AHY dan Siasat Raden Wijaya

11 Jun 2019 10:05 Ajar Edi
Ujar Ajar

Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), putra mahkota Partai Demokrat bergerak lincah. Bak meniti angin. Di hari Idulfitri lalu, dia menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana dan Ibu Megawati di Teuku Umar.

Mbak Puan Maharani, pewaris Partai PDI P, mengabadikan peristiwa silaturahmi itu. Mereka berswafoto bersama. “Di Teuku Umar dengan AHY dan EBY 😊 #idulfitri2019," tulis Mbak Puan. 

Ibu Mega yang biasanya irit senyum, terlihat beda. Dia membagi deretan gigi indahnya. Komplit sekali, nikmatnya persamuhan lebaran itu.

Usai silaturahmi dengan Pak Jokowi, Mas AHY menegaskan, tak ada pembicaraan politik. Kedatangannya lebih menjaga adat ketimuran. “Memelihara silaturahmi antara keluarga SBY dengan keluarga Jokowi,” ungkapnya ke wartawan di Istana.

Di matanya, sudah jadi tugasnya menjaga silaturahmi. “Pasti akan banyak kebaikan untuk kita semua,” tambahnya. Tentu saja, kebaikan untuk berkiprah di pemerintahan lima tahun ke depan. 

Langkah cergas ini, ditafsirkan sebagai lanjutan pertemuan Ibu Megawati dan Pak Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Tak ada pertemuan politis paling ditunggu di Indonesia, kecuali pertemuan keduanya. Tentu saja, karena beratnya beban sejarah. 

Memang, riak-riak konflik Ibu Megawati dan Pak SBY sudah jadi rahasia umum. Tercatat, beragam usaha untuk mempertemukan keduanya. Sayangnya, semua bak pungguk merindukan bulan. Termasuk saat mereka ketemu sekilas, pas pengambilan nomor urut pilpres lima tahun lalu.

Sepertinya, keduanya hanya bisa bertatap muka dan berjabat tangan tulus di TMP Kalibata. Pada Minggu 3 Juni 2019, di acara pemakaman Ibu Ani Yudhoyono dan pemakaman Pak Taufiq Kiemas, pada Minggu 9 Juni 2013.

Tak heran, banyak tafsir atas langkah Mas AHY ini. Termasuk, analisa Partai Demokrat akan bergabung ke koalisi pendukung Pak Jokowi. Karena, demi Pemilu 2024, semua partai dan kandidat calon presiden berebut posisi di pemerintahan.

Semua mahfum, Pak Jokowi dan Ibu Megawati adalah pemenang Pemilu 2019. Keduanya adalah komposer dan dirijen pemerintahan lima tahun di muka. Boleh saja, Pak Jokowi berkeinginan, tapi kalau Ibu Mega menolak, bisa jadi beda. Atau sebaliknya.

Semua mahfum, Pak Jokowi dan Ibu Megawati adalah pemenang Pemilu 2019. Keduanya adalah komposer dan dirijen pemerintahan lima tahun di muka.

Jadi pilihan silaturahmi ini sudah cocok. Merebut simpati dan kepercayaan keduanya. Walau kemudian, dengan lihai, strategi itu disamarkan. Mas AHY juga mendatangi Keluarga Gus Dur dan Keluarga Pak Habibie, jadi aura silaturahmi lebih dominan.

Kalau mau melihat sejarah, strategi yang dijalankan ini, mirip dengan siasat Raden Wijaya. Yakni, ikut mengabdi ke Jayakatwang, Raja Singhasari. Namun niatnya tetap membalas dendam untuk merebut tahta. 

Dengan kedatangan Pasukan Mongol, ambisi itu terwujud. Seusainya, Raden Wijaya ganti berbalik arah. Dia menikam Pasukan Mongol, dan mengusirnya dari Jawa.

Sebenarnya, strategi ini juga ditiru oleh Adipati Gegilang, penguasa Tuban. Kemenakan Sunan Kalijogo ini patah arang ke Sultan Trenggono, penguasa Kerajaan Demak. Pasalnya, walau warga Tuban sudah menganut Agama Islam, namun mereka tetap diserang Sultan Trenggono. 

Untuk menghindari bumi hangus Tuban, Adipati Gegilang memilih bergabung dengan Demak. Namun, di sisi lain, ada orang-orang kepercayaannya, yang secara bawah tanah, menjalin ikatan dengan pihak-pihak yang kecewa dengan Demak.

Kalau mau melihat sejarah, strategi yang dijalankan ini, mirip dengan siasat Raden Wijaya. Yakni, ikut mengabdi ke Jayakatwang, Raja Singhasari.

Dalam penyerbuan Sultan Trenggono ke Panarukan, momen itu muncul. Walau sudah mengepung Panarukan selama tiga bulan, perang belum juga usai. Pada saat itu, bersama kadipaten lainnya, pasukan pendem Kadipaten Tuban ikut memukul habis pasukan Demak.

Sultan Trenggono sendiri meninggal dalam penyerbuan ke Panarukan. Setelah itu, Kerajaan Demak perlahan runtuh karena perebutan kuasa dilandasi balas dendam. Dari terbunuhnya Sunan Prawoto, Adipati Ario Penangsang, hingga Sultan Hadiwijaya.

Namun, untuk urusan siasat Raden Wijaya ini, dalam bentuk perebutan kekuasaan, setidaknya ada tiga kunci utama. Momentum, jaringan telik sandi (intelijen) mumpuni, dan para senapati pilih tanding. 

Kini, apakah Mas AHY dan Partai Demokrat sedang melaksanakan siasat ini? Memang, Mas AHY tampak sudah bersiap di Pilpres 2024. Ini contoh kecilnya. Saat bertemu Pak Jokowi di Istana Kepresidenan pada Jumat, 3 Mei 2019, dia naik mobil Toyota Land Cruiser berplat nomer B 2024 AHY.

Momentum silaturahmi ini, sudah jadi pijakan awal yang bagus bagi langkah politiknya. Namun, apakah dia juga memiliki jaringan intelijen yang hebat? Juga, apakah para publik figur Partai Demokrat sudah masuk kategori para senapati pilih tanding?

Kita tunggu saja, jalan sejarah akan menjawabnya.

Ajar Edi, kolumnis ngopibareng.id

Penulis : Ajar Edi
Editor : Arif Afandi


Bagikan artikel ini