Ainun Berpulang, Habibie Menyusulnya...

12 Sep 2019 12:04 Tokoh Lain

Oleh: Ady Amar

Kapan saja dan di mana saja maut atau kematian akan datang menemui siapa saja yang harus ditemuinya, jika waktunya telah ditetapkan. Ini cuma soal giliran saja siapa yang lebih dulu dipanggil, dan siapa yang menyusul untuk menghadap-Nya.

Terkadang yang masih belia dan sehat dipanggil-Nya, sedang yang sudah lansia dan sakit-sakitan belum dipanggil-Nya, masih diberi umur panjang. Itu hak prerogatif Allah. Suka-suka-Nya untuk menghidupkan dan mematikan.

Kematian itu mesti dilalui manusia, seperti juga hidup. Maka hidup dan mati itu adalah rangkaian yang tak terpisahkan. Itu Sunnatullah yang mesti dilalui. Jalan hidup dan kematian pun bervarian satu manusia dengan lainnya. Karenanya, hidup bisa susah tapi juga bisa berlebih, begitu pula kematian ada yang su'ul khotimah, ada pula yang husnul khotimah.

Setiap hari bayi dilahirkan, tapi setiap hari pula, dengan jumlah yang hampir sama, manusia dimatikan. Mungkin itu bagian dari cara-Nya mengatur "keseimbangan" manusia untuk tidak melebihi kapasitas. Tapi yang pasti, Allah menunjukkan kekuasaannya, Dia mampu menghidupkan dan mematikan kapan saja Dia kehendaki.

Karenanya, kita mesti fahami konsep "suka-sukanya" Allah itu adalah cara-Nya menentukan takdir tentang hidup dan mati. Itu hak-Nya yang tidak dapat direvisi dengan ikhtiar tingkat tinggi dan doa super sekalipun. Jika sampai waktunya ajal tiba, maka tidak ada yang bisa menahan dengan menego untuk mengundurnya barang sesaat. Malaikat-Nya akan sigap menunggu perintah melaksanakan tugasnya selaku pencabut nyawa.

Maka pecahlah tangis orang di sekeliling sang mayit, bagian dari "perayaan" kesadaran bahwa ia akan berpisah selamanya di dunia. Itu wajar. Bagaimana tidak, selama sekian tahun bahkan berpuluh tahun menjadi bagian dari dirinya, lalu harus "terputus" hubungan yang tidak diinginkannya. Semua kita akan merasakan "perayaan" perpisahan dengan pribadi-pribadi yang kita kasih dan sayangi, tapi tanpa kita miliki, terbujur kaku tanpa nyawa. Ruh dicabut, dan raga kaku yang dititipkan pada tanah sebagai asalnya.

Suasana demikian akan terus berlanjut, dan tidak ada yang mampu menahannya atas nama kasih-sayang. Ayah, ibu, kakak, adik dan orang-orang terdekat, akan kita tinggalkan, atau kita meninggalkan mereka, satu persatu dan selama-lamanya. Yaa Allah, semoga kami dan orang-orang terkasih semuanya diwafatkan dalam kematian yang indah (husnul khotimah), dan kelak kumpulkan kami kembali di jannah-Mu.  Aamiin...

Habibie-Ainun

Beberapa tahun lalu, tepatnya 24 Maret 2010, Hasri Ainun Besari, yang lebih akrab dipanggil Ainun Habibie, wafat di Jerman.

Ainun adalah istri kinasih pak Habibie, Presiden RI ke-3, yang saat kematiannya meninggalkan duka mendalam. Hari-hari Habibie meski dengan kesibukannya tetap menorehkan kesedihan panjang. Jika bertutur tentang ibu Ainun, yang ada adalah pujian yang tiada henti. Dan memang kehidupan keduanya adalah kehidupan serasi yang tidak terpisahkan satu dengan lainnya.

Kerap pada berbagai kesempatan, Habibie mengucap kalimat romantis pada Ainun. Kalimat yang keluar dari lubuk hatinya yang membuat iri yang mendengarnya.

"Saya tidak takut lagi meninggal, karena sudah tahu bahwa Ainun telah menunggunya di dimensi lain," katanya sambil tersungging senyum khasnya.

Dan, maut kematian akhirnya memang menjemput pak Habibie pada tanggal 11 September 2019, tepatnya pukul 18.05, tepat adzan maghrib selesai berkumandang di atas RSUP AD Gatot Subroto, Jakarta. Inna Lillahi wa ina Ilaihi Rojiun. Satu lagi putra terbaik bangsa meninggalkan kita semua, tapi tidak karya-karyanya yang begitu besar yang tidak akan lekang dimakan zaman.

Harimau mati meninggalkan belang, dan manusia mati meninggalkan nama.

Selamat jalan adalah kata yang tidak nyaman diucapkan untuk melepas kepergian orang yang kita cintai, siapapun dia. Namun suka atau tidak, perpisahan itu akan menyergap kita menghadap sang khalik: Ainun juga Habibie telah meninggalkan kita semua. Tapi tidak kebaikan karya dan keteladanannya.

Makamnya di Taman Makam Pahlawan Kalibata berdampingan. Dan itu sudah dipesan Habibie saat pemakaman ibu Ainun. Buat keduanya, tampaknya, berdampingan tidak cukup di dunia tapi di dimensi lain... Subhanallah.

*Ady Amar, penulis dan penerbit Risalah Gusti.

Penulis : M. Anis


Bagikan artikel ini