AHY saat ditemui di DBL Arena, Surabaya, Sabtu 13 April 2019. (Foto: Farid/ngopibareng.id)

AHY Sebut Politik Identitas Kian Marak Jelang 17 April

Politik 13 April 2019 22:53 WIB

Komandan Komando Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyinggung soal fenomena polarisasi masyarakat yang makin terasa, karena makin masifnya sejumlah pihak menggunakan narasi politik identitas.

Hal itu disampaikan putra sulung presiden RI ke-5, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tersebut, dalam Pidato Kebangsaannya yang berjudul Indonesia untuk Semua, di DBL Arena, Surabaya, Sabtu 13 April 2019.

"Sikap saling tuding antar kelompok yang menggunakan narasi identitas seperti, antara pro-kebhinekaan dan pro-Islam, pro-NKRI dan pro-khilafah, atau pro-Pancasila dan anti-Pancasila. Seolah kian merenggangkan hubungan kita sebagai sesama anak bangsa," kata dia.

Penggunaan narasi-narasi yang bisa memicu polarisasi itu kata AHY, sudah terjadi sejak lama. Bahkan sejak Pilpres 2014 dan Pilkada DKI Jakarta 2017 yang lampau.

"Sebenarnya penggunaan narasi media semacam itu sudah terasa sejak Pilpres 2014, dan Pilkada DKU Jakarta 2017 yang lalu. Tetapi dalam kontestasi pemilu 2019 ini penggunaan narasi identitas itu kita rasakan semakin keras," kata dia.

Buntutnya, kata AHY sikap saling curiga terus tercipta, sikap saling benci kian mengental, bahkan, menurutnya hal itu sampai mengakibatkan kontak fisik antar para pendukung capres di sejumlah daerah.

Sang ayah, SBY yang juga Ketua Umum Partai Demokrat tersebut, kata dia sudah memberikan titah kepada seluruh kader partai untuk senantiasa berkomitmen pada empat pedoman dasar. Yakni, menjaga NKRI, merawat kebhinekaan, menegakkan keadilan, serat mengutamakan rakyat,

"Dalam suratnya pak SBY menyampaikan pesan kepada kita, agar berjuang untuk Indonesia senantiasa menceminkan inklusifness atau melibatkan dan mengayomi seluruh komponen bangsa dengan sesama Indonesia untuk Semua agar mencerminkan keberagaman, kemajemukan dan persatuan unity in diversity, bhinneka tunggal ika, berbeda tapi tetap satu jua," kata dia

SBY, kata dia juga telah menasihatkan, bahwa calon pemimpin yang cara berfikir dan tekadnya adalah untuk menjadi pemimpin bagi semua, kalau terpilih kelak akan menjadi pemimpin yang kokoh.

Sebaliknya, jika pemimpin tersebut mengedepankan politik identitas, atau gemar menghadapkan identitas yang satu dengan yang lain, dan menarik garis pembeda yang tebal antara kawan dan lawan, maka hampir dipastikan pemimpin itu adalah pemimpin yang rapuh.

"Kita semua berkeyakinan baik Pak Prabowo Subianto dan Pak Joko Widodo bukanlah calon pemimpin yang berniat untuk membentur-benturkan identitas masyarakatnya sendiri, kita sendiri semua yakin keduanya juga memiliki komitmen untuk senantiasa menjaga keutuhan bangsa," katanya. (frd)

Penulis : Farid Rahman

Editor : Riadi

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

07 Jul 2020 21:16 WIB

Jatim Gagal Turunkan Kurva Covid-19, Alasannya Pemda Tak Serius

Surabaya

Masyarakat masih banyak langgar protoko kesehatan

07 Jul 2020 20:44 WIB

Gus Hans dan Eri, Kandidat Kuat Cawawali Whisnu?

Pilkada

Eri dan Gus Hans dinilai cocok dampingi Whisnu Sakti.

07 Jul 2020 17:10 WIB

Bengkel Tambal Ban Rp600 Ribu, Ganti Nama Bengkel 'Selangit'

Jawa Timur

Bengkel tambal ban Rp600 ribu viral, mendadak ganti nama.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...