Aksi Cegah Bunuh Diri, Setiap 40 Detik Ada 1 Orang Bunuh Diri

11 Sep 2019 16:07 Kesehatan

Cahaya lilin yang dinyalakan sekitar 500 orang yang hadir membuat halaman depan Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (Unair) Surabaya menjadi terang dalam gelapnya malam.

Bukan hanya sekedar penerangan, cahaya lilin ini merupakan perlambangan harapan dan dukungan terhadap pencegahan bunuh diri.

Aksi menyalakan lilin tepat pukul 20.00 WIB ini merupakan peringatan peringatan hari 'Pencegahan Bunuh Diri Sedunia'. Momen ini diperingati setiap tanggal 10 September 2019.

"Cahaya lilin ini adalah simbol pencegahan bunuh diri, hidup ini memang menyakitkan dan menderita. Tapi masih ada harapan di setiap masalah yang ada. Daripada meratapi dan menyiksa diri lebih baik nyalakan nyala harapan tersebut," kata Nahlini Muhdi, dr, Sp. KJ (K), Indonesia National Representative of Internasional Association for Suicide Prevention (IASP).

Nahlini yang ditemui dalam acara peringatan Hari Bunuh Diri Sedunia ini, mengatakan acara ini diadakan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat dalam upaya pencegahan bunuh diri dan bisa menolong orang yang akan bunuh diri.

"Seperti yang diprediksi WHO bahwa tahun 2020 merupakan puncak dari rasa kesakitan di dunia yaitu depresi. Depresi yang tidak tertolong tentunya akan mengarah pada tindakan bunuh diri," ujar pengajar di FK Unair ini.

Para peserta yang hadir khusyuk memanjatkan doa untuk temanteman atau keluarga yang tewas karena bunuh diri Foto Pitangopibarengid
Para peserta yang hadir khusyuk memanjatkan doa untuk teman-teman atau keluarga yang tewas karena bunuh diri. (Foto: Pita/ngopibareng.id)

Tindakan bunuh diri di Indonesia sangat lengkap faktor stresornya, yaitu konflik, tekanan, frustasi dan krisis.

"Jadi bukan apa sekarang yang dipertanyakan tapi mengapa. Cara mendidik kita yang harus dirubah bukan tentang kesuksesan semata yang harus diraih tapi kebahagian. Karena orang bahagia pasti sukses tapi orang sukses belum tentu bahagia," tegas Nahlini.

Langkah selanjutnya dalam upaya pencegahan bunuh diri ialah membuat workshop untuk media massa dalam memberitakan perihal bunuh diri.

"Bila media massa diajak kerjasama secara baik akan dapat menekan angka kejadian bunuh diri. Hal ini sudah terbukti di negara-negara Eropa, Indonesia harus memulainya," imbuhnya.

Untuk diketahui, 500 orang yang hadir berasal dari berbagai kalangan, antara lain tenaga medis kejiwaan, mahasiswa kedokteran Unair, mahasiswa PPDS kejiwaan, penyintas bunuh diri,  komunitas peduli kesehatan mental di Surabaya dan masyarakat.

Di sela-sela acara, penyintas bunuh diri, Tri Wahyudi membacakan puisi yang berisi tentang keresahan hati. Puisi ini membuat semua yang hadir hening dan berpikir sejenak alangka lebih baiknya untuk peduli dan mencintai dirinya sendiri.

Sementara itu, Organisasi Kesehatan Sedunia (WHO) meluncurkan kampanye berjudul aksi 40 detik.

"Setiap 40 detik, satu orang meninggal karena bunuh diri. Tiap kematian ini merupakan tragedi bagi keluar, teman, dan kerabat. Padahal, bunuh diri bisa dicegah," tutur Direktur Jenderal WHO, Dr Tedros Adhanom Ghebreyesus, dilansir dari situs WHO.

Ia meminta agar strategi pencegahan bunuh diri dimasukkan ke dalam program kesehatan dan pendidikan nasional. Karena, keinginan bunuh diri bisa muncul bahkan sejak anak-anak dan remaja.

Berdasarkan data WHO pada tahun 2016, angka kematian akibat bunuh diri mencapai 10,5 per 100.000 penduduk.

Penulis : Pita Sari
Editor : Yasmin Fitrida


Bagikan artikel ini