Agama adalah Akhlak yang Mulia, kata Ulil Abshar-Abdalla

05 Nov 2019 07:17 Khazanah

Agama adalah akhlak yang mulia. Pengertian ini sangat sederhana tapi mendalam. Nabi Muhammad SAW ditanya oleh para sahabat mengenai apa itu agama? Tiga kali Nabi menegaskan akhlak yang mulia.

"Apa kamu tidak paham, bahwa akhlakmulia itu, menahan marah!" tegas Nabi.

Kutipan ini disampaikan Gus Ulil Abshar Abdalla dalam suatu kajian Kitab Ihya Ulumiddin, yang diampunya. Untuk ini, menantu KH A Mustofa Bisri ini kerap melakukan Kopi Darat (Kopdar) ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk ke Manado.

"Betapa sederhana pengertian dan praktik agama yang diajarkan Nabi. Ini sangat relevan dengan konteks sosial saat ini. Di mana banyak orang mempersulit pengertian agama dan bahkan kalau tidak sesuai dengan pemahamannya, dikatakan sebagai tidak beragama," kata Gus Ulil.

Seorang Sufi besar bernama al-Fudlail, kata Gus Ulil, menceritakan ada seorang perempuan di zaman Nabi yang berpuasa setiap hari dan beribadah setiap malam. Akan tetapi, perempuan itu membuat sakit hati tetangganya dengan lisannya.

"Tidak ada sisi baiknya perempuan itu. Perempuan itu termasuk penghuni neraka," tegas Nabi seperti dikisahkan al-Fudlail.
Menurut Gus Ulil, kisah ini sangat relevan dengan kehidupan sosial yang sudah sangat jauh dari substansi agama ini.

Gus Ulil merefleksikan kehidupan sosial saat ini yang penuh dengan ujaran kebencian, prasangka buruk, adu domba antar elemen dan berbagai fitnah yang dapat mengarah kepada disintegrasi sosial.

Bahkan, ada kelompok yang mengesampingkan keberagamaan kelompok lain, hanya karena pemahaman berbeda. Tuduhan mengkafirkan kelompok lain dan menghalalkan darah orang yang bukan kelompoknya, sempat mewarnai kehidupan keagamaan akhir-akhir ini.

"Ini pemahaman agama yang sangat tertutup dan memberatkan orang yang hendak mendekat kepada agama. Padahal Islam mengajarkan agama sangat sederhana dan nyaman bagi manusia," papar Gus Ulil.

Seperti diketahui, Imam al-Ghazali menyusun Kitab Ihya Ulumiddin yang sangat legendaris di kalangan pesantren. Kitab ini bermakna "Menghidupkan Praktik Keagamaan Islam", terdiri dari beberapa jilid tebal. Karena itulah, Imam Ghazali juga dikenal sebagai Hujjatul Islam alias Bukti Kebenaran Islam.