Imlek 2019Akulturasi Budaya Bali-Tiongkok, Milenial: Keren Juga ya...

01 Feb 2019 10:50 Feature

Imlek tinggal menghitung hari. Sejumlah event berbau perayaan Imlek sudah mondar-mondar cukup banyak. Apalagi hiasan-hiasannya, nyaris tak ada ruang publik yang tidak terisi dengan nuansa merah. Apa itu lampion, atau hanya sekadar kain penghias ruang.

Di Bali, momen ini malah dibikinkan festival. Namanya pun juga unik: Balingkang Kintamani Festival 2019.

Festival ini digelar bukan hanya sekadar Bali yang memang jadi tujuan wisata. Bukan juga sekadar Bali merupakan tempat ngumpulnya para wisatawan mancanegara, bahkan yang terbesar wisatawan China. Tetapi festival ini lebih bisa dilihat dari kacamata yang berbeda: yaitu akulturasi. Akulturasi masa lalu yang sungguh keren. Berupa kisah masa lalu yang intim antara manusia Bali dan Tiongkok. 

Kategorinya kisah romansa. Kisah cinta antara penguasa Bali Kuno, Sri Jaya pangus dengan permaisuri Kang Cing Wie dari Tiongkok dan Dewi Danu sang putri dari penguasa Danau Batur.

Akulturasi demikian intim itu dimulai Kerajaan Balingkang. Dari sinilah sebenarnya kisah kemunculan Barong Landung dimulai. Kisah Barong yang berbau kutukan.
Ketika itu, seorang raja bernama Sri Jaya Pangus memerintah Kerajaan Balingkang. Pada masa pemerintahannya, kehidupan masyarakat amatlah makmur. Kerajaan tenteram dari segi ketahanan militer hingga perdagangannya.
 
Dari hubungan perdangan inilah rumor tentang kemakmuran kerajaan ini terdengar hingga negeri China. Para saudagar China pun memutuskan datang dan menjalin hubungan pertemanan dengan  kerajaan yang diperintah oleh Sri Jaya Pangus.
 
Dari hubungan ini, lambat laun Sri Jaya Pangus menemukan sorang wanita Cina pujaan hatinya. Wanita ini bernama Kang Ching Wie, putri seorang saudagar Cina yang kaya raya. Raja Balingkang ini akhirnya memutuskan meminang putri saudagar tersebut menjadi permaisurinya. Pinangan sang raja disetujui, hingga digelarlah upacara pernikahan yang amat megah. Seisi kerajaan dan seluruh rakyat ikut bersuka cita merayakannya.
 
Bertahun-tahun lamanya setelah pernikahan Sri Jaya Pangus dan Kang Cing We, kedua mempelai ini belum juga dikaruniai seorang anak. Ini membawa kesedihan yang amat mendalam pada pihak kerajaan dan seluruh rakyat Kerajaan Balingkang. Keadaan kerajaan saat itu menjadi sangat muram. Hampir tidak pernah diadakan perayaan ataupun acara-acara hiburan oleh kerajaan ataupun masyarakat. Hal-hal yang besifat hura-hura sengaja tidak dilakukan, untuk ikut berbela sungkawa atas kejadian ini.
 
Tertekan dengan apa yang terjadi, akhirnya Raja Sri Jaya Pangus memutuskan pergi meninggalkan Kang Cing We untuk mencari pencerahan. Pertualangan pun dilakukan oleh sang raja, hingga akhirnya membuat sang raja terdampar di sebuah tempat di kaki gunung batur.
Terus berlatih untuk mendukung tema yang memungkinkan sangat menarik kaum milenial FofoIstimewadok Bapikang Festival
Terus berlatih untuk mendukung tema yang memungkinkan sangat menarik kaum milenial. (Fofo:Istimewa/dok Bapikang Festival?
Di tempat itu Sri Jaya Pangus memutuskan untuk bermeditasi. Kehadiran sang raja ternyata menarik hati seorang dewi yang menguasai daerah tersebut. Dewi ini bernama Dewi Danu. Ia merupakan dewi penunggu Danau Batur.
 
Ditemani oleh para kerabatnya, sang dewi akhirnya menggoda sang raja yang terbangun dari meditasinya. Raja Kerajaan Balingkang ini akhirnya tergoda, dan memutuskan menikahi Dewi Danu.
 
Singkat cerita, bertahun-tahun lamanya menunggu, Kang Cing We menatap kesedihan karena sang suami tidak pernah pulang ke kerajaan. Dari rasa penasarannya, akhirnya permaisuri Kerajaan Balingkang ini memutuskan berpetualang untuk mencari suaminya. Melewati hutan belantara dihadapi, namun perjalanan itu terhalang angin kencang.
 
Dia berusaha untuk melewatinya, tapi akhirnya Kang Cing We terjatuh di sebuah hutan dan tepat di tempat suaminya terdampar dulu. Di sini akhirnya Kang Cing We bertemu dengan seorang anak yang tidak lain adalah anak dari perkawinan suaminya yaitu Raja Sri Jaya Pangus dan Dewi Danu.
 
Menjumpai kenyataan itu, Kang Cing We merasa kecewa dan sakit hati, lalu memutuskan untuk menyerang Dewi Danu yang merebut suaminya. Serangan dari Kang Cing We mendapat respon negatif dari Dewi Danu, dan akhinya karena kemarahannya iapun mengeluarkan pasukannya yang berbentuk raksasa dan memporak porandakan pasukan Kang Cing We.
Tak tega melihat keadaan istri pertamanya yaitu Kang Cing We, sang raja akhirnya memutuskan untuk melindungi Kang Cing We dari serangan Dewi Danu. Raja menyadari cintanya kepada Kang Cing We tidak akan pernah mati walaupun telah lama meninggalkan permaisurinya. Melihat Kang Cing We dan Sri Jaya Pangus bersatu, membuat Dewi Danu kecewa. Dalam kecewanya, iapun mengutuk kedua pasangan ini menjadi patung.
 
Berita tentang berubahnya Sri Jaya Pangus dan Kang Cing We menjadi patung, menyebabkan luka yang sangat mendalam bagi rakyat Kerajaan Balingkang. Kesedihan rakyat ini akhirnya membuat Dewi Danu tersadar telah berbuat kesalahan. Ia pun kemudian datang ke kerajaan tersebut membawa seorang anak yang merupakan anak Sri Jaya Pangus. Dengan kedatangan Sang Dewi, rakyat Balingkang memutuskan mengangkat anak dari Sri Jaya Pangus menjadi penerus menggantikan raja.
 
Sang Dewi DanuDanu menginga rakyat Balingkang untuk terus menghormati dan mengenang mendiang raja serta permaisurinya. Kedua pasangan ini merupakan sosok seorang pelindung, dimana semasa pemerintahannya Kerajaan Balingkang menjadi makmur, aman dan tenteram. Sri Jaya Pangus dan Kang Cing We juga disimbolkan sebagai pasangan yang memiliki cinta sejati. Untuk selalu mengenang jasa-jasa sang raja, rakyat Balingkang akhirnya memutuskan untuk memanifestasikannya ke dalam sebuah barong.
 
Mengingat Raja Sri Jaya Pangus dan Kang Cing We dikutuk oleh Dewi Danu. Dari patung itulah rakyat Balingkang membuat sepasang arca. Sepasang arca inilah kemudian "diwariskan" sebagai Barong Landung.

Sekelumit kisah intim yang cukup menguras rasa di dada bukan? Yang pasti, di Imlek 2019 ini, akulturasi budaya Bali dan Tiongkok era Kerajaan Balingkang ini, bakal direfleksikan kembali. Refleksi yang dikemas secara apik. Setidaknya, sudah ada 500 peserta yang akan tampil dalam festival ini.

Lokasi festival pun akan dihias maksimal. Penuh dengan hiasan imlek seperti lampion, dll. Event ini akan mengambil latar Pura Batur, Kintamani.

“Kita menyiapkan semuanya sampai duwe (benda pusaka) di Batur juga diturunkan hingga kita memperlihatkan fragmen Kang Cing Wie,” kata IB Agung Partha, Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI), Bali.

Menurutnya, Festival ini akan menjadi daya tarik wisata baru bagi wisatawan Tiongkok yang berlibur ke Bali. Sejauh ini wisatawan Tiongkok hanya menikmati wisata alam dan belum mengenal jauh kebudayaan Bali. Padahal, akulturasi budaya antara Bali dan Tiongkok telah berlangsung sejak zaman dahulu. Ini dibuktikan dari adanya situs Kerajaan Balingkang di Pulau Dewata.

Festival ini nantinya juga akan menyediakan pemandu wisata berbahasa mandarin untuk mengomunikasikan inti cerita kepada para wisatawan. Media massa asal China WeChat dan Wibo juga akan digunakan untuk memublikasikan dan menyiarkan festival ini.

Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati, Wakil Gubernur Bali, festival ini akan menjadi momentum kebangkitan datangnya wisatawan Tiongkok. Setelah sebelumnya sempat mengalami penurunan karena praktik nakal jual-beli kepala. Dia pun berharap lewat festival ini Batur, Kintamani dikenal menjadi daerah teromantis di dunia.

"Gaya jualan" mengangkat isu akulturasi  budaya ini rupanya cukup klop bila disandingkan dengan data yang ada. Bahwa kunjungan wisatawan ke Indonesia 60 persen adalah untuk wisata budaya, 35 persen karena tertarik untuk wisata alam dan 5 persen tertarik pada obyek wisata buatan. Data ini menunjukkan betapa besarnya minat wisatawan terhadap kekayaan budaya.

Wisatawan kategori ini memang mencari experience. Budaya menawarkan itu. Apalagi ini Bali, budaya menjadi nadi hidup. Diyakini, dengan memanfaatkan momen imlek ini target 2.000 wisatawan dari Tiongkok akan tercapai di festival ini.

Data sementara, Balingkang Kintamani Festival yang disiapkan 6 Februari akan datang itu cukup mendapat sambutan hangat dari wisatawan Tiongkok. Buktinya, 800 wisatawan asal Negeri Tirai Bambu sudah dipastikan hadir untuk melihat dari kisah intim akulturasi masa lalu itu. Setelah angka 800 itu optimisme lanjutannya adalah mampu mendatangkan 1.500 sampai 2.000 wisatawan Tiongkok. (widikamidi)

Penulis : Widi Kamidi


Bagikan artikel ini