Ada Pak Prabowo di Ibu Kota Baru

26 Aug 2019 18:30 Ajar Edi
Ujar Ajar

Akhirnya, datang juga. Presiden Joko Widodo memutuskan, Ibu Kota Republik Indonesia pindah ke Kalimantan Timur. “Sebagian di Kabupaten Penajam Paser Utara dan sebagian di Kab Kutai Kartanegara,” tegas Pak Jokowi.

Putusan itu disiarkan secara langsung melalui media sosialnya, Senin, 22 Agustus 2019. Media dan stasiun tivi ramai menyiarkan. Tapi ada yang menarik, dari paparan itu, berarti akan ada Pak Prabowo di wilayah ibu kota baru itu.

Begini ceritanya. Pemerintah akan menggunakan lahan yang di atasnya ada hak negara. Lahan yang bisa diambil kapan saja. Bukan milik masyarakat yang bikin pusing, karena urusan pembebasan dan ganti rugi.

Kalau skenarionya seperti itu, area ibu kota baru kemungkinan akan mengambil hak kawasan Hutan Tanaman Industri (HTI). Di Kabupaten Penajam, area yang besar adalah ICTI, milik Group Arsari. Punya Pak Hasyim Djojohadikusumo, adiknya Pak Prabowo Subianto.

Konon, hak penguasaan ITCI awalnya seluas 600 ribu hektar. Namun, sekarang dipecah menjadi beberapa bagian. Kabarnya, kini, Pak Hasyim memguasai sekira 161 ribu hektar. Ada juga Raja Garuda Mas, milik taipan Sukanto Tanoto, sekira 30 ribuan hektar. Juga group usaha lainnya.

Tak heran, ini kenapa ada Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya di acara penjelasan itu. Memang, yang punya hak mengeluarkan izin HTI adalah Kementerian KLHK. Walau mayoritas izin dikeluarkan oleh Menteri Kehutanan terdahulu.

Sebenarnya di area itu, juga ada hak milik BUMN, Inhutani I. Tapi luasnya hanya sekira 17 ribu hektar. Padahal ibu kota butuh hampir 35 ribu hektar.

Nah, karena ada Pak Prabowo di area itu, tentu saja urusan ini bisa ditarik di politik. Hubungan Pak Prabowo dan Ibu Megawati, saat ini, sedang hangat-hangatnya. Bisa jadi, urusan ibu kota baru ini akan membuat hubungan dengan Pak Jokowi makin erat.

Tentu tidak ada kompensasi uang dalam pengambilan lahan itu. Tapi, kompensasi politik? Siapa tahu. Pas juga, momen ini dengan penyusunan kabinet baru.

Tapi kita pinggirkan urusan politik ini. Kebetulan, hampir lima tahun saya tinggal di Balikpapan. Terus sempat juga tinggal di Penajam, hampir dua tahun. Dulu, tiap dua minggu saya bolak-balik antara Bogor ke Penajam.

Saya kenal beberapa orang di Penajam, Balikpapan, dan Samarinda. Salah satunya, Mas Niel Makinuddin. Pemerhati sosial dan lingkungan hidup yang disegani.

Pokok pikirannya selalu prudent. Punya passion yang kuat kalau bicara masalah lingkungan. Seusai pengumuman ibu kota itu, dia berkirim pesan.

 

Pertama, dia khawatir, kalau pembangunan tidak lancar. Bisa jadi karena beragam alasan. “Padahal sejumlah Kawasan sudah terlanjur dibuka (dibabat hutannya),”paparnya. Tentu saja, hal itu harus dihindari.

Namun, dia juga mengaku bisa bernafas agak lega. Pasalnya, Menteri Bappenas Bambang Brodjonegoro menyatakan 50% dari total kawasan akan dijadikan ruang terbuka hijau. Bahkan Pak Bambang berjanji menjaga kawasan konservasi.

“Kawasan lindung dan konservasi seperti Bukit Suharto, Hulu Sungai Wain akan dipertahankan bahkan diperbaiki,” katanya. Yang paling penting, dia berharap  rancangan kota ini ramah lingkungan.

“Kita mesti cerewet dan kritis dengan design ibu kota,” pintanya. Pemerintah juga harus membuka ruang yang luas bagi publik untuk memberikan masukan. Karena hal itu penting dalam kebijakan publik.

“Setidaknya, itu akan memperkaya design. Terutama dari aspek lingkungan, perubahan iklim (rendah emisi karbon), sosial (icon ethnic Kalimantan, ramah ke disable dan marginal), teknis engineering (rain harvesting, rendah asupan energi), dan masih banyak lagi,” tuturnya panjang lebar.

Di matanya, pelibatan publik ini harus dilakukan. Harapannya, masyarakat juga punya rasa memiliki yang kuat. Muaranya, kolaborasi ini bisa menghasilkan karya yang monumental.

Satu titipan lain, tentu masalah transportasi publik. Trend kota-kota besar di dunia, mereka mengadopsi kendaraan zero emisi. Ini juga harus diikuti. Misalnya, penggunaan bus umum listrik. Juga pola transportasi makro yang saling terintegrasi.

Oh ya, saat saya menulis artikel ini, tiba-tiba handphone saya bergetar. Terlihat nomer telepon dari Saudi Arabia. “Ini telepon nyasar, atau jangan-jangan ada pangeran dari Kerajaan Arab?” batin saya.

Saat saya angkat, ternyata suara teman lama saya terdengar. Dia sekarang bekerja sebagai insinyur di Saudi Aramco. Perusahaan minyak milik Kerajaan Arab.

Dia mengaku kaget saat mengaku Penajam dipilih jadi ibu kota. “Saya baru telpon Om di Balikpapan. Alhamdulillah, tanah yang saya dulu beli di Penajam, sertifikatnya masih ada,” katanya sambil terkekeh.

Memang, pengumuman ibu kota baru ini, juga memberikan harapan ekonomi baru. Bisa dipastikan, masyarakat akan datang. Kota-kota di seputaran ibu kota akan berkembang pesat.

Termasuk harga tanah juga. Tak perlu waktu lama, nilainya akan naik cepat. “Padahal, dulu saat membeli tanah ngga ada pikiran, buat apa,” katanya.

Tapi, teman insinyur ini yakin, tak perlu menunggu lama atas perkembangan kota. Hal itu, juga akan membuat harga tanahnya membumbung tinggi. “Alhamdulillah. Mungkin ini bagian rezeki dari Allah,” katanya.

 

Tanah itu, dulu dibeli cash. Dia merasa berkah. Ada beberapa aset yang dibeli secara kredit, malah berantakan. Teman insinyur ini memang makin religius. Maklum, tiap tahun dia dan keluarga dimudahkan bisa berhaji.

Baginya, semua kemudahan harus disambut dengan syukur. Dia pun mengutip firman Allah SWT dalam Surat Ibrahim, ayat 7, “jika kalian bersyukur pasti akan Aku tambah ni’mat-Ku padamu”. “Jadi jangan lupa bersyukur,” pesannya.

Terkait bersyukur ini, saya jadi ingat Pak Prabowo lagi. Dia berharap, ibu kota pindah ke Jonggol. Karena dekat dengan rumahnya.

Kini, walau harapan Pak Prabowo itu tak terwujud, saya yakin, beliau pasti tetap bersyukur. Karena pilihan Pak Jokowi, ibu kota tetap tak jauh dari areal kawasan HTI miliknya.

Ajar Edi, kolumnis “Ujar Ajar” di ngopibareng.id

Penulis : Ajar Edi
Editor : Moch. Amir


Bagikan artikel ini