Asyik...Dollar AS Terus Melemah, Semoga Rupiah Tambah Gagah

22 Aug 2018 09:27 Ekonomi dan Bisnis

Mata uang Dollar Amerikat Serikat terus melemah. Ini setelah Presiden Dolad J Trump mengkritik kebijakan moneter Bank CentraL AS The Fed. Akankah pelemahan Dollar AS ini secara otomatis memperkuat nilai tukar Rupiah? Semoga.

Di hari kerja sebelum libur nasional Idul Adha, Rupiah tak punya digdaya. Dalam transaksi antar bank di Jakarta, Rupiah diperjualbelikan dalam kondisi melemah empat poin menjadi Rp 14.570. Sebelumnya, Rupiah laku Rp 14.566 per US Dolar.

Trump yang sedang gencar melakukan perang dagang dengan Tiongkok ini memang tak ingin US Dolar terlalu kuat. Ia pun mengkritik The Fed yang telah menaikkan suku bunga utama. Menurutnya, kebijakan The Fed itu tak membantu peningkatan ekonomi AS.

Terang saja, kritik Trump ini memicu aksi jual US Dolar sampai dengan Selasa pagi waktu setempat atau Rabu (22/8/2018) waktu Indonesia. Pelemahan dolar ini sudah menyebabkan harga emas naik.

 

Sayang, saat pelemahan nilai dolar ini, kita sedang libur nasional. Sehingga perdagangan mata uang tidak berlangsung seiring dengan tutupnya dunia perbankan. Biasanya, pelemahan nilai Dolar AS diikuti dengan penguatan rupiah.

Menurut laporan Reuter yang dikutip Antara, aksi jual dolar AS berlanjut hingga akhir perdagangan Selasa (Rabu pagi WIB). Ini menyusul kritikan Presiden AS Donald Trump terhadap ketua Federal Reserve untuk menaikkan suku bunga.

Trump mengaku "tidak senang" dengan kebijakan kenaikan suku bunga Ketua The Fed, Jerome Powell. Disebutkan bahwa bank sentral AS harus berbuat lebih banyak untuk membantunya meningkatkan ekonomi.

Komentar Trump datang ketika pasar bersiap untuk rilis risalah pertemuan kebijakan Federal Reserve pada Rabu waktu setempat. Juga simposium tahunan Jackson Hole untuk petunjuk arah kebijakan moneter AS, yang akan menampilkan pidato Powell pada Jumat (24/8).

"Meskipun terlalu dini untuk mengatakan bahwa The Fed akan mendengarkan (komentar suku bunga Trump), itu memiliki efek ambil untung terhadap dolar AS," kata Samarjit Shankar, direktur strategi global BNY Mellon di New York.

 

Selama ini, presiden AS jarang mengkritik The Fed, yang independensinya dianggap penting untuk stabilitas ekonomi. Namun, Trump telah membuat pengurangan defisit perdagangan AS sebagai prioritas, dan kombinasi kenaikan suku bunga serta penguatan dolar AS menimbulkan risiko bagi pertumbuhan ekspor.

"Tampaknya Trump akan mempertahankan dolar AS sedikit di sisi yang lemah agar tetap kompetitif," kata kepala analis pasar CMC Markets David Madden.

Tugas itu mungkin terbukti sulit. "Mendorong dolar AS turun untuk jangka panjang bisa menjadi tugas yang sulit dengan taruhan lebih aman di tengah kekhawatiran tentang perang perdagangan dan krisis ekonomi Turki," kata analis di Western Union Business Solutions.

Meningkatnya ketegangan perdagangan antara Amerika Serikat dan mitra dagangnya serta penurunan lira Turki telah memperkuat dolar AS, karena pasar mencari investasi yang kurang berisiko pada saat terjadi gejolak geopolitik. (Rif/antara)

Penulis : Azhari


Bagikan artikel ini