Ilustrasi Tulisan Ada Apa dengan Amerika, seorang perempuan menggelar aksi  untuk mendukung diakuinya surat suara pemilihan presiden lewat kantor pos, di depan hotel milik Donald Trump di  Washington DC. (Foto:TheTelegraph)
Ilustrasi Tulisan Ada Apa dengan Amerika, seorang perempuan menggelar aksi untuk mendukung diakuinya surat suara pemilihan presiden lewat kantor pos, di depan hotel milik Donald Trump di Washington DC. (Foto:TheTelegraph)

Ada Apa dengan Amerika? (2)

Ngopibareng.id Kolom Andi Mallarangeng 12 November 2020 20:22 WIB

Oleh: Andi Mallarangeng

 

Lebih dari seminggu telah lewat, drama pilpres Amerika belum juga usai. Walaupun kemenangan Biden telah jelas, dan para pemimpin dunia pun telah memberi selamat, tetapi Presiden Trump tetap belum mau mengakui kekalahannya. Sounds familiar?

Baru kali ini kandidat yang kalah di Amerika bersikap seperti ini. Bahkan ketika popular vote yang diraih oleh Biden 5 juta lebih besar. Ketika Hillary Clinton kalah, walaupun unggul lebih dari 2 juta popular votes, dia langsung memberi selamat kepada Trump. Begitu pula kandidat Partai Republik, John McCain, kepada Obama.

Beberapa pertanyaan dari beberapa kawan adalah sebagai berikut:

Apakah upaya hukum Trump menggugat hasil pemilu bisa mengubah pemenang pilpres?

Presiden Trump memang sedang melakukan upaya hukum, menggugat hasil pemilu di beberapa negara bagian seperti Georgia, Pennsylvania, Arizona dsb. Gugatan itu harus dilakukan per negara bagian, karena begitulah konsekuensi negara federal.

Dengan begitu, Trump harus membuktikan bahwa terjadi kecurangan yang merugikan dirinya yang bisa mengubah hasil pemilu, negara bagian per negara bagian. Mengingat birokrasi penyelenggaraan pemilu Amerika yang sangat ketat dan akurat, by name by address, agak sulit kemungkinan ada perubahan yang signifikan.

Yang disasar oleh Trump sebenarnya adalah meminta pengadilan untuk membatalkan penghitungan suara lewat pos, yang didominasi oleh pendukung Biden. Tapi memilih melalui pos memang dibolehkan di Amerika. Dan Trump tidak bisa membatalkannya, karena itu bukan kewenangan Presiden. Lagi pula, Trump menang di Alaska karena suara lewat pos, yang tentu saja tidak digugatnya.

Memang di Georgia akan dilaksanakan perhitungan ulang, karena perbedaan hasil pemilu kurang dari setengah persen. Itu sudah merupakan aturan, digugat atau tidak. Dan kalau pun Trump memenangkan Georgia, walau kecil sekali kemungkinannya, itu pun tidak akan mempengaruhi hasil pemilu. Dengan kemenangan di Pennsylvania, Arizona, dan Nevada, Biden tetap mampu mencapai 270 electoral college tanpa Georgia.

Apakah ada kemungkinan Presiden Trump tetap tidak mengakui hasil pemilu dan menyatakan tidak bersedia meninggalkan Gedung Putih?

Tidak mungkin. Bulan Desember para elector yang terpilih dari ke 50 negara bagian akan bersidang untuk menegaskan pemenang pilpres. Jumlah electors dari Biden sudah melewati angka 270. Dengan demikian, Biden akan ditetapkan sebagai Presiden Amerika Serikat ke 46. Pelantikan Presiden akan dilakukan pada tanggal 20 Januari 2021.

Begitu presiden dan wakil presiden yang baru dilantik, pada saat itu Presiden baru berhak bertempat tinggal di Gedung Putih. Siapa pun yang tidak berhak untuk berada di Gedung Putih saat itu akan diusir oleh Secret Service (Paspampres-nya AS) yang bertugas mengamankan presiden AS.

Mengapa Amerika tetap mempertahankan sistem pemilu electoral college yang rumit seperti ini?

Ini memang hasil dari kesepakatan sejarah Amerika yang berbentuk negara federal. Pemilu adalah kewenangan negara bagian, bukan pemerintah pusat. Dan sistem electoral college ini menguntungkan negara bagian yang kecil dan menengah, karena suara mereka "diperhatikan" dan "diperebutkan' oleh para kandidat. Sebaliknya, sistem popular votes hanya akan menguntungkan negara bagian yang besar seperti California, New York, Texas dsb.

Di Senat AS, setiap negara bagian mempunyai jumlah senator yang sama, yaitu dua senator, besar maupun kecil. Walhasil, sampai sekarang electoral college tidak pernah bisa berubah, walaupun sudah dibeberkan begitu banyak kelemahannya. Makanya, Amerika adalah satu-satunya  negara di dunia yang menggunakan sistem electoral college ini.

Apakah terpilihnya Biden lebih menguntungkan Indonesia?

Tergantung bagaimana melihatnya. Tapi saya beranggapan positif. Kenapa? Jawabannya agak panjang, dan itu perlu satu artikel tersendiri.

Kalau soal Menteri Pertahanan? Sampai sekarang belum ada kabar lagi tentang hal itu.*

Andi Mallarangeng, doktor bidang ilmu politik lulusan Northern Illinois University.

Penulis : M. Anis

Bagikan artikel ini

Berita terkait:

27 Feb 2021 19:45 WIB

20 Tahun Tak Terbang, Pesawat Boeing 747 Ini Sengaja Dihancurkan

Internasional

Pesawat digunakan untuk pelatihan penyeldikan kecelakaan terbang.

27 Feb 2021 19:30 WIB

Sungai Legundi Rawan Banjir Kiriman dari Bromo

Jawa Timur

Walikota akan koordinasi dengan Jatim, karena sungai ini wilayah pemprov.

27 Feb 2021 19:15 WIB

Kabar Duka, Istri Emil Salim Tutup Usia

Nasional

Istri Emil, Roosminnie Roza tutup usia di RS Medistra.

Lihat semua

Topik Lainnya

Temukan topik menarik lainnya.

Tirto.ID
Loading...