Foto: IG Istimewa

Andainya Robusta itu Partai Politik

NekoNeko 08 December 2017 08:28 WIB

Kopi dan politik kalau dikopyok seperti lot dalam arisan para ibu-ibu PKK apa yang terjadi? Siapa yang mbethok kira-kira. Kopinya, apa politiknya, apa ibu-ibu PKKnya?

Yang mbethok, sejelasnya, bukan dari ketiganya. Yang mbethok adalah yang beruntung. Jadi, lot yang keluar dari tempat kompyokan yang kadang besarnya hanya selubang jarum itu ketika dibuka gulungan kertasnya tertera nama: Untung.

Tetapi arisan bisa geger lho, sebab Untung itu ada dua. Ada Pak Untung dan Bu Untung. Lha? Apa perlu dikopyok lagi? Jangan! Kalau keduanya dikopyok jadinya bukan lot arisan yang keluar, melainkan... (sudah ya tak perlu diteruskan, bisa gaswat, bisa jadi omongan dewasa).

Begini obrolan pagi yang menyenangkan sembari ngopi. Ngopinya di warung. Kakinya jigang. Boleh juga methingkrang. Lesehan juga tak dilarang. Kalau ada lemeknya, ada klosonya, duduk silo juga oke asal tak duduk dengan mekangkang. Kopinya nasgitel, pasti enak tenan.

Nasgitel itu singkatan dari panas, legi, tur kenthel. Singkatan yang sangat mesra dan begitu mentradisi di ranah komunitas Jawa Tengahan. Istilah nasgitel tak hanya mesra dengan kopi, tetapi juga romantis dengan dunia minum teh.

Kopi nasgitel bisa dipastikan bahan bakunya adalah kopi jenis robusta. Tak pernah terdengar, orang memesan kopi nasgitel pakai reques: kopinya pakai arabika ya, kopinya exelsa ya, pakai kopi liberika ya. Tak pernah terdengar! Mungkin pernah ada suara-suara tetapi karena suaranya minoritas maka tak pernah muncul ke permukaan.

Ada beberapa kemungkinan mengapa kopi nasgitel selalu memakai jenis robusta. Pertama, karena nasgitel lekat dengan situasi tradisi maka penjualnya ogah mencoba-coba jenis kopi. Ogah lagi melakukan ekplorasi citarasa. Mencoba-coba kopi sama artinya mencoba peruntungan dengan pelanggan.

Mencoba-coba lidah pelanggan sama artinya pula dengan inkonsistensi. Inkosistensi rawan dengan pelanggan kabur. Kabur berarti ekonomi akan tidak stabil, bisa seret, dan kalau berkepanjangan warung bisa kukut.

Kemungkinan kedua, penjual kopi nasgitel tidak memiliki pengetahuan cukup terkait jenis kopi. Boleh jadi, usaha yang dijalankan sekarang adalah tradisi juga. Tradisi yang artinya adalah tradisi warisan turun-temurun. Maka, dia tidak berani mengubah resep apalagi konsep ngopinya. Sebab pelanggan sudah kadung melekat. Pelanggan sudah kadung nikmat. Kopi tidak lagi sekadar minuman hitam, manis, dan kental tetapi sudah berbalut memori.

Ketiga, terakhir, penyaji kopi nasgitel kesulitan mendapatkan bahan baku kopi selain jenis kopi robusta. Sebab, bagaimana pun, kopi robusta memang mengusai pasaran.

Pasar-pasar tradisional tumplek blek dengan hasil panenan kopi robusta. Nyaris tak ada yang menjual kopi jenis lain seperti arabika dan liberika. Kalau jenis exelsa masih ada yang jual, namun kopi jenis ini seringkali kurang cocok menjadi nasgitel atau dibaurkan dengan susu kental manis.Dengan alasan ini maka robusta memang tetap pilihan yang tokcer.

Pendeknya, kopi jenis robusta itu adalah suara mayoritas. Mengusai pasar-pasar lokal. Menguasai para penjual kopi matengan. Menguasai para peminum dan pencandu kopi. Namun sedikit menguasai segmen para penikmat kopi. Itu belum termasuk yang menguasai pabrik-pabrik kopi lho.

Pabrik-pabrik itu, yang raksasa sekalipun, lebih demen memproduksi kopi robusta ketimbang jenis kopi lain. Sebab hukum pasar memang menghendaki kopi yang bercitarasa kuat, pahit, gurih, legitb, bisa bikin betah melek karena kandungan kafeinnya yang lebih besar ketimbang kopi jenis lain. Nah kopi robusta miliki spesifikasi itu.

Dalam ranah politik, suara mayoritas biasanya menjadi pemenang. Di kampung, setingkat RT, untuk bisa menjadi Pak RT memerlukan dukungan mayoritas warga. Begitu pun Pak RW, Pak Lurah, Pak Ketua Partai, Pak Bupati, Pak Gubernur, hingga Pak Presiden.

Mayoritas itu selalu identik dengan yang berkuasa. Namun, logika seperti ini, tidak berlaku dalam dunia kopi. Dia, robusta, memang suara mayoritas. Menguasai semua lini pasaran. Namun dia tidak berkuasa dengan harga. Tidak berkuasa atas pamor kopi.

Sebab itu harga kopi robusta selalu jelek. Rumah-rumah petaninya juga jelek-jelek. Petani kopi robusta jarang ada yang makmur. Jarang ada yang bertubuh subur. Paling-paling hanya kulit dagingnya yang menggembur karena terlalu sering makan gorengan dan bubur.

Ditambah lagi dengan musim yang makin tak terarur membuat mereka akrab dengan nasib yang selalu ajur. Apakah ini ibarat kopi sudah menjadi bubur? Sampai kapan? Mungkin, barangkali, sampai robusta benar-benar menjadi partai politik kali ya...

Penulis : Widi Kamidi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

27 Apr 2019 17:45 WIB

Kampungan, Kedai Kopi Keren di Jantung Kampung

Warkop Jempolan

Mencuri perhatian tak melulu dengan penampilan. Nama bisa dipakai jadi jurus. Kedai Kampungan misalnya. Ingin tahu?

03 Apr 2018 08:03 WIB

Kalau Syahrini Kalah Cetar Sama Kopi, Apa yang Terjadi?

NekoNeko

Kopi bisa juga selfie. Kalau sudah selfie superstar seperti Syahrini pun bisa lewat.

01 Feb 2018 23:56 WIB

Bawa Selingkuhan + Istri, Gratis! Apa yang Bakal Terjadi?

NekoNeko

Warung kopi adalah ruang publik. Jurgan Habermas menyebutnya sebagai public spare. Jadi di warung kopi memungkinkan pengunjung bisa mengajak siapa saja sesuai keinginan hati.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.