Agama Jadi Indentitas Politik, Gus Ulil Perlu Kenalkan Tasawuf

02 Jul 2019 08:40 Khazanah

Orang beragama hari ini kerap kali tersibukkan dengan mengurusi hal-hal yang tampak di luar saja. Hal tersebut mengurangi waktu guna mengurusi perkara yang mestinya lebih didahulukan, yakni yang ada dalam diri.

Tasawuf mengajarkan hal yang sebaliknya, berbeda dengan cara pandang umum. "Tasawuf justru mengajarkan kita tidak menampakkan terlalu eksplisit keluar," kata Gus Ulil Abshar Abdalla, dalam keterangan dikutip ngopibareng.id, Selasa 2 Juli 2019.

Di tengah ramainya agama dijadikan komoditi politik saat ini, tasawuf, menurut Gus Ulil, menjadi sangat penting untuk terus disuarakan guna membawa pandangan alternatif.

"Mengenalkan kembali pandangan sufi itu penting karena sufilah yang tetap menjaga etos atau semangat membawa agama alternatif," katanya.

"Mengenalkan kembali pandangan sufi itu penting karena sufilah yang tetap menjaga etos atau semangat membawa agama alternatif," kata Gus Ulil Abshar Abdalla.

Lebih jauh sebelumnya, Gus Ulil menjelaskan bahwa sebetulnya agama memang tercipta sebagai sebuah alterantif dari kelaziman di zamannya. Lama-lama agama membentuk sistem baru yang di dalamnya terdapat orang yang berkepentingan untuk menjaga sistem tersebut sehingga jika ada alternatif baru itu dimusuhi.

 

Sufi, lanjut Gus Ulil, tidak suka dengan hal yang hanya bersifat permukaan saja. Yang model demikian, menurutnya, tidak terlalu dianggap. Pasalnya, Tuhan tidak melihat manusia berdasar hal-hal yang bersifat luaran terlihat orang lain, tetapi lebih ke kedalaman hatinya.

 

"Jadi yang dilihat Tuhan itu sebetulnya bukan sesuatu yang di luar, tetapi sesuatu yang di dalam," katanya menerjemahkan sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim.

 

Lebih lanjut, pengampu pengajian kitab Ihya Ulumiddin daring (online) itu mencontohkan salah satu ajaran Tarekat Malamatiyah yang meminta agar tidak tampak shaleh di muka umum. Menurutnya, menjadi tampak shaleh di muka umum, seperti di depan kamera, di media massa, di Youtube, itu mudah sekali. Yang menjadi sulit adalah tampak shaleh pada saat sendirian.

 

"Kalau Anda tampak shaleh ketika sendirian, Anda shaleh," ujar intelektual yang menamatkan studi magisternya di Amerika Serikat itu.

 

Itu juga menjadi makna ikhlas, yakni ketika bisa menjadi saleh ketika sendirian bersama Tuhan, tidak dengan orang-orang. Karena hal yang disebut terakhir itu sangatlah mudah.

 

"Jadi pada saat kita sendirian itu tidak ada insentif untuk saleh, karena itu kita sembarangan," katanya.

 

Oleh karenanya, Gus Ulil mengungkapkan bahwa KH MA Sahal Mahfudh pernah mengatakan jika suatu saat menjadi mufti, carilah hukum paling mudah untuk orang banyak, tetapi bagi diri sendiri cari paling sulit.

 

"Untuk dirimu sendiri standarnya kau tinggikan, tetapi untuk orang banyak standarnya diturunkan. Kenapa? Kalau standarnya ditinggikan banyak yang tereksklusi," katanya.

 

Namun di era saat ini makin banyak orang yang memberikan pilihan hukum yang sangat tinggi agar terlihat semakin takwa. Sebab, semakin galak, makin dianggap sebagai pembela Islam. Padahal, kata Gus Ulil, Nabi itu tidak diberikan dua pilihan kecuali diambil opsi paling mudah.

 

"Pokoknya kalau ada dua opsi cari yang paling mudah," tegas menantu Mustasyar Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Ahmad Mustofa Bisri itu.

 

Sebelumnya, Gus Ulil tampil dalam acara Picnikustik yang digelar oleh Komunitas Musisi Mengaji (Komuji) Jakarta di Twin House, Jalan Cipete Raya No. 4B, Jakarta Selatan, Jumat 28 Juni 2019.

 

Lebih lanjut, Gus Ulil memberi contoh serombongan para sahabat dari Yaman yang hendak bertemu Nabi. Salah satu anggota rombongan tersebut mengatakan kepada Nabi bahwa ada anggotanya yang sejak dari Yaman berpuasa dan shalat saban berhenti beristirahat.

 

Ia menyebut orang tersebut sangat saleh. Tetapi, katanya, Nabi hanya tertawa saja mendengar penuturan orang tersebut.

 

Nabi pun bertanya kepada rombongan tersebut, siapa yang menyiapkan makanannya. Tentu mereka menjawab merekalah yang menyiapkan makanan bagi satu orang yang berpuasa itu. "Kalian menyiapkan makanan bagi orang ini lebih baik daripada dia," kata Gus Ulil menerjemahkan jawaban Nabi.

 

Sebab, posisi moral orang-orang yang menyiapkan makanan itu lebih baik daripada orang yang berpuasa tersebut. "Jadi bukan melihat sesuatu yang di luarnya, tetapi esensinya itu," katanya.

 

Oleh karena itu, menurutnya, berpikir dengan cara pandang tasawuf sangat relevan untuk hari ini. Pasalnya, era saat ini agama tengah menjadi identitas politik. "Sekarang agama menjadi identitas politik. Nah, ciri khas identitas harus nampak,"

 

Jika tidak tampak maka tidak bisa disebut identitas mengingat keunikan identitas itu harus visible, kelihatan. Agama yang menjadi identitas seperti hari ini harus kelihatan.

 

Selain Gus Ulil, kegiatan yang diinisiasi oleh para musisi nasional ini juga menghadirkan Habib Husein al-Hadar. (adi)