Khofifah: FKUB Jangan Ceramahi Anak Milenial

06 Sep 2019 20:36 Jawa Timur

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa meminta tokoh agama yang tergabung dalam Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Jawa Timur untuk berdakwah di kalangan milenial dengan bahasa-bahasa milenial pula.

Khofifah menggarisbawahi penduduk usia milenial karena berdasarkan melihat hasil survei Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, ternyata angka intoleransi beragama di Indonesia, khususnya generasi Z (yang lahir pada tahun 1995-2010) masih cukup tinggi. Yakni, untuk mahasiswa mencapai 23,3%, sementara pelajar SMA mencapai 23,4%.

Menurut Khofifah untuk berdakwah di kalangan milenial tidak bisa hanya dengan mengandalkan cara-cara lama seperti tatap muka, ceramah atau khotbah. Ia mencontohkan dakwah dengan menggunakan bahasa milenial misalnya dengan cara memanfaatkan format meme, karikatur dan narasi yang sesuai dengan nalar dan psikologis serta style milenial.

“Seperti dengan meme, karikatur, dan lain-lain. Sebab, tidak semua anak-anak muda sabar mendengar nasehat , khutbah atau ceramah,” katanya saat menerima tokoh Forum Kerukunan Umat Beragama di Gedung Negara Grahadi, Surabaya, Jumat, 6 September 2019.  

Kata dia, ceramah agama hanya akan berhasil bagi orang-orang yang prespektif soal agamanya sudah baik. Namun, kurang efektif bagi komunitas yang prespektifnya agamanya masih kurang. Oleh sebab itu harus ada upaya lain untuk menjangkau kaum milenial yang perspektif agamanya masih kurang tersebut.

“Mari kita viralkan harmonious partnership ini, oleh masing-masing tokoh agama. Jika menggunakan digital IT maka resonansinya tidak terbatas ruang maupun waktu,” kata dia.

Khofifah mengatakan, FKUB sebagai representasi religious leader diharapkan bisa menjadi perekat bagi harmoni umat beragama, baik intern, maupun antar umat beragama. Masalah yang dihadapi bangsa Indonesia adalah persatuan, kesatuan dan persaudaraan.

Menghadapi permasalahan di atas maka peran tokoh agama baik intern maupun antar umat beragama harus terjaga agar tidak ada ruang terhadap kemungkinan terjadinya kesalahpahaman akibat distorsi informasi khususnya melalui viralnya sosial media.

Pada posisi yang dapat menimbulkan kerentanan sosial tersebut, imbuh Khofifah, posisi FKUB sebagai representasi religious leader sangat dibutuhkan, khususnya sebagai perekat keberagaman yang tumbuh di tengah- tengan dinamika sosial politik keamanan yang berkembang.

Penulis : Faiq Azmi
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini