Musisi Ananda Badudu dan Rara Sekar, kakak penyanyi Isyana Sarasvati, saat tergabung di grup indie Banda Neira.

Aktivis Ananda Badudu, Eks Rekan Duet Kakak Isyana Sarasvati

Nasional 27 September 2019 12:24 WIB

Mantan personel grup musik Banda Neira, Ananda Badudu mengusap air matanya, saat didampingi pengacaranya Usman Hamid. Ia usai menjalani pemeriksaan lebih dari 5 jam di Polda Metro Jaya, Jakarta Pusat, Jumat 27 September 2019.

Ananda Badudu dibebaskan Kepolisian Polda Metro Jaya, setelah ditahan sejak pukul 04.30 WIB.

Ananda diketahui telah menginisasi penggalangan dana publik untuk mendukung gerakan mahasiswa. Demo tolak revisi Undang-undang Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Rancangan Undang-undang Kitab Undang-undang Hukum Pidana (RUU KUHP) digelar para mahasiswa se-Indonesia sejak Senin, 23 September lalu.

Sementara itu, Ananda Badudu melakukan penggalangan dana melalui situs kitabisa.com. Diduga ia telah mentransfer dana sebesar Rp10 juta untuk aksi demo tersebut.

Tak hanya itu, Ananda Badudu juga aktif menuliskan informasi terkait penanganan korban aksi tersebut.

Saat penangkapan dirinya pada Kamis, 26 September 2019 malam, Ananda Badudu langsung mengunggah informasi mengenai penangkapan dirinya di akun media sosial, Twitter. Sedangkan video penangkapan dirinya diunggah di Insta Story Instagram.

"Saya dijemput polda karena mentransfer sejumlah dana pada mahasiswa," tulis Ananda di akun Twitter, @anandabadudu, Jumat.

Sebelumnya, penangkapan juga dilakukan oleh pihak kepolisian terhadap Dandhy Laksono, seorang aktivis dan sutradara Sexy Killers akibat cuitannya di akun Twitter mengenai kerusuhan di Papua.

Siapakah sebenarnya Ananda Badudu?

Pria kelahiran 26 Desember 1987 ini mulanya dikenal sebagai musisi. Ia sempat berkiprah di jalur musik dengan kakak dari penyanyi Isyana Sarasvati, Rara Sekar di Bandung, Jawa Barat.

Ananda Badudu menjadi pemetik gitar, penulis lagu dan vokalis di grup tersebut. Banda Neira naik daun di kalangan anak muda sekitar tahun 2012. Band ini juga berhasil menelurkan menghasilkan dua album bertajuk Di Paruh Waktu (2013) dan Yang Patah Tumbuh, yang Hilang Berganti (2016).

Nama Banda Neira disebut sebagai salah satu band indie terbaik. Namun sayang, pada tahun Desember 2016 band ini bubar.

Meski begitu baik Rara Sekar maupun Ananda Badudu masih aktif dalam dunia musik.
Siapa sangka selain dunia seni musik, Ananda Badudu juga pernah terjun ke dunia jurnalistik.

Di akun LinkedIn, ia tercatat pernah menjadi wartawan di PT Tempo Inti Media Tbk dan VICE Indonesia.

Ananda Badudu juga bisa dikatakan bukan sembarang orang. Ia adalah cucu dari ahli bahasa kenamaan sekaligus Guru Besar Fakultas Sastra Univeristas Padjajaran, Jusuf Sjarif (JS) Badudu.

JS Badudu telah menelurkan berbagai karya yang bermanfaat bagi pendidikan, contohnya seperti Kamus Umum Bahasa Indonesia (1994) revisi kamus Sutan Muhammad Zain.

Ada juga Kamus Kata-kata Serapan Asing yang terbit pada 2003 dan Kamus Peribahasa (2008).

Sebelum menyandang gelar sebagai Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Padjajaran, JS Badudu mendapatkan titel Doktor dari Fakultas Sastra Universitas Indonesia pada tahun 1975.

View this post on Instagram

Siaran Pers: Guru Bahasa Indonesia J.S. Badudu Wafat Telah berpulang dalam damai Bapak dan Opa kami Jusuf Sjarif Badudu di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung, pada Sabtu 12 Maret 2016 pukul 22.10. Beliau meninggal pada usia 89 tahun karena komplikasi penyakit yang diderita semasa tuanya. Dua hari sebelum wafat, ia dirawat inap di RSHS karena serangan stroke. Sekitar sepuluh tahun belakangan, ia sudah beberapa kali diserang stroke ringan maupun berat yang mengakibatkan kondisi fisiknya semakin lama semakin menurun. Jenazahnya akan disemayamkan di tempat tinggalnya sehari-hari, yakni di Bukit Dago Selatan nomor 27, Bandung. Setelah disalatkan, rencananya jenazah akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung. J.S. Badudu dikaruniai 9 anak, 23 cucu, dan 2 cicit. Istrinya, Eva Henriette Alma Koroh, lebih dulu berpulang pada 16 Januari 2016 lalu pada usia 85 tahun. Mereka hidup bersama dalam ikatan pernikahan selama 62 tahun. Prof. Dr. J.S. Badudu lahir di Gorontalo pada 19 Maret 1926. Sepanjang usia ia mengabdikan diri untuk Bahasa Indonesia melalui kegiatan belajar-mengajar dan tulis-menulis. Ia telah menjadi guru sejak usia 15 tahun dan mengakhiri pengabdiannya di bidang pendidikan pada usia 80 tahun, itu pun karena kondisi fisik yang terus menurun seiring bertambahnya usia. J.S. Badudu dikenal masyarakat luas sejak ia tampil dalam acara Pembinaan Bahasa Indonesia yang ditayangkan di TVRI pada 1977-1979, dilanjutkan tahun 1985-1986. Pada saat itu TVRI adalah satu-satunya siaran televisi di Indonesia. Beberapa karya besar di antara puluhan buku yang pernah ditulisnya: Kamus Umum Bahasa Indonesia (1994), revisi kamus Sutan Muhammad Zain; Kamus Kata-kata Serapan Asing; Inilah Bahasa Indonesia yang Benar (1993), dll Sejauh catatan pribadi beliau, ia telah 8 tahun menjadi guru SD, 4 tahun guru SMP, 10 tahun guru SMA, dan 42 tahun menjadi dosen di Unpad dan UPI Bandung. Ia menginjak usia pensiun pada 1991, namun setelah itu masih aktif mengajar dan menulis sampai awal 2000. *Siaran ini dibikin pada Minggu, 13 Maret 2016, pukul 01.00 pagi.

A post shared by ananda badudu (@anandabadudu) on

Penulis : Yasmin Fitrida

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

02 Oct 2019 08:33 WIB

Ananda Badudu Disomasi Polisi

Nasional

Resmob dan Polri merasa disudutkan oleh ucapan Ananda Badudu.

27 Sep 2019 20:12 WIB

Jurnalis Malang Kecam Kriminalisasi Dhandy dan Ananda Badudu

Jawa Timur

Anggap penangkapan Dhandy sebagai tindakan yang prematur

27 Sep 2019 11:49 WIB

Polisi Lepaskan Ananda Badudu

Nasional

Ananda Badudu dilepaskan setelah diperiksa lima jam di Polda Metro Jaya.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...