Aksi mahasiswa di Malang pada peringatan Hari Pendidikan Nasional. (Foto: fajar/ngopibareng.id)

Aksi Hardiknas, Biaya Kuliah dan Kampus Tidak Inklusif

Reportase 30 November -0001 00:00 WIB

Momentum peringatan Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas), mahasiswa di dua kampus besar di Malang, Universitas Negeri Malang (UM) dan Universitas Brawijaya, melakukan demonstrasi di kampus masing-masing. 

Di halaman gedung rektorat UM, puluhan mahasiswa mengeluhkan semakin tingginya biaya kuliah. Selain biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang harus dibayar oleh mahasiswa setiap semester, beberapa mahasiswa juga harus membayar biaya Sumbangan Pemeliharaan Sarana Akademik (SPSA) yang jumlahnya tidak kecil.

Taufado Gallente, mahasiswa jurusan sejarah mengatakan, biaya SPSA yang harus dia bayarkan sebesar 12 juta rupiah. Sedangkan biaya UKT tiap semester yang harus ia bayarkan sebesar 5 juta rupiah. Taufado merasa keberatan dengan biaya kuliah yang berlapis-lapis ini.

"Tidak murah, jika ada praktik dan Kuliah Kerja Lapangan Harus membayar lagi," katanya.

Selain biaya kuliah, fasilitas kampus selama ini dinilai masih belum ramah disabilitas. Mereka menuntut agar kampus menjadi lebih inklusif.
Terkait tuntutan mahasiswa, Wakil Rektor III UM Mu'arifin mengatakan jika biaya kuliah justru di UM relatif murah.

"Kalau menurut saya murah. Sebenarnya murah atau mahal itu kan relatif, tergantung patokannya," ujarnya saat diwawancarai seusai menemui peserta aksi.

Mu'arifin juga mengatakan bagi mahasiswa yang keberatan juga bisa mengajukan pengurangan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) sesuai prosedur yang ada. Sedangkan untuk fasilitas yang masih belum ramah disabilitas, menurutnya hanya di gedung kampus sudah lama berdiri.

Mu’arifin mengatakan, "Gedung-gedung baru sudah, seperti gedung rektorat sudah inklusif.”

Meski begitu Mu'arifin mengatakan jika kampus akan berupaya memperbaiki fasilitas yang ada.

Aksi Mahasiswa di deoan gedung rektorat UB Aksi Mahasiswa di deoan gedung rektorat UB.

Aksi serupa juga dilakukan aliansi mahasiswa di Universitas Brawijaya. Mahasiswa yang tergabung Aliansi Brawijaya Menggugat Jilid III meminta rektorat dan senat untuk memberlakuan kebijakan penurunan dan penundaan UKT.

Mereka meminta agar Universitas Brawijaya meningkatkan infrastruktur, pelayanan dan pendidikan insklusif secara bertahap serta menjadikan perencanaannya ke dalam Renstra UB 2020-2025. (fjr)

Penulis : Fajar Dwi Ariffandhi

Editor : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

13 Aug 2020 13:41 WIB

Pemkot Malang Bakal Sanksi Warga yang Tidak Pakai Masker

Jawa Timur

Implementasi dari Inpres Nomor 6 Tahun 2020.

12 Aug 2020 10:53 WIB

Viral, Pria Berbaju Polisi Beratraksi di Atas Motor di Semarang

Hiburan

Pria beratraksi melepas kedua tangan di Semarang.

12 Aug 2020 09:21 WIB

Vaksin Buatan Rusia Sudah Siap Edar, Namanya 'Sputnik V'

Internasional

Sudah 20 negara mengajukan permintaan pada Rusia.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...