PENYIMAK: Para audiens ketika menyimak pidato Gus Yahya di Israel. (foto: Gus Yahya for ngopibareng.id)

Diplomasi untuk Perdamaian Palestina-Israel (3/habis)Ajak Merengkuh Rahmah, Gus Yahya Tegaskan Jalan Perdamaian

24 Jun 2018 11:19

Lihat versi non-AMP di Ngopibareng.id

"Pada dasarnya, Presiden Rivlin dan PM Netanyahu menyatakan setuju dengan artikulasi penulis. PM sempat menekankan keinginannya menormalisasi hubungan Israel-Indonesia."

KH Yahya C Staquf ke Israel, mengguncang kesadaran dunia Islam. Diplomasi untuk Perdamaian Palestina-Israel diperlukan. Namun, banyak yang kurang setuju dengan langkah Direktur Urusan Keagamaan pada Bayt Ar-Rahmah, Winston Salem, North Carolina, AS, ini.

Guna memperjelas perjalanan diplomasi Gus Yahya Staquf, panggilan akrab Pengasuh Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini, berikut ngopibareng.id, menghadirkan testimoni Gus Yahya secara langsung, usai kunjungan diplomasi tersebut.

Berikut penuturan Gus Yahya, bagian terakhir dari tiga testimoni iti:

 

Gus Yahya bersarung bersama dua pendamping kunjungan ke Israel. (foto: Gus Yahya for ngopibareng.id)

Penampilan penulis (KH Yahya Cholil Staquf, red) di malam pembukaan AJC Global Forum (Ahad malam, 10 Juni 2018) rupanya dianggap memiliki gaung sehingga Senin siang esok harinya, penulis mendapat pesan, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu meminta pertemuan hari Kamis (14/6). 

Hari berikutnya, datang permintaan Presiden Reuven Rivlin untuk bertemu pada Rabu (13/6). Penulis memperjelas posisi yang datang atas nama pribadi. Harapan penulis ada perdamaian dan ajakan untuk merengkuh rahmah.

Pada dasarnya, Presiden Rivlin dan PM Netanyahu menyatakan setuju dengan artikulasi penulis. PM sempat menekankan keinginannya menormalisasi hubungan Israel-Indonesia. Penulis menyatakan, itu tak dapat dipisahkan dari konfliknya dengan Palestina.

Peluang normalisasi hanya mungkin muncul jika terjadi proses konkret dan kredibel menuju perdamaian Israel Palestina. PM mengerti dan menyatakan akan terus berupaya agar semua masalah itu ditemukan jalan keluarnya.

Penulis tetap menjalankan “kampanye” sesuai rencana, antara lain, dengan kegiatan bersama The Truman Institute di Hebrew University, The Israel Council on Foreign Relations, dan Mothers for Peace (gerakan gabungan kaum ibu Yahudi dan Palestina untuk menyuarakan perdamaian).

Penulis juga membuat kerja sama untuk memproduksi video musik (hasilnya akan diluncurkan dua pekan yang akan datang) dengan Koolo ‘Lam (frasa Ibrani yang berarti “Alam Semesta”) dengan melibatkan 1.000 orang partisipan dari semua agama dan kelompok etnis, bahkan sejumlah orang dari Gaza.

“Tidak ada jaminan Yahya Staquf akan berhasil”, tulis editorial Jerusalem Post, (16/6), “Tapi seseorang harus mulai melakukan sesuatu dari satu titik”. (habis)