Dr H As'ad Said Ali (kanan) bersama koleganya. (Foto: Istimewa)
Dr H As'ad Said Ali (kanan) bersama koleganya. (Foto: Istimewa)

As'ad Said: Perlu Stimulus Bagi Keluarga yang Kurang Mampu

Ngopibareng.id Catatan KH As'ad Said Ali 30 March 2020 20:01 WIB

Mantan Kepala BIN, Dr H As'ad Said Ali terus mengikut perkembangan masyarakat, terkait Covid-19. Di tengah masalah Pandemi Covid-19, Indonesia sebagai negara yang dilalui Khatulistiwa, diperkirakan "Badai akan cepat berlalu". Ini beda dengan negeri jiran, Malaysia.

Berikut uraian Dr H As'ad Said Ali, penulis buku Negara Pancasila, yang juga Wakil Ketua Umum PBNU periode 2010-2015:

Data terakhir YANG dirilis WHO pada 28 Maret 2020, penderita Virus Corona seluruh dunia berjumlah 436.715 (penderita virus aktif), 27.370 meninggal dunia, 133.373 sembuh.

Di Amerika Serikat jumlah penderita aktif 100.227, meninggal dunia 1704, sembuh 2.525. Kasus hari ini + 138 dan 8 meninggal dunia. Artinya AS masih belum mampu mengendalikan virus dan bahkan berubah menjadi episentrum Covid-19.

Jerman, Inggris, Italia, Spanyol penderita aktif minimal 20 ribuan juga belum bisa mengendalikan Virus Corona.

Di China jumlah penderita 81394, penderita aktif sebanyak 3128 orang, meninggal dunia 3295, sembuh 74.971. Kasus hari ini 54 dan 3 meninggal dunia. Artinya berhasil mengendalikan kasus setelah berjuang 3 bulan dan memberlakukan lockdown di Provinsi Hubei. Lockdown di Provinsi Hubei sudah dicabut 5 hari lalu, kecuali Ibu Kota Propinsi Wuhan, yang akan dicabut pada 4 April 2020.

 

Mari kita bandingkan Indonesia dengan negara serumpun Malaysia. Jumlah penderita di negara jiran itu 2161, penderita aktif 1876, meninggal dunia 26, sembuh 259 (belum ada laporan kasus baru).

Bagaimana Indonesia : jumlah kasus 1046, penderita aktif 913 orang, meninggal dunia 87, sembuh 46 (belum ada laporan kasus baru).

Data itu menunjukkan penderita Covid-19 di Malaysia dua kali lipat dibanding Indonesia. Tapi jumlah yang meninggal dunia di kita lebih banyak dan yang sembuh kita lebih kecil.

Kenapa ?

Malaysia lebih dahulu melakukan tindakan beberapa hari sebelumnya. Proses penyembuhan juga tampak lebih efektif. Mungkin perlu penambahan tenaga medis plus insentifnya.

Tetapi kalau melihat besarnya angka angka korban terinfeksi di China dan negara negara Barat di atas, jumlah penderita Covid-19 di daerah sekitar Khatulistiwa jauh lebih kecil. Covid-19 menyebar lebih luas di negara beriklim sub-tropis (4 musim).

Dari seluruh negara ASEAN, jumlah kasus terbesar di Malaysia. Jadi kita berpikir positif, tetap optimistis, sambil tetap berdoa, Insya Allah badai akan berlalu.

Ada saran bagus dari Para Gurubesar Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI ), Jakarta. Intinya perlu karantina di wilayah secara selektif sesuai UU No 6 th 2016 Tentang Karantina Kesehatan. Saran itu relevan dengan mulai mengalirnya pendatang pulang kampung. Karena berkurangnya mata pencaharian di kota. Idealnya juga ada stimulus untuk menopang keuangan rumah tangga yang kurang mampu dan pelaku usaha kecil.

Di Malaysia misalnya tanggal 27 Maret tetapkan dana stimulus sebesar US $ 58,28 M, sedang Singapura sebelumnya atau 26 Maret 2020 menetapkan stimulus senilai US $ 30 M.

Stimulus itu penting sebagai “jaring pengaman sosial” untuk mengobati kepedihan karena Covid-19 dan mengurangi keresahan masyarakat.

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

01 Nov 2020 04:23 WIB

Terdapat Nilai-nilai Pancasila dalam Tradisi Tahlilan

Islam Sehari-hari

Penjelasan KH Marzuki Mustamar, Ketua PWNU Jawa Timur

01 Nov 2020 03:42 WIB

Musibah dan Sakit Ternyata Mengurangi Dosa Kita, Ini Haditsnya

Islam Sehari-hari

Pesan Nabi Muhammad Saw kepada umat Islam

31 Oct 2020 23:15 WIB

Tour de Borobudur Sukses di Tengah Pandemi

Nusantara

Beragam kegiatan olahraga tetap digelar di tengah pandemi.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...