Anggur, Ikon Probolinggo yang Kian Luntur

18 Jul 2019 20:00 Jawa Timur

Bersamaan dengan Hari Krida Pertanian ke 47, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Diperta KP) Kota Probolinggo menggelar potensi produk unggulan daerah dan olahan hasil pertanian, Kamis, 18 Juli 2019.

Ada yang menarik, selain sarasehan, pameran dan lomba, Wakil Wali Kota Probolinggo, Mochammad Soufis Subri juga memetik anggur varietas unggulan.

"Rasanya manis dan segar," kata wawali kota sambil mencicipi buah anggur yang baru dipetik.

Hal senada diungkapkan Kepala Disperta KP, Sukarning Yuliastuti. "Asal buah anggurnya tua jelas manis," katanya.

Selain kebun anggur di halaman samping timur Disperta KP, sebenarnya anggur Probolinggo sudah susah dijumpai.

Yang ada para pedagang bersepeda dan bermobil pikap yang menjual anggur impor yang berjajar di sepanjang Jalan Mastrip Kota Probolinggo.

Memang Probolinggo punya (sejarah) anggur yang membanggakan. Bukankah Kota Probolinggo dikenal sebagai Kota Bayuangga? Akronim dari “bayu” = angin, “ang” = anggur, dan “ga” = mangga.

Tetapi akhir-akhir ini ikon Probolinggo sebagai “Kota Anggur” kian luntur. Rasanya sah-sah saja publik mempertanyakan kembali predikat Probolinggo sebagai Kota Bayuangga.

Memang Angin Gending yang bertiup kencang mulai pertengahan hingga akhir tahun, siapa pun tidak menyangkalnya.

Tegakan pohon mangga juga masih banyak tumbuh subur di hampir setiap pekarangan warga Probolinggo. Memang populasi pohon mangga terus berkurang karena terdesak permukiman.

Ikon anggur-lah yang layak dipersoalkan. Wajar eksistensi anggur terus luntur seiring dengan semakin langkanya tanaman itu.

Sekadar pembuktian, nama “Jalan Angguran” di Kebonsari Kulon, Kecamatan Kanigaran, Kota Probolinggo sekarang tinggal nama. Kebun anggur yang dulu rimbun, sekarang tinggal cerita.

Pada 1990-an Kota Probolinggo memang dikenal sebagai penghasil anggur potensial di Jatim. Berangsur-angsur tanaman rakyat yang bercokol di halaman rumah itu itu mulai langka.

Sebenarnya, Probolinggo memiliki empat varietas anggur yakni, Belgi, Probolinggo Biru, Prabu Bestari, dan Anggur Bali. Dari keempat varietas itu, Prabu Bestari termasuk anggur unggulan di Kota Probolinggo.

Anggur yang buahnya ranum, besar, dan kemerahan itu merupakan hasil uji adaptasi dari anggur Red Princes (Anggur Merah).

Bahkan saat diluncurkan (launching) pada 2007, Prabu Bestari disambut luar biasa sebagian petani. Mereka beramai-ramai menanam anggur merah itu di kebun dan pekarangan rumahnya.

Hanya berselang tiga tahun, tepatnya pada 2010, ketika erupsi Gunung Bromo berkecamuk, banyak tanaman anggur di Kota Probolinggo rusak. Abu vulkanis gunung terbukti merusak daun dan bunga anggur.

Padahal tahun 2009, setahun sebelum erupsi, Disperta setempat mencatat, populasi anggur di Kota Probolinggo mencapai 13.477 batang dengan produksi 35 ton. Pada 2010 populasi menurun menjadi 13.503 batang dan produksi 17 ton.

Pada 2011 populasi anggur terus turun menjadi 13.237 batang dengan produksi 14 ton. Pada 2012, populasi anggur tinggal 11.796 batang dengan produksi 38 ton. Pada 2013 lalu, populasi anggur tersisa 10.126 batang.

 

Jumlah populasi anggur semakin berkurang. “Sekarang lebih gampang menemukan tanaman kelengkeng daripada anggur,” ujar Imam, warga Jalan Angguran. (isa)

Penulis : Ikhsan Mahmudi
Editor : Witanto


Bagikan artikel ini