Didi Kempot Meninggal Dunia diduga akibat Code Blue Asma. (Foto: Instagram/didikempot_official)
Didi Kempot Meninggal Dunia diduga akibat Code Blue Asma. (Foto: Instagram/didikempot_official)

Apa Itu Code Blue Asma Yang Diduga Penyebab Didi Kempot Meninggal

Ngopibareng.id Kesehatan 05 May 2020 10:32 WIB

Didi Prasetyo atau saat ini beken berjuluk Lord Didi Kempot meninggal dunia pagi tadi, Selasa, 5 Mei 2020. Didi meninggal saat menjalani perawat di RS Kasih Ibu Solo.

Didi Kempot meninggal dunia tak lama setelah dirawat di RS Kasih Ibu. "Mas Didi baru masuk pukul 07.30 WIB," kata Asisten Manajer Humas RS Kasih Ibu, Divan Fernandez.

Di media sosial saat ini beredar kabar bahwa Didi Kempot meninggal dunia karena penyakit "code blue asma". "Bagi pecinta sobat ambyar, fyi Didi Kempot barusan meninggal di IGD RS Kasih Ibu karena terkena code blue asma," tulis pesan berantai di berbagai platform media sosial.

Informasi tentang penyebab kematian Didi Kempot memang belum terkonfirmasi, namun code blue asma adalah kegawatdaruratan karena asma yang membuat berhenti bernafas.

Code blue adalah kode isyarat yang digunakan dalam rumah sakit yang menandakan adanya seorang pasien yang sedang mengalami serangan jantung (cardiac arrest), atau mengalami situasi gagal nafas akut (respiratory arrest), dan situasi darurat lainnya menyangkut nyawa pasien.

Tak hanya code blue, di rumah sakit biasanya juga terdapat kode warna lainnya seperti code red, code black, dan lainnya dengan arti yang berbeda. Code blue biasanya digunakan untuk pasien henti jantung. Namun di beberapa rumah sakit, code blue juga biasa digunakan untuk pasien kedaruratan lainnya.

dr Ali Haedar, MD SpEM, FAHA dalam seminar Seminar dan Workshop bertajuk Update in Code Blue Management di Fakultas Keperawatan Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya mengatakan bahwa pemberian code blue adalah untuk mempersiapkan pertolongan pertama yang terjadi di tempat tak terduga.

Contohnya seperti pasien yang terkena serangan jantung di parkiran atau kamar mandi. Kemudian tim code blue harus menguasai pemberian defibrilasi atau cara yang tepat untuk mengembalikan normalitas jantung, dan Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) yaitu teknik kompresi dada dan pemberian napas buatan untuk pasien yang detak jantung atau pernapasannya terhenti.

First responder merupakan orang yang pertama kali bertemu dengan pasien saat terjadi serangan jantung. "Apabila first responder tidak dapat melakukan CPR, resiko pasien untuk meninggal akan lebih tinggi, karena jika otak tidak mendapat suplai oksigen yang lancar selama 10-12 menit akan terjadi kerusakan otak hingga kematian," ujarnya.

Penulis : Rohman Taufik

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

25 Jan 2021 08:17 WIB

Reformasi di Tubuh Polri?

As’ad Said Ali

Berjalanlah perjuangan sesuai kaidah fikih dalam Islam

25 Jan 2021 07:55 WIB

Kuliah Pakai Sepatu Tentara, Suprawoto Malu Duduk di Depan

Tokoh

Sepatu tentara yang ia pakai adalah sepatu bapaknya.

25 Jan 2021 07:39 WIB

Hidupkan Etika Al-Hujurat bagi Umat Islam

Khazanah

Pesan penting KH Ahmad Mustofa Bisri dan Haedar Nashir

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...