Korban Penembakan KKB Akan Menikah di Bulan Ruwah, Nyawa Melayang di Papua

04 Feb 2019 17:42 Nasional

Sugeng Effendi, 25 tahun, pemuda asal Probolinggo yang tewas ditembak kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua, Sabtu, 2 Februari 2019 lalu punya rencana besar. Sebulan lagi ia hendak menikahi seorang gadis asal Lumajang, yang sama-sama bekerja di Papua.

Tetapi maut keburu menjemput. Sugeng yang sudah sekitar tiga tahun merantau di Bumi Cenderawasih itu kali ini pulang kampung bersama peti matinya.

“Takdir berbicara lain, anak saya keburu meninggal sebelum mewujudkan keinginannya hendak menikah,” ujar Syahrowi, 65 tahun, ayah almarhum Sugeng di rumah duka, Senin, 4 Februari 2019.

Rumah duka di Dusun Tengah RT 13 RW 04, Desa Kramatagung, Kecamatan Bantaran, Kabupaten Probolinggo tampak dipancangi sebuah terop. Sebuah karangan bunga berisi ucapan duka cita dari Dandim 0820 Probolinggo, Letkol Inf. Imam Wibowo tampak bersandar di dinding teras.

Sambil melayani kerabat dan tetangga yang melayat, Syahrowi berusaha melayani awak media dengan ramah. Sesekali ia masih bisa tersenyum demi mengenang anak keempat dari lima bersaudara.

Termasuk ketika disinggung, apakah sudah mengetahui siapa calon istri Sugeng. “Waduh, saya belum tahu, calon istrinya namanya siapa, seperti apa wajahnya. Katanya orang Lumajang,” ujar Syahrowi dengan bahasa Madura bercampur bahasa Indonesia.

Melalui telepon yang diterima Suhaini, 23 tahun, adik kandungnya, Sugeng mengabarkan hendak menikah. “Katanya hendak menikah di bulan Ruwah (Sya’ban, Red.), atau bulan depan,” kata Syuhaini.

Syahrowi kemudian menceritakan sepotong kisah hingga Sugeng “terdampar” di Papua. Diceritakan, setamat SMA di Probolinggo, Sugeng ingin menjadi prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI).

“Sugeng terinspirasi keponakan saya jadi PM (Polisi Militer) di Cirebon. Tetapi Sugeng tidak lolos seleksi jadi tentara,” ujar Syahrowi. Gagal jadi tentara, Sugeng pun melanglang buana ke bumi Papaua.

Sebelumnya keponakan Syahrowi lainnya, Sholehudin sudah merantau di Papua bersama istrinya, Sofi dan anaknya Dimas. “Awalnya, Sugeng bekerja ngojek motor kemudian berhenti karena ingin berdagang,” ujarnya.

“Keinginan berdagang tercapai, Sugeng punya kios yang menjual kebutuhan warga sehari-hari seperti beras, gula, minyak goreng, dan lain-lain,” ujar Usman, kakak iparnya.

Tetapi justru di kios yang menjadi mata pencahariannya itu nyawa Sugeng berakhir. Ia tewas ditembak orang tak dikenal yang menurut Polres Puncak Jaya merupakan KKB.

Sugeng masih sempat berteriak meminta tolong begitu peluru menembus lehernya. Teman pria asal Randuagung, Lumajang yang selama ini membantu di kios kemudian membawa Sugeng ke rumah sakit di Mulia, Puncak Jaya. Namun nyawa Sugeng sudah tidak bisa tertolong.

Penembakan yang terjadi Sabtu malam, 2 Februari 2019 sekitar pukul 19.00 WIT akhirnya terdengar pula hingga Probolinggo. Sholehudin, keponakan Syahrowi kemudian menginformasikan kabar duka itu melalui Thohir, warga Kramatagung, Kabupaten Probolinggo yang juga kerabat Syahrowi.

Thohir pun tidak langsung memberitahukan kabar duka itu kepada pasutri Syahrowi-Mulyonia, ayah-ibu Sugeng. “Thohir khawatir mertua saya ambruk karena tidak kuat mendengar berita duka itu. Akhirnya sekitar pukul 01.00, barulah berita duka itu disampaikan,” ujar Usman.

Meski mengaku kaget, Syahrowi mengaku, berusaha pasrah dan tawakal atas takdir yang dialami anaknya. “Saya sudah pasrah, soal ada orang yang menembaknya, biar aparat yang mengusutnya,” ujarnya.

Seperti diberitakan, Sugeng Effendi, warga asal Kabupaten Probolinggo dilaporkan tewas ditembak orang tidak dikenal di Kampung Wiyukwi Kota Mulia, Kabupaten Puncak Jaya, Papua,Sabtu, 2 Februari 2019.

Diperoleh informasi dari Kapolres Puncak Jaya AKBP Agustinus Ary Purwanto yang mengabarkan, Sugeng ditembak anggota kelompok kriminal bersenjata (KKB).

 

"Dari hasil olah tempat kejadian perkara (TKP)) terungkap pelaku yang diduga berasal dari KKB melakukan penembakan dari jarak dekat yakni sekitar setengah meter dari korban yang berada di dalam kiosnya," ujar AKBP Agustinus, Minggu. (isa)

Penulis : Ikhsan Mahmudi
Editor : Witanto


Bagikan artikel ini