Anda Punya Problem Hidup? Ini Ijazah Doa Cospleng Gus Qoyyum

08 Sep 2019 04:10 Islam Sehari-hari

KH Abdul Qoyyum Mansur (Gus Qoyyum), Pengasuh Pondok Pesantren An-Nur Lasem, Rembang ceramahnya digemari masyarakat. Gus Qoyyum, tidak asing lagi bagi yang tinggal di Pesantren.  Terkhusus, tausiyahnya yang beredar melalu youtube.

Gus Qoyyum adalah putra KH. Mansur Kholil. Setelah wafat sang Ayah, KH. Mansur Kholil pada 2002 Ponpes tersebut diasuh langsung Gus Qoyyum.

Di masyarakat, kiprah Gus Qoyyum sangat banyak. Tidak sekadar mengisi pengajian rutin di pesantrennya. Melainkan juga memberikan nasihat pernikahan, pengajian umum, tablig akbar, di berbagai penjuru kota di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Saat melakukan tausiyah, Gus Qoyyum selalu memikat hadirin yang mendengarnya.

Daya pikatnya tidak hanya pada gaya penyampainnya yang khas, tetapi kualitas materi yang disampaikan juga berbobot.

Ada di antara ijazah doa yang diberikan Gus Qoyyum kepada santri dan umat Islam secara luas, adalah doa permohonan doa terkabul.

Ya Allah
Cospleng... cospleng ... cospleng...
Ya rahman... ya rahim.

Ini doa penutup, dibaca setelah kita menyampaikan permohonan kepada Allah atas hajat-hajat kita.


Kedua,

Ya Allah walik grembyang
innama al-usri yusra
Ana angel ana gampang

"Untuk ibadah, insya Allah bermanfaat," tutur Gus Qoyyum.

Soal Gus Qoyyum.

Walaupun terkenal dengan kecerdasannya, ternyata ada beberapa hal yang menjadi keistimewaan pada diri Gus Qoyyum. Dihimpun dari beberapa sumber, ternyata Gus Qoyyum  tidak lulus Sekolah Dasar (SD). 

Menurut cerita, pada waktu masih kecil, Gus Qoyyum terkenal dengan kenakalannya, akhirnya sang ayah tidak mengizinkannya untuk melanjutkan sekolah. 

Selain tidak bersekolah, beliau juga tidak pernah mondok/nyantri di pesantren manapun, satu-satunya tempatnya belajar agama hanya kepada sang ayah, KH. Mansur Kholil. 

Berdasarkan penuturan orang-orang terdekat, Gus Qoyyum suatu kali pernah akan diberangkatkan mondok ke pesantren Mathaliul Falah yang diasuh KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudh di Kajen, Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Entah atas alasan apa, ia akhirnya mengurungkan diri untuk berangkat. Padahal semua perbekalan untuk mondok sudah siap.

Menurut Gus Qoyyum,  kemampuan membaca dan mengakses literatur berbahasa arab, murni diperolehnya dari proses belajar yang panjang dengan abahnya. Padahal  kitab-kitab yang dipelajarinya merupakan kitab rujukan wajib untuk mahasiswa Doktoral (S3) atau bahkan menjadi pegangan para guru besar juga ulama-ulama terkemuka.

Dari usia belia, Gus Qoyyum telah menggemari membaca dan mengkaji tafsir Mafatihul Ghaib karya Fakhrudin Ar Razi,. Kitab tafsir 16 jilid yang menjadi bacaan wajib di program Doktoral Universitas Islam di manapun untuk kajian tafsir.

Kemampuan Gus Qoyyum menguasai kitab-kitab induk dan kitab rujukan, didukung oleh hafalan quran yang dimilikinya. Selepas tidak bersekolah, ia fokus menghafal Quran. Dan dalam waktu relatif singkat Gus Qoyyum berhasil menjadi hafidz Quran dalam usia yang  masih amat muda.

Kemampuannya yang luar biasa tersebut, membuat dipercaya abahnya untuk mengajar kitab-kitab induk baik dalam bidang tafsir, hadits tasawuf fikih dan gramatika Arab. Yang diajar pun adalah santri-santri senior pesantren-pesantren yang ada di Lasem.

Kejeniusan Gus Qoyyum adalah yang membuat banyak orang menyebutnya mendapat ilmu laduni (ilmu yang diperoleh tanpa belajar). Namun setiap kali disebut demikian, Gus Qoyyum  selalu menekankan bahwa kemampuan yang dipunyai dapatkan dari proses belajar yang tekun dan berdisiplin tinggi dengan model sorogan kepada abahnya.

Kakek dari Gus Qoyyum dari jalur ayah bernama KH. Kholil. Masyarakat Lasem biasa mengenalnya dengan nama Mbah Kholil. Nama asli Mbah Kholil adalah Masyhuri. Tak banyak yang tahu bahwa Mbah Kolil merupakan teman akrab KH Hasyim Asyari waktu belajar di Makkah. 

Mbah Kholil ini pula yang ikut berperan aktif dalam pendirian Nahdlatul Ulama di Surabaya pada 1926. Tak heran bila semasa hidupnya Gus Dur kerap mengunjungi rumah Kh Manshur Kholil yang juga ayah dari Gus Qoyyum.

Sedangkan dari jalur Ibu, Gus Qoyyum mempunyai darah keulamaan yang kental, Ibu beliau merupakan kakak kandung KH MA Sahal Mahfudh, yang pernah menjadi Rais Am PBNU selama beberapa periode, dan juga ketua umum MUI pusat. Kakek Gus Qoyyum dari jalur ibu adalah KH. Mafudh yang  merupakan ulama terkemuka pada masanya di wilayah Pati dan sekitarnya.

Dari jalur Ibu pula, Gus Qoyyum mempunyai hubungan nasab dengan Mbah Mutamakkin dari Kajen, ulama dan tokoh penting dalam khazanah keislaman dan ketasawufan yang  meninggalkan banyak karya penting, juga pejuang yang memimpin perlawanan untuk menjajah Belanda dari bumi Nusantara.