Ada Apa dengan Anies?

22 Apr 2019 06:51 Ajar Edi

Hasil hitung cepat Pilpres 2019 di Prov DKI Jakarta, Prabowo-Sandi takluk. Hanya 48,95 persen suaranya. Dilibas Presiden Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma’ruf Amin dengan 51,05 persen. 

Hasil ini menunculkan pertanyaan kecil. Seseries apakah Gubernur Anies memenangkan Pak Prabowo? Mentor utama yang mengorbitkan dirinya setelah tercampak dari kabinet.

Padahal saat Pilgub 2017, Anies-Sandi mendapat 57,96 persen. Sekitar 3.240.987 orang. Apa susahnya Mas Anies menjaga suara ini. Bahkan seharusnya bisa dinaikkan. 

Coba kita bandingkan dengan Gubernur Ganjar Pranowo. Di Jawa Tengah (Jateng), Mas Ganjar terang benderang bekerja. Mengajak para bupati dan walikota se Jateng, mendukung Pak Jokowi. 

Hasilnya, suara Pak Jokowi di Jateng nyaris sempurna. Mantan Walikota Solo ini meraup 78,51 persen. Sedangkan, Pak Prabowo yang mantan mantu keluarga Kasunanan Solo, hanya meraup 21,49 persen.

Hal ini membalikkan harapan kubu mantan Danjen Kopasus ini. Sebelumnya, mereka meyakini, Jateng akan berubah. Jadi lumbung suara baru.

Parameter sebelumnya, hasil Pilgub Jateng. Suara mantan Menteri ESDM, Pak Sudirman Said naik drastis. Nyatanya? Jateng tetap jadi kandang Banteng. 

Sepertinya, karena jarak Pilgub Jateng dan Pilpres agak jauh, mesin partai sudah dingin. Oli mengering. Tak greget lagi. 

Selain itu, beberap hari sebelum masa tenang, Mas Ganjar masih keliling Jateng. Menyisir daerah-daerah kandang banteng. Merawat basis. 

Istilahnya kunjungan kerja. Tapi, pasti pesan lembut kampanye disisipkan. Simak saja, cara pidatonya yang viral itu. 

Berlagak memukul-mukul podium. Tapi dengan cara lembut. Ya, publik menangkap kesan, sebenarnya dia menyindir gaya Pak Prabowo kampanye di Jogja.

Berlagak memukul-mukul podium. Tapi dengan cara lembut. Ya, publik menangkap kesan, sebenarnya dia menyindir gaya Pak Prabowo kampanye di Jogja.

Dengan kiprahnya, Mas Ganjar bisa jadi masuk list calon kandidat presiden dari PDI P. Itu, jika Mbak Puan dan Ibu Mega rela. Atau jika popularitas Mbak Puan di bawah rata-rata, dan PDI P tak punya pilihan lain, seperti saat menaikan Pak Jokowi.

Sepertinya, gairah kecintaannya pada PDI P pulalah, yang membuat kerja politik Mas Ganjar, terhitung tulus. All out. Semaksimal mungkin. Pejah gesang, nderek PDI P.

Bisa jadi, kondisi ini berkebalikan dengan Mas Anies. Belum ada statement resmi, yang menyatakan kalau dia telah berlabuh di Partai Gerindra. Walau sudah sering menghadiri acara partai. 

Karena bukan anggota Partai Gerindra, Mas Anies bisa saja berkilah, dia hanya pelayan rakyat Jakarta. Bukan petugas partai yang wajib memenangkan Pak Prabowo.

Bahkan, terkesan ada berkah dari kekalahan Pak Prabowo. Mas Anies kandidiat kuat calon presiden di 2024. Sebab, kalau Pak Prabowo yang jadi, kartu politiknya paling mentok jadi Gubernur DKI Jakarta dua periode.

Sebenarnya, Gubernur DKI Jakarta itu bisa memerintah langsung hingga ke lurah. Kekuasaannya mirip tangan gurita. APBDnya paling besar se Indonesia. 

Terkesan ada berkah dari kekalahan Pak Prabowo. Mas Anies kandidiat kuat calon presiden di 2024. Sebab, kalau Pak Prabowo yang jadi, kartu politiknya paling mentok jadi Gubernur DKI Jakarta dua periode.

Seharusnya, program kerjanya bisa memaksimalkan dukungan kepada pasangan Prabowo-Sandi. Mirip para menteri yang kampanye Pak Jokowi. Sayangnya, Mas Anies tidak membuat ini terjadi.

Yang terlihat, Mas Anies malah berbalas pantun dengan Menteri PU Basuki Hadimuljo. Mas Anies ngotot untuk naturalisasi sungai, namun Pak Basuki di media, mengaku tidak paham maksud sang gubernur kita ini.

Lantas, di media pula, Mas Anies berbalas pantun dengan Menteri Perhubungan Pak Budi Karya Sumadi. Soal banjir tentu saja. Yang lebih mengherankan, ketiganya sama-sama Keluarga Alumni Gadjah Mada (Kagama). 

Mungkin, banyak warga Kagama yang juga malu. Apa tidak bisa, hal itu diselesaikan selow saja, ngopi bareng. Dirampungkan gaya jogja. 

Selain itu, ada analisa lainnya. Bisa jadi, tanpa Mas Sandi sebagai wakil gubernur, Mas Anies agak gelagapan. Atau, Mas Anies sebenarnya sudah mengerjakan tugasnya, tapi gagal mendapatkan simpati warga Jakarta. Entahlah. 

Kalau Mas Anies ingin maju jadi capres, masih ada waktu empat tahun berbenah. Masuklah partai politik. Bekerja dengan tulus. Karena tidak ada ceritanya, kalau Presiden RI bukan kader partai politik.

Yang pasti, kalau Mas Anies ingin maju jadi capres, masih ada waktu empat tahun berbenah. Masuklah partai politik. Bekerja dengan tulus. Karena tidak ada ceritanya, kalau Presiden RI bukan kader  partai politik. 

Jadilah Gubernur DKI Jakarta yang terbaik. Tinggal amati program dan karya terbaik dari gubernur sebelumnya. Amati, tiru, dan modifikasi. Pasti, akan dicintai seluruh warga Jakarta.

Jadi, rumusnya sebenarnya sederhana saja.

*) Ajar Edi, kolumnis ngopibareng.id

Reporter/Penulis : Arif Afandi


Bagikan artikel ini