Ny Lily Wahid, adik kandung Gus Sholah saat menyaksikan pemakaman Gus Sholah di Pesantren Tebuireng Jombang. (Foto: ngopibareng.id)

Astaga! Hujan pun Tertunda Saat Pemakaman Gus Sholah

Nasional 03 February 2020 21:39 WIB

Prosesi pemakaman KH Sahaluddin Wahid, Senin 3 Februari 2020 berubah dari yang dijadwalkan. Menurut rencana, pemakanan dilangsungkan pukul 16.00 WIB usai Shalat Ashar, namun akhirnya dimajukan pada sekitar pukul 14.30 WIB.

Ada yang istimewa, dalam proses pemakaman putra KH Wahid Hasyim ini. Meski desa-desa di sekitar Tebuireng, Kecamatan Cukir, Jombang sebagian besar telah hujan, namun di sekitar Pesantren Tebuireng Jombang tidaklah terjadi hujan.

"Ini cukup istimewa. Dengan menyegerakan pemakaman memang cukup banyak hikmah dan keistimewaannya," tutur Arif Afandi, CEO ngopibareng.id, saat berziarah.

Memang, selama penyambutan jenazah Gus Sholah, hingga prosesi pemakaman yang berlangsung -- 1,5 jam lebih cepat dari rencana, pukul 16.00 WIB -- suasananya benar-benar sejuk. Mendung menyelimuti Dalem Kasepuhan, tempat janazah datang dan diberangkatkan ke lokasi makam. Hal itu justru membuat suasana semakin haru.

Selama berlangsung pemakaman, hujan seakan ‘terhenti’ di desa (tetangga) sebelah. Bagian (selatan) Desa Cukir terlihat hujan begitu lebat, pun desa menuju Diwek, hujan deras menggujur jalan. Tetapi, begitu prosesi pemakaman usai, hujan itu pun mengguyur pondok pesantren, dan ini tidak menyurutkan langkah pentakziah masuk ke lokasi makam.

Sebelumnya, selama seharian sebelum jenazah tiba di Tebuireng Jombang, yang diberangkatkan dari Jakarta, para santri memenuhi Masjid Pesantren Tebuireng. Mereka melantunkan Surat Al-Ikhlas secara terus-menerus. Tanpa putus. Suasana penuh sesak. Jamaah salat jenazah pun meluber ke halaman depan.

Saat salat jenazah (pertama) dilangsungkan, KH Fahmi Amrullah (Gus Fahmi), pengasuh Ponpes Tebuireng, bertindak sebagai imam. Begitu memimpin doa, Gus Fahmi tak kuasa menahan isak tangis. “Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu,” terdengar suara Gus Fahmi bergetar, terbata-bata.

KH A Mustofa Bisri di tengahtengah lautan manusia pentakziah di Tebuireng Jombang Foto ngopibarengidKH A Mustofa Bisri di tengah-tengah lautan manusia pentakziah di Tebuireng Jombang. (Foto: ngopibareng.id)

Seperti diketahui, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang, Jawa Timur, KH Salahuddin Wahid alias Gus Sholah meninggal pada Ahad, 2 Februari 2020. Cucu pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asy’ari itu meninggal setelah melewati masa kritisnya di Rumah Sakit Harapan Kita, Jakarta.

“Gus Sholah baru saja wafat, pada pukul 20.55. Mohon dimaafkan seluruh kesalahan. Allahummaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu,” kata putra Gus Solah, Irfan Wahid, Ahad, 2 Februari 2020. Menurut rencana, jenazah akan dimakamkan di Kompleks Makam Tebuireng Jombang, Senin 3 Februari 2020, usai Shalat Ashar.

Jenazah almarhum KH Salahuddin Wahid tiba di Bandara Juanda, Sidoarjo, Senin 3 Februari 2020, siang ini. Disambut Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, sekaligus yang membawa foto Gus Sholah, menuju ke Pesantren Tebuireng Jombang.

Memang, meninggalnya Gus Sholah benar-benar dirasakan kehilangan bagi masyarakat Jawa Timur. Pangdam V/Brawijaya Mayor Jenderal TNI R. Wisnoe Prasetja Boedi dan Irjen Luki Hermawan dan Kapolda Jatim angkat peti jenazah almarhum Gus Sholah. Dalam rombongan tersebut, Khofifah langsung menyambut Ny Farida Salahuddin, istri Gus Sholah, bersama keluarganya.

Jenazah tokoh nasional tersebut diberangkatkan dari rumah duka di Jalan Bangka Raya 2C Jakarta, menuju ke Bandara Halim Perdamakusumah di Jakarta. Diberangkatkan melalui pesawat Batik Air, penerbangan khusus, menuju ke Pesantren Tebuireng Jombang diperkirakan pada pukul 12.00 WIB. Selanjutnya pada pukul 14.00 WIB, disemayamkan di Masjid Pesantren Tebuireng untuk disalatkan.

Dalam sambutannya, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyampaikan secara terbata-bata. Namun, ia menguncapkan rasa syukur dan terima kasihnya atas sumbangsih dan perjuangan Gus Sholah dalam pengembangan dunia pendidikan, khususnya pesantren di Jawa Timur.

Para pentakziah tampak Prof M Nuh Prof Masud Said KH Marzuki Mustamar dan Arif Afandi Foto BisringopibarengidPara pentakziah, tampak Prof M Nuh, Prof Mas'ud Said, KH Marzuki Mustamar, dan Arif Afandi. (Foto: Bisri/ngopibareng.id)

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

31 May 2020 02:47 WIB

Sejarah, Makna dan Tradisi Lebaran Ketupat di Berbagai Daerah

Feature

Sejarah ketupat diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga.

31 May 2020 02:38 WIB

Doa Mengetuk Alam Ruhani, Mengubah Alam Fisik

Khazanah

Pesan Islam dalam perspektif tasawuf di masa Pandemi COVID-19

31 May 2020 01:29 WIB

Anak Tenaga Kesehatan Covid-19 Dapat Prioritas di PPDB SMA/SMK

Pendidikan

Khofifah mengatakan itu sebagai bentuk apresiasi bagi tenaga kesehatan

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.