Karya Febriana yang berjudul lidah dan gawai dalam pameran seni Aurart. (Foto: Pita/Ngopibareng.id)

Krisis Moral Murid Zaman Now Lewat Karya Seni Lukis

Seni dan Budaya 01 December 2019 03:21 WIB

Keresahan atas krisis moral antara murid dan guru dalam dunia pendidikan, membuat para seniman yang tergabung dalam Komunitas Seni Pintu Tengah Surabaya mengelar pemeran seni dari keresahan ini.

Komunitas Pintu Tengah merupakan komunitas yang beranggotakan mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) khususnya mahasiwa jurusan pendidikan seni rupa.

Pameran seni yang berjudul Aurart ini mengusung tema "Dekadensi: Krisis Moral Dalam Pendidikan Saat Ini". Pameran berlangsung mulai 29 November hingga 1 Desember 2019.

"Aurart diambil dari dua kata, yakni 'aura' yang berarti jiwa dan 'art' yang berarti seni.
Aurart dapat diartikan sebagai jiwa berkesenian. Para seniman yang terlibat memberikan pemaknaan mereka masing-masing terhadap tema yang diangkat,"
ujar Ketua Pelaksana Kegiatan, M Ismail Abidin.

Ismail mengungkapkan, krisis moral dalam dunia pendidikan ini bisa dilihat dari video-video viral di media sosial soal kelakuan murid yang kurang ajar pada guru.

"Hal ini diluapkan oleh para seniman yang tergabung dalam Komunitas Pintu Tengah dalam karya seni," kata Ismail.

Melalui pameran ini, mereka berharap bisa memberikan prespektif baru dalam melihat problematika kemunduran moral di ranah pendidikan.

Karyakarya seniman lainnya yang tergabung dalam komunitas pintu tengah Foto PitaNgopibarengidKarya-karya seniman lainnya yang tergabung dalam komunitas pintu tengah (Foto: Pita/Ngopibareng.id)

"Karya seni selalu memiliki makna. Kami memberikan gambaran, misalnya mengenai daya tangkap anak, pengaruh teknologi terhadap mental anak, dan sebagainya," katanya.

Setiap seniman mengungkapkan keresahannya berbeda-beda, seperti Febriana Dwi Rahmawati yang memamerkan karya seni mix media berjudul Lidah dan Gawai.

"Saya menghadirkan dua objek gawai yang berisi chat room serta dua lidah yang berwarna merah. Pada bagian tengah terdapat wajah dengan lidah yang melilit gadget tersebut. Dalam lukisan ini saya ingin menyampaikan bahwa jari lebih licin daripada lidah," kata mahasiswa jurusan pendidikan seni rupa ini.

Ide cerita yang diangkat Febriana ini merupakan kisah nyata dari kakaknya yang juga seorang guru.

"Kakak saya kebetulan guru SMP, banyak temannya yang lebih sepuh menceritakan hal yang sama, yaitu ketidaksopanan murid saat berkomunikasi lewat whatshap," ceritanya.

Ia berharap dengan karyanya ini banyak masyarakat sadar akan pentingnya menanamkan kesopanan pada guru.

Bertempat di Socah Gallery, International Village 2 Citraland Surabaya, sebanyak 20 seniman menghadirkan setidaknya 50 karya seni yang dipamerkan. Pameran ini dipersiapkan selama satu tahun. 

Karya yang dipamerkan beragam. Mulai dari lukis, digital printing, batik, aksesoris, mix media, instalasi, dan sebagainya.

Penulis : Pita Sari

Editor : Witanto

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

27 Feb 2020 15:03 WIB

Enam Artis Ibukota Terlibat Kasus Carding

Kriminalitas

Enam artis diduga berperan untuk endorse

27 Feb 2020 14:34 WIB

Sebelum Berangkat, Warga Tumpang Pitu dapat 'Kunjungan' Ormas

Jawa Timur

Mengaku dari salah satu ormas dan mengaku terganggu dengan warga

27 Feb 2020 12:13 WIB

Propam Polda DIY Usut Polisi yang Gunduli Guru

Nasional

Setelah ada protes dari PGRI.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.