ALUMNI: Silatnas Ikatan Alumni Syuria (Alsyami) yang ke-6 pada 9-11 Maret di Medan. (foto: ist)
ALUMNI: Silatnas Ikatan Alumni Syuria (Alsyami) yang ke-6 pada 9-11 Maret di Medan. (foto: ist)

Alumni Suriah (Alsyami) Silatnas ke-6 di Medan, Ini 9 Rekomendasi

Ngopibareng.id Khazanah 12 March 2018 10:07 WIB

Silatnas Ikatan Alumni Syuria (Alsyami) yang ke-6 pada 9-11 Maret terasa pasn sekali. Walaupun Silatnas itu digelar dua tahun sekali, tetapi dengan maraknya kasus akhir-akhir di Timur Tengah (Iraq, Libya, Yaman, Suria dll) dan berimbas ke Indonesia juga berita hoax. Maka kehadiran ulama-ilama Timur Tengah dan berkumpulnya alumni yang pernah menempuh pendidikan disana cukup diperlukan.

Sekjen Alsyami, M. Najih Arromadloni mengatakan, Silatnas Alsyami ini digelar setiap dua tahun. Ini yang ke-6 setelah Silatnas yang digelar di Yogya pada 2016. Sedangkan Halaqah Ulama Suriah adalah rangkaian acara yang secara rutin diselenggarakan bersamaan dengan Silatnas.Silatnas). Silatnas kali ini diadakan di Hotel al-Munawwarah Asrama Haji Kota Medan, Sumatera Utara.

“Silatnas Alsyami dan Halaqah Ulama Suriah adalah silaturrahim mereka yang akan membahas moderasi Islam, dalam rangka turut berkontribusi dalam menciptakan harmoni peradaban dan perdamaian dunia, khususnya di Timur Tengah,” kata Najih pada ngopibareng.id, Senin (12/3/2018).

Kegiatan ini diikuti 250 alumni Suriah dari seluruh Indonesia, membahas isu-isu strategis keagamaan (diniyah), kebangsaan (wathaniyah), dan kemanusiaan (insaniyah), mengeluarkan sebuah rekomendasi penting.

Rekomendasi Alumni Suriah ke-6 di Medan sebagai berikut:

1. Mengajak tokoh-tokoh agama, utamanya yang pernah belajar di Timur Tengah, untuk meningkatkan dan mengokohkan gerakan moderasi agama yang rahmatan lil ‘alamin, dan secara bersama-sama memerangi pemikiran ekstrem dan radikal, termasuk segala tindak kriminal berbungkus atau mengatasnamakan agama, terutama ujaran kebencian dan hasutan melakukan kekerasan, yang mengkhianati nilai-nilai luhur keagamaan dan kemanusiaan.

2. Menyerukan kepada masyarakat untuk selektif memilih guru atau mempersepsi ulama/ustadz dan bersikap hati-hati dalam menerima informasi keagamaan yang bersumber dari media sosial/internet. Karena pembelajaran agama yang sempurna adalah yang didapat dari guru yang bersanad secara talaqi, dan informasi keagamaan harus merujuk sumber-sumber yang otoritatif dengan memperhatikan konteks kultural masyarakat setempat.

3. Menyarankan ormas-ormas Islam untuk memperkuat jejaring Islam wasathi (moderat) yang merupakan jalan al-sawad al-a’zam (mayoritas) umat Islam dunia, memperhatikan perkembangan aliran keagamaan dan mengembangkan sistem respon dini terhadap ideologi aliran keagamaan yang membahayakan akidah, persatuan dan kesatuan bangsa.

4. Meminta kepada pemerintah untuk bersikap tegas mengatasi persoalan radikalisme dan tidak tunduk kepada tekanan kelompok radikal. Karena itu diperlukan langkah yang komprehensif, termasuk dengan memperkuat payung hukum penanganan radikalisme-terorisme, dengan tetap mengedepankan pendekatan kemanusiaan.

5. Menghimbau praktisi politik untuk berhenti menggunakan sentimen agama dalam pertarungan politik praktis, karena dampaknya yang amat destruktif dan dapat mengoyak kelangsungan hidup bangsa.

6. Meminta kepada pemerintah untuk proaktif dalam menyikapi dinamika geopolitik negara-negara mayoritas muslim, terutama krisis Yaman, selain Palestina, Rohingya, dan Suriah. Selain itu juga, mendukung Arab Saudi untuk kembali ke Islam moderat dan mengajaknya bekerjasama mewujudkan dialog yang sehat dengan aktor negara regional untuk perdamaian dan harmoni Timur Tengah.

7. Mengingatkan masyarakat untuk tidak sembarangan menyalurkan donasi ke lembaga yang mengaku akan menyalurkannya kepada masyarakat tertimpa krisis atau konflik. Teliti kredibilitas, reputasi dan prosedur penyalurannya. Penyaluran donasi ke lembaga yang salah hanya akan menguntungkan lembaga penerima dan berpotensi menjadi sumber pendanaan konflik.

8. Memfasilitasi penyaluran bantuan kemanusiaan ke Suriah melalui kemitraan dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Damaskus dan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Damaskus Suriah, di bawah koordinasi saudara Ade Widodo (+6287873661717).

9. Menegaskan posisi Alsyami sebagai mitra strategis pemerintah dalam membangun dan merawat umat dan bangsa. (adi)

Penulis : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

16 Oct 2020 17:40 WIB

11 Hari Usai Pimpin Rapat Omnibus Law, Wakil Ketua DPR Kecelakaan

Human Interest

Wakil Ketua DPR Azis Syamsuddin mengalami kecelakaan sepeda.

13 Oct 2020 01:45 WIB

5 Fakta Adik Pasha Ungu sempat Jadi Buron Kasus Narkoba

Kriminalitas

Adik Pasha Ungu yang ditangkap karena narkoba sempat buron.

29 Sep 2020 08:06 WIB

Puluhan Pekerja Migran Ilegal Indonesia di Suriah Dipulangkan

Internasional

Mereka korban Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO)

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...