Face-trump (dok:ngobar)
Face-trump (dok:ngobar)

Badan Konsumen AS Anggap Facebook Gagal Merahasiakan Privasi Penggunanya

Ngopibareng.id Internasional 27 March 2018 13:04 WIB

Badan perlindungan konsumen Amerika Serikat (AS), Senin 26 Maret kemarin menegaskan  pihaknya membuka penyelidikan terhadap Facebook karena  dianggap gagal memenuhi janji mereka terkait privasi penggunanya, dan kemungkinan melanggar keputusan persetujuan.

Komisi Perdagangan Federal (Federal Trade Commission/FTC) mengonfirmasi laporan berita dari pekan lalu bahwa pihaknya membuka penyelidikan terhadap pengambilan data Facebook milik puluhan juta pengguna oleh grup konsultan Inggris, Cambridge Analytica.

Meski FTC biasanya menolak mengomentari penyelidikannya, tetapi kali ini mereka mengambil langkah yang tidak biasa dengan mengonfirmasi “penyelidikan nonpublik” terhadap Facebook.

“FTC berkomitmen dengan teguh untuk menggunakan semua sarananya untuk melindungi privasi konsumen,” ungkap kepala perlindungan konsumen sementara, Tom Pahl.

“Yang terpenting di antara sarana ini adalah aksi penegakan hukum terhadap perusahaan yang gagal memenuhi janji privasi mereka, termasuk mematuhi Privacy Shield (kesepakatan privasi antara AS-Uni Eropa), atau yang terlibat dalam tindakan tidak adil yang menimbulkan kerugian besar bagi konsumen dan melanggar Undang-Undang FTC.”

Pahl menambahkan bahwa perusahaan yang sudah menyelesaikan gugatan FTC sebelumnya “juga harus mematuhi ketentuan FTC yang memberlakukan persyaratan privasi dan keamanan data.”

Facebook menandatangani keputusan persetujuan dengan badan konsumen itu pada 2011 yang menetapkan tudingan bahwa mereka menipu konsumen dengan mengatakan bahwa mereka dapat merahasiakan informasi mereka di Facebook, tetapi kemudian mengizinkannya untuk dibagikan dan dipublikasikan.

Pahl mengatakan badan tersebut “mempertimbangkan dengan sangat serius laporan pers baru-baru ini yang menimbulkan kekhawatiran besar terhadap praktik privasi Facebook.”

Facebook sedang menjadi sorotan dunia akibat skandal pencurian  50 juta data penggunanya yang digunakan untuk membantu Donald Trump memenangkan Pemilu Presiden Amerika Serikat 2016 oleh perusahaan Cambridge Analytica. (afp/ik/rr)

Penulis : M. Anis

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

26 Nov 2020 02:27 WIB

Kisah Kecil tentang Ibrahim ibn Thahman, Catatan Ulil Abshar

Khazanah

Cenderung menolak sifat-sifat Tuhan yang bernada antropomorfis

24 Nov 2020 18:02 WIB

Pemilik Akun Sahab Aras Manik di Facebook Dijerat Pasal Berlapis

Kriminalitas

HHG, pemilik akun Sahab Aras Manik di Facebook djerat pasal berlapis.

22 Nov 2020 11:20 WIB

Biden Gantikan Trump, Akun @POTUS Twitter juga Ganti Pemilik

Aplikasi

Akun @POTUS di Twitter dan Facebook diseerahterimakan pada Joe Biden.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...