iseng akhirnya dilaporkan sebagai tindak pidana pemilu. Majelis hakim menilai tidak ada tujuan mengkampanyekan salah seorang calon, namun unsur pelanggaran tetap terjadi karena disebar luaskan.

"Kami menerima putusan hakim atas perkara yang dijalani klien kami. Harapan kami hal tersebut tidak terulang, meski tidak ada niatan untuk berkampanye atau memojokan salah satu pasangan calon," kata Sugiyanto. (Ant)

Penulis : Dyah Ayu Pitaloka

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

24 Jan 2021 12:43 WIB

Menag Bertemu Uskup Agung, Ignatius: Saya Senang Anda Jadi Menag

Nasional

Uskup Agung Jakarta gembira Gus Yaqut ditunjuk jadi Menag.

24 Jan 2021 12:27 WIB

Bupati Pangandaran dan Wakilnya Positif Covid-19

Nasional

Bupati Pangandaran dan Wakilnya positif Covid-19 usai swab.

24 Jan 2021 12:05 WIB

Ada Aliran Dana dari Luar Negeri di Rekening FPI, Ini Kata PPATK

Nasional

PPATK temukan aliran dana dari luar negeri di rekening FPI.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...