PILKADA SURABAYA 2020Apresiasi Kinerja Risma, Ini Kritik Dhimas Anugrah

18 Jul 2019 23:08 Surabaya

Politisi muda Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dhimas Anugrah turut mengapresiasi kinerja Wali Kota Surabaya, Tri Rismaharini, yang akan purna tugas pada 2021.

Menurut Dhimas, kepemimpinan Risma yang dimulai dari 2010 sangatlah baik. Namun ada beberapa hal yang perhatikan oleh Dhimas, agar ke depannya bisa menjadikan Surabaya sebagai kota yang jauh lebih baik dan maju.

"Bu Risma sangat baik memimpin Surabaya. Saya kagum pada beliau. Walau memang setiap pemimpin ada plus minusnya ya. Saya pikir minusnya Bu Risma tertutup dengan banyaknya plus beliau," ujar Dhimas

Di samping itu, Dhimas juga menyoroti adanya beberapa poin yang menjadi perhatiannya sebagai warga asli Surabaya. Pertama yakni kurangnya Risma pada kualitas dan standar tinggi jalanan di Surabaya.

Dhimas melihat, di beberapa jalan protokol di Surabaya, kualitas pembuatan dan pengaspalan jalan tidak baik, bahkan cenderung bergelombang.

"Kalau kita lihat di kota yang maju seperti Singapura, London, Glasgow, dan lainnya, kondisi jalannya mulus padahal bukan jalan protokol. Di Surabaya jalan protokol masih banyak yang bergelombang. Saya membayangkan Surabaya bisa semulus itu," ujarnya, dikutip ngopibareng.id, Kamis 18 Juli 2019.

Hal kedua yang diamati oleh Dhimas adalah kurang optimalnya program Risma untuk menjadikan Surabaya sebagai kota pariwisata. Ia melihat sebenarnya Surabaya memiliki potensi pariwisata yang besar, meskipun tak memiliki alam seperti Bali atau Raja Ampat.

Pria yang namanya masuk dalam bursa calon Wali Kota Surabaya pada Pilkada Surabaya 2020 itu turut membandingkan Surabaya dengan London, Amsterdam, dan Singapora.

Menurutnya, ketiga kota besar tersebut tak memiliki sumber daya alam yang bisa dijual untuk pariwisata, namun nyatanya jumlah turis yang datang ke tiga kota tersebut, baik dari dalam maupun luar negeri terus meningkat. Bahkan London dijuluki sebagai "Center of The World" karena banyaknya wisatawan dari seluruh negara yang datang ke London.

Bagi Dhimas, meskipun ketiga kota itu tak memiliki SDA yang mumpuni untuk dijual, namun Pemerintah setempat bisa dengan baik memanfaatkan wisata kota seperti sejarah, bangunan tua, tata kota, dan atraksi-atraksi lainnya.

Seperti halnya Anne Frank House di Amsterdam. Setiap harinya, ratusan bahkan ribuan pengungjung rela antre dan menunggu giliran hanya untuk masuk ke rumah yang sarat akan sejarah perang dunia ke dua dan pembantaian kaum Yahudi oleh Nazi.

Anne Frank bersembunyi dari Nazi bersama keluarganya dan empat orang lainnya di bagian belakang rumah tersebut. Meskipun Anne Frank tidak selamat dari perang, tetapi ia sempat menulis buku harian yang diterbitkan pada tahun 1947.

Pada 1957, Anne Frank Foundation didirikan untuk melindungi bangunan tersebut dari pengembang perumahan yang ingin merobohkannya. Akhirnya rumah tersebut dijadikan Museum oleh Pemerintah Amsterdam.

Museum mulai dibuka pada 3 Mei 1960. Hal pertama yang dilakukan untuk menarik wisatawan adalah memugar tempat persembunyian Anne dan menyelenggarakan pameran permanen mengenai kehidupan Anne Frank, serta memiliki ruang pameran mengenai segala bentuk persekusi dan diskriminasi.

Bahkan pada tahun 2013, museum dibangunan sederhana tersebut telah dikunjungi oleh 1,2 juta orang. Jumlah itu menempati posisi lima besar sebagai museum yang paling banyak di kunjungi di Belanda.

"Di Edinburgh, London, Amsterdam wisatawan mau antre berjam-jam hanya untuk datang dan melihat bangunan bersejarah atau melihat koleksi museum, atau bahkan cuma 'SightSeeing' kota. Nah Surabaya saya pikir bisa memanfaatkan sejarah yang dimiliki, apalagi kita dikenal sebagai kota Pahlawan, agar ramai dikunjungi wisatawan dan niscaya ekonomi rakyat akan meningkat tajam," lanjutnya.

Hal terakhir yang disoroti Dhimas adalah tidak adanya keputusan yang serius dari Risma terkait dengan pembangunan transportasi publik di Surabaya. Padahal salah satu masalah yang akan dihadapi Surabaya di masa depan adalah kemacetan.

Bagi pria yang kini menjadi dosen sosiologi di salah satu perguruan tinggi swasta di Jakarta itu, transportasi publik adalah salah satu alternatif solusi untuk menyelesaikan masalah kemacetan di kota sebesar Surabaya.

Ia sempat optimis saat mendengar Risma berencana membangun Suro Tram mulai dari Joyoboyo hingga daerah utara Surabaya. Apalagi saat itu sudah keluar blue print dan video maket tentang Suro Tram. Nahas wacana tersebut urung direalisasikan.

Kini menurut Dhimas, keputusan Risma untuk membuat Suroboyo Bus patut diapresiasi untuk memulai periode transportasi publik Surabaya yang baik dan nyaman.

Meski begitu, menurut Dhimas, Suroboyo Bus belum bisa 100 persen menjawab kebutuhan masyarakat akan adanya transportasi publik di Surabaya. Dhimas bermimpi, Pemimpin Surabaya mendatang akan memerhatikan pembangunan Trans Surabaya seperti Transjakarta.

Terlebih apabila Surabaya bisa memiliki kereta cepat dan kereta ringan seperti MRT dan LRT di Jakarta. Sehingga masalah kemacetan Surabaya di masa mendatang bisa dicegah sedini mungkin.

"Pak Jokowi memiliki visi yang jelas tentang sistem transportasi. Saat MRT Jakarta selesai, beliau bilang kalau Surabaya juga harus punya, dengan begitu kita diarahkan untuk memberi fasilitas transportasi publik yang baik guna mengurangi kemacetan, tentu dengan kajian yang matang ya," pungkasnya.

Pria yang mahir bermain piano ini kini berharap, Wali Kota baru Surabaya nantinya bisa menjawab semua keinginan masyarakat akan hadirnya transportasi publik yang baik, terintegrasi, bersih, dan nyaman.

Penulis : Alief Sambogo
Editor : Riadi


Bagikan artikel ini