Anggota Brimob Polda Jatim Asuh 64 Anak Yatim Ini Terus Peroleh Pujian

11 Mar 2018 08:15

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

Tak masuk diakal. Gaji kecil sebagai anggota Brimob. Tapi ia mampu mengasuh 64 anak Yatim. Subhanallah!

Beginilah bila Allah sudah berkendak.

Adalah anggota Detasemen C Pelopor Satuan Brimob Polda Jawa Timur, Brigpol Rochmat Tri Marwoto (40), yang mengasuh 64 anak Yatim dan Duafa, yang terus memperoleh pujian.

Sejak ia dapat penghargaan dari Kapolda Jatim Irjen Machfud Arifin, akhir tahun lalu, berita simpatik sang anggota Brimob ini terus viral hingga sekarang.

Rochmat bahkan jadi teladan dan inspirasi bagi anggota Brimob, Polri, TNI atau PNS lainnya. Bahwa jadi seorang pegawai tak menghalangi berbuat luar biasa dalam agama dan kemanusiaan.

Kisah baik Rochmat membuat ia dapat penghargaan dari program TV “Kick Andy Heroes” dalam bidang sosial pendidikan.

Rochmat juga sering diundang wawancara di TV Jakarta. Pada 16 November 2017 silam, bertepatan dengan Hari Brimob, ia hadir di acara “Hitam Putih” di Trans TV.

Perjuangan keras Rochmat menghidupi 64 anak asuhnya ini, ternyata tak luput dari peran Helmiyah (38), istrinya. Istrinya yang ikut kerja keras "nyambi" dagang apa saja untuk menghidupi mereka.

Menurut Helmiyah, suaminya merupakan sosok pria pekerja keras dan memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Misalnya selepas pulang dinas, suaminya langsung pergi ke kebun. Merawat tanaman jahe, cengkih, dan durian.

Nah, uang dari penjualan hasil kebun milik Rochmat inikah digunakan membiayai kebutuhan anak asuhnya.

“Bapak itu pekerja keras. Setelah pulang kantor, Bapak tidak tidur, tetapi langsung ke kebun,” ujar dia seperti dilansir Islamedia hari ini.

Mereka berdua bahu-membahu menghidupi dan menyekolahkan anak asuhnya, mulai anak yatim, anak telantar, hingga anak mantan pecandu narkoba.

“Anak yang pernah makan satu rumah dengan kami ada 64 anak. Ada yang tinggal dua bulan, ada yang tujuh tahun,” ujar Rochmat, seperti diberitakan Kompas.

Kisah "heroik" ini bermula sekitar 10 tahun yang lalu, Rochmat mengikuti pendidikan di Sekolah Tinggi Hukum (STH) Indonesia di Jakarta.

Tingginya biaya kuliah menjadikan ayah dua anak ini harus bekerja sampingan menjadi tukang ojek.

Dari kerja sampingan itu, dia mengetahui bagaimana sulitnya mencari biaya untuk pendidikan.

“Saat kuliah di Jakarta, saya bekerja sampingan menjadi tukang ojek dari pukul 15.00 WIB sampai pukul 21.00 WIB. Dari hasil ojek, saya mendapatkan tambahan pendapatan Rp7.000 hingga Rp12.000,” kata Rochmat.

Berbekal pengalaman itu, Rochmat bertekad dalam diri.
Ia berjanji kepada istrinya apabila mendapat rezeki berlebih akan diberikan kepada anak-anak yang kurang mampu.

Tak terasa, 10 tahun, Rochmat dan istrinya sudah menghidupi 64 anak asuh.

Saat ini, ia masih menghidupi 15 anak yang tinggal di rumahnya bersama istri dan dua anaknya.
Tak hanya biaya sekolah, anak-anak yang diasuhnya dicukupi kebutuhan hidupnya.

Bahkan banyak di antara mereka yang melanjutkan pendidikan hingga bangku kuliah.

“Kalau anak-anak mau sekolah sampai perguruan tinggi, ya saya siap tanggung biayanya. Dari mereka, kini ada yang sudah jadi polisi, guru, hingga pegawai bank,” kata Rochmat.

Selain berkebun, Rochmat dan istrinya membuka aneka usaha. Mulai toko kelontong hingga toko buah. Apa saja yang penting halal.

“Saya senang dan bangga bisa bermanfaat bagi anak Yatim dan kaum duafa,” jelas Rochmat, yang menginspirasi berbuat mulia walau hanya pegawai ini. (dmr)