'Kesaktian' NETSS Akan Turunkan Angka Kematian Bayi di Surabaya

13 May 2019 23:12 Surabaya

Mulai tahun ini hingga ke depannya, angka kematian bayi di Surabaya akan turun berkat ambulans milik Pemerintah Kota Surabaya yang bernama NETTS (Neonatal Emergency Transport System Surabaya).

Dengan kesaktian ambulan NETSS tersebut, angka kematian bayi di kota Surabaya akan turun sebesar 0.7 permil. Hal itu diungkapkan oleh Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kota Surabaya, Yohana Sussie.

"Kematian bayi kan bermacam-macam akibatnya, namun dengan adanya NETSS ini sudah turun," ujarnya.

Ambulan NETSS ini berada di rumah sakit dr Soewandhi, Surabaya. Menurut Yohana, ambulans ini sudah dioperasikan sejak tahun 2017, namun NETSS belum bisa dimaksimalkan secara baik oleh masyarakat karena banyak yang belum mengetahui. Maka itulah, di tahun 2019 ini Dinkes terus melakukan sosialisasi terkait keberadaan ambulans tersebut.

"Tahun 2017 ambulans ini sudah menangani 43 pasien, di 2018 turun menjadi 30 saja. Nah awal tahun ini hingga bulan Mei baru tujuh, makanya kita push terus biar masyarakat mengetahui," lanjutnya.

Yohana mengatakan, Pemkot Surabaya pada tahun 2017 melakukan pengadaan ambulans ini mengingat angka kematian bayi di Indonesia sangat tinggi, begitu pula di Surabaya.

Kendalanya, selain minimnya pengetahuan masyarakat tentang keberadaan ambulans ini, juga karena ambulans ini hanya ada 1 unit di Surabaya. Sehingga tak bisa menangani dua atau tiga kasus secara bersamaan.

Biaya menggunakan ambulans ini lumayan mahal, sekitar 2,5 - 3 juta rupiah sekali operasional. Namun mahalnya biaya didukung oleh perlengkapan di dalam ambulans ini yang sangat lengkap untuk penanganan terhadap bayi yang mempunyai permasalahan saat baru lahir. Tak usah khawatir, semua biaya akan ditanggung oleh Pemerintah Kota Surabaya.

Kelengkapan di dalam ambulans ini adalah inkubator bayi beserta kelengkapan dan obat, ventilator, alat pacu jantung, serta alat untuk resusitasi bayi yang baru lahir seperti jackson rees dan T piece resusitator.

Selain ambulans, Yohana mengatakan, Dinkes juga menyiapkan tenaga medis yang terlatih dan berpengalaman dalam menangani keadaan darurat pada bayi.

"Kami tak akan main-main, sekali jalan akan ada tenaga yang profesional khusus. yang pasti setiap jalan ada 3 orang yang terjun, yakni sopir, dokter, dan perawat," lanjut Yohana.

Radix Hardiyanto selaku Kepala Dokter Spesialis Anak di RS dr Soewandhi mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi keputusan Pemkot Surabaya dalam menyediakan fasilitas ambulan ini. Karena, dalam keadaan darurat, kini bayi di Surabaya dapat ditangani dan diselamatkan secara cepat dan tepat.

Perlengkapan di dalam ambulans NETSS Foto Aliefngopibarengid
Perlengkapan di dalam ambulans NETSS (Foto; Alief/ngopibareng.id)
Perlengkapan di dalam ambulans NETSS Foto Aliefngopibarengid
Perlengkapan di dalam ambulans NETSS (Foto: Alief/ngopibareng.id)

 

"Kami sebagai 'tempat parkir' dan yang mengoperasikan ambulans ini sangat kagum dengan adanya ambulans NETSS ini. Fasilitasnya lengkap, bahkan rumah sakit lain tak memeiliki kelengkapan seperti ini," ujar Radix.

Ia menyampaikan, pihaknya (RS dr Soewandhi) akan bekerja secara maksimal dan profesional dalam mengoperasikan ambulans maupun dalam mengambil tindakan.

"Selama bayi dijemput, kami akan pastikan bayi ini bisa bernafas dengan baik. Kami juga sebelum menjemput dari manapun akan memastikan bahwa bayi ini akan dirujuk ke RS mana. Kalau sudah jelas, kami langsung cepat jemput," lanjut Radix.

Tak lupa, ia juga mengatakan pihaknya akan memastikan bayi sebelum dijemput dalam penangananan yang baik serta RS yang dituju juga segera menyiapkan apa yang dibutuhkan. Sehingga tindakan bisa cepat dan maksimal.

 

"Kami tak mau asal-asalan, apa yang kami pastikan itu untuk menjamin supaya bayi tersebut aman sebelum penjemputan, saat penjemputan dan pasca penjemputan. Saya jamin selama perjalanan, bayi akan stabil pernafasannya dan akan dikontrol terus menerus," pungkas Radix.

Reporter/Penulis : Alief Sambogo
Editor : Rizal A


Bagikan artikel ini